Bermutu Setelah Berselimut

Bermutu Setelah Berselimut 1
Kebun pisang mas kirana di sentra Lumajang, Jawa Timur

Kebun pisang mas kirana di sentra Lumajang, Jawa Timur

Hasilkan pisang mas kirana 90% kelas A.

Shohibul Fatah tak main-main membudidayakan 620 tanaman pisang mas kirana di lahan 3,25 hektar. Pekebun di Desa Kampungtepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, itu membuang sisir paling bawah sepekan pascapembentukan buah kemudian membungkus seluruh tandan buah dengan karung beras. Keruan saja banyak pekebun pisang meledeknya. Lazimnya budidaya pisang konvensional hanya tanam, tanpa perawatan lalu panen. “Tanpa dirawat saja bisa laku, ngapain repot-repot membungkus buah,” kata Shohibul Fatah menirukan ledekan pekebun itu.

Menurut Shohib pembuangan sisir buah paling bawah jika buah rusak atau tidak normal, sehingga rugi jika merawatnya sampai panen. “Mending nutrisinya diserap buah yang masih sehat,” kata Shohib. Pembungkusan buah berfungsi mencegah serangan hama dan penyakit. Peneliti pisang dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika di Solok, Sumatera Barat, Drs Edison HS mengatakan, “Pembungkusan membuat buah pisang tetap mulus dan sehat, bermanfaat juga untuk mencegah hewan-hewan pemakan buah seperti kelelawar” kata Edison.

Pisang mas kirana kelas A lebih mudah dihasilkan dengan pembungkusan tandan

Pisang mas kirana kelas A lebih mudah dihasilkan dengan pembungkusan tandan

Mulus

Menurut Edison dengan membungkus buah, pisang terlindung dari serangga-serangga yang membawa bakteri Pseudomonas solanacearum, penyebab penyakit layu bakteri. Serangga-serangga itu seperti ngengat dan lebah. “Serangga membawa bakteri yang menempel di tubuhnya. Ketika hinggap di buah pisang bakteri itu tertinggal, berkembang, dan merusak tanaman,” ujar alumnus jurusan Biologi, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, itu.   Menurut Edison kerugian akibat serangan penyakit layu bakteri mencapai 100% alias gagal panen.

Selain terhindar dari serangan layu bakteri, kulit buah juga tetap bersih dari bercak-bercak kehitaman. Edison mengatakan bercak kehitaman itu berasal dari ngengat kudis Nacola ostasema. “Ngengat menyerang pisang dengan meletakkan telur di dalam buah sehingga buah menjadi rusak bahkan busuk,” tuturnya.

Jika serangan hanya pada kulit buah, maka yang terjadi kulit buah pisang akan muncul bercak-bercak kehitaman atau biasa disebut penyakit kudis atau burik. “Pengendalian hama itu bisa dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif profenovos dengan dosis sesuai di kemasan,” kata Edison. Penyemprotan dilakukan pada bunga yang baru mekar agar residu pestisida sudah hilang saat panen sehingga pisang aman dikonsumsi. Pekebun menuai pisang 3,5  bulan pascamekar bunga.

Baca juga:  Kanada-ASEAN Perkuat Hubungan

Menurut Edison hama lain yang membahayakan adalah penggerek batang Odoiporus longicolis. “Serangan penggerek batang menyebabkan tanaman pisang tumbang. Akibatnya tidak bisa panen,” kata Edison. Ciri serangan hama itu munculnya lubang di sepanjang batang semu. Pengendalian hama itu dengan menyuntikkan insektisida berbahan aktif profenovos pada batang tanaman dengan dosis penyemprotan sesuai kemasan.

Menurut petugas penyuluh lapangan Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Lili SP MMA, pekebun patut mewaspadai hama ulat penggulung daun Erionata thrax. “Kerugian serangan ulat penggulung daun bisa mencapai 70%,” kata Lili. Untuk mengatasi hama itu, cara efektif menurut Lili adalah pengontrolan kebun. “Jika didapati ulat tersebut muncul, harus segera dimusnahkan,” kata Lili.

Shohib memang membudidayakan pisang secara intensif. Ayah 1 anak itu memberikan pupuk 4 bulan sekali berupa pupuk kandang kambing dengan dosis 15 kg per tanaman. Muhammad Alianto, pekebun pisang mas kirana di Tirtoyudho, Kabupaten Malang, Jawa Timur, juga melakukan budidaya pisang mas kirana secara intnesif.

Pisang mas kirana kelas A, mulus, tanpa cacat

Pisang mas kirana kelas A, mulus, tanpa cacat

Grade

Selain membungkus dan menyeleksi buah, Alianto juga memberikan pupuk campuran NPK, SP-36 dan Phonska perbandingan 1 : 1 : 1. “Dosisnya segenggam per 3 bulan per tanaman,” kata Ali. Ia menaburkan pupuk itu disekeliling batang. Selain itu ia juga memangkas daun-daun tua setengah bulan sekali. Ali juga menyemprotkan insektisida berbahan aktif sipermetrin sebelum membungkus buah. Dosisnya sesuai yang tertera di kemasan.

Budidaya intensif menghasilkan pisang mas kirana berkualitas tinggi. “Jika perawatan intensif, 90% bisa masuk grade A,” kata Ali. Sebaliknya jika perawatan kurang intensif terutama soal pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit, bobot pisang bisa di bawah 800 g dan tidak mulus sehingga tak masuk grade A yang harganya jauh lebih tinggi dari grade B atau C.

Baca juga:  Dapur Organik

Menurut Rully Hardiansyah, manajer pengembangan, PT Sewu Segar Nusantara di Tangerang, Provinsi Banten, pihaknya hanya menerima pisang mas kirana dalam dua kelas. Kelas A berbobot di atas 800 g per sisir dengan toleransi kecacatan kulit maksimal 10%, tingkat kematangan 80%, dan bentuk sisir sempurna. Kelas B berbobot di atas 600 g dengan toleransi kecacatan kulit maksimal 15%, tingkat kematangan 80%, dan bentuk sisir toleransi maksimal 20%.

Lebih untung

Alianto dan Shohib memanen pisang mas kirana pada tingkat kematangan 70—80%, atau saat umur pisang sekitar 11 bulan pascatanam. Mereka menghasilkan pisang mas kirana berkualitas tinggi, yakni 80—90 % masuk kelas A.

Meski bermutu tinggi, biaya produksi relatif rendah. Menurut Shohib biaya produksi hanya Rp15.000—Rp20.000 per tanaman per tahun.  Biaya itu sudah termasuk, bibit, pupuk dan tenaga kerja, tanpa sewa lahan. Pada tahun kedua, ia tidak lagi mengeluarkan biaya untuk pembelian bibit karena mengandalkan anakan. Satu tanaman rata-rata memiliki 3 anakan. Biaya produksi mencapai Rp3.500 per tanaman.

Ditambah pembelian karung beras seharga Rp1.000 dan dapat dipakai 2—3 kali, sehingga biaya per tanaman mencapai Rp4.000. Menurut Shohib dengan total 620 tanaman, ia bisa memanen 20 tandan dari 20 batang atau 100 kg per minggu karena bobot per tandan mencapai 5—6 kg. Dari 100 kg, 94 kg masuk kelas A dengan harga Rp5.700 per kg, sementara sisanya 6 kg masuk kelas B (Rp3.000 per kg).

Keuntungan Shohib Rp553.800, dikurangi biaya produksi Rp4.000 per pohon maka keuntungan bersihnya Rp473.800. Pengalaman Shohib sebelum melakukan budidaya intensif, ia hanya mendapat pisang kelas A 60%, sisanya kelas B. Artinya ia hanya mendapat keuntungan bersih Rp382.000. Dengan budidaya intensif keuntungan Shohib bertambah Rp91.800 per pekan, dan lebih besar lagi jika jumlah pohon yang ia tanam lebih banyak. (Bondan Setyawan)

cover 1234.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x