Lumba-lumba berenang di samping perahu karena rasa ingin tahu.

Lumba-lumba berenang di samping perahu karena rasa ingin tahu.

Langit cerah dengan permukaan air laut beriak kecil. Abdullah—jurumudi sekaligus jurumesin—mengarahkan perahu berkapasitas 5 orang itu ke barat menjauhi pantai. Dalam hitungan menit, perahu itu keluar dari Teluk Kiluan, Provinsi Lampung, menuju perairan terbuka. Pulau Kiluan yang menjadi gerbang masuk ke teluk sudah terlewati. Ombak mulai menggoyangkan perahu mungil sepanjang 5 m itu.

Untuk menghalau terpaan gelombang dari samping, Abdullah dan semua nelayan Teluk Kiluan memasang cadik dari batang kayu atau bambu. Tujuannya agar perahu tidak mudah terbalik. Abdullah membuka penuh tuas gas. Mesin meraung keras dan alat transportasi itu melejit kencang, membuat percikan air kerap mendarat di wajah. Matahari mulai terasa menghangatkan tengkuk yang tidak tertutup jaket pelampung.

Gugusan kepulauan karang sepanjang Teluk Kiluan menjadi tempat istirahat lumba-lumba.

Gugusan kepulauan karang sepanjang Teluk Kiluan menjadi tempat istirahat lumba-lumba.

Sesekali perahu berpapasan dengan nelayan yang baru pulang mencari ikan. Abdullah mengarahkannya menjauhi gugusan karang di sisi selatan. Maklum, pulau karang sering kali mempunyai “kaki” yang menjulur menjauhi pantai. “Saat surut, karang itu terlihat. Tetapi begitu air pasang, dia tertutup. Makanya harus hati-hati, lebih baik di tengah sekalian,” kata pria asal Banten itu.

Selang 15 menit, tampak sebuah perahu lain berisi 5 orang, 2 di antaranya jurumudi dan pemandu. “Mereka juga wisatawan,” kata Stefanus Riko, tokoh masyarakat Desa Kiluan yang mendampingi Trubus. Tiba-tiba tampak sosok bergerak sekitar 50 m di belakang perahu itu. Sosok itu bermoncong panjang dengan kepala dan punggung hitam. Sebuah sirip segitiga mencuat di punggungnya.

Itu lumba-lumba spinner alias pelompat Stenella longirostris. Ia tidak sendirian, ada 3 ekor yang berenang mengikuti perahu itu. Abdullah melambatkan laju perahu. Setelah 3—4 kali muncul di permukaan air, mereka menyelam dan menghilang dari pandangan. Lumba-lumba pelompat memperoleh namanya dari gerakan melompat sambil berputar yang ia lakukan. Berikutnya tidak banyak kelompok lumba-lumba lain yang muncul sehingga Abdullah membelokkan perahu dan kembali memacu mesin.

Penginapan di Desa Kiluannagari selalu dipenuhi wisatawan pada akhir pekan.

Penginapan di Desa Kiluannagari selalu dipenuhi wisatawan pada akhir pekan.

Riko menunjuk sebuah pulau di kejauhan, yakni Krakatau. Itu berarti perahu mengarah ke tenggara menuju perairan Selat Sunda. Gelombang naik turun kembali memercikkan air, membuat sulit membedakan antara permukaan laut yang beriak dengan sirip lumba-lumba. Berselang 20 menit, perahu mencapai spot yang dijuluki Rawong. Mata Abdullah dan Riko yang lebih terlatih menangkap sirip lumba-lumba di permukaan air.

Selama 1 jam berikutnya perahu berputar-putar mengejar mamalia laut yang seolah menggoda itu. Lumba-lumba di alam sangat lincah dan cepat. Saat Trubus mencari di kejauhan, tiba-tiba anggota ordo Cetacean itu menyembul di samping perahu, muncul 3—4 kali lalu kembali menyelam. Beberapa menit kemudian, di kejauhan tampak lumba-lumba melompat tinggi, berputar di udara, dan menghilang lagi.

Gaya berenang kerabat paus karnivor Orcinus orca itu mengingatkan kepada gaya kupu-kupu juara dunia renang asal Amerika Serikat Michael Phelps. “Mereka berenang melawan arus agar mudah melompat,” kata Riko. Menurut ayah 2 anak itu, selain jenis pelompat, lumba-lumba yang kerap dijumpai di perairan sekitar Kiluan adalah hidung botol Tursiops truncatus. Lompatan hidung botol hanya lurus ke atas lalu kembali menyelam, tidak berputar seperti jenis pelompat.

Kelompok lumba-lumba bisa berisi puluhan individu. Lumba-lumba berkelompok untuk berburu mangsa.

Kelompok lumba-lumba bisa berisi puluhan individu. Lumba-lumba berkelompok untuk berburu mangsa.

Dunia sains belum mampu sepenuhnya menjelaskan penyebab lumba-lumba melompat. “Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa lumba-lumba melompat sebagai bagian dari cara mereka bermain. Sebagian lain menyatakan bahwa lompatan itu sebagai salah satu cara lumba-lumba menggiring kelompok ikan mangsa,” ungkap peneliti lumba-lumba di Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sekar Mira Cahyopeni MAppSc.

Baca juga:  Pioner Efervesen Temulawak

Kadang lumba-lumba melompat di dekat kapal atau perahu untuk memperoleh sudut pandang yang lebih baik. Menurut Mira, itu lantaran mereka adalah mamalia cerdas yang selalu ingin tahu. Salah satu ciri makhluk cerdas adalah gemar bermain (baca: “Fakta Pintar Hidung Botol” halaman 106—107). “Perilaku melompat pun bisa dianggap sebagai bagian bermain dengan saudara atau induknya,” kata Mira. Lumba-lumba berkelompok dalam jumlah dua sampai ratusan individu.

Jukung nelayan kerap difungsikan untuk wisata lumba-lumba.

Jukung nelayan kerap difungsikan untuk wisata lumba-lumba.

Kelompok kecil biasanya terdiri dari beberapa lumba-lumba betina yang bersaudara kandung dan anak-anak mereka. Lumba-lumba jantan akan memisahkan diri setelah dewasa dan membentuk kelompok dengan sesama jantan muda. Prof Richard Connor, ahli Biologi Laut dari Universitas Massachusetts, Amerika Serikat, yang meneliti lumba-lumba di Shark Bay Dolphin Project, Australia Barat, selama 30 tahun, menulis laporan A Novel Mammalian Social Structure in Indo-Pacific Bottlenose Dolphin (Tursiops sp): Complex Male Alliances in an Open Social Network.

Dalam laporan itu, Connor menyatakan ada 3 tingkat ikatan antarpejantan. Ikatan tingkat pertama terbentuk antara 2—3 jantan muda. Ikatan itu terbentuk biasanya untuk memenuhi hasrat seksual dengan cara mengawini betina dari kelompok lain secara bergantian. Sementara ikatan tingkat kedua melibatkan lebih banyak pejantan, 4—14 individu. Dengan jumlah sebanyak itu, kelompok itu kerap “menculik” betina dari kelompok lain untuk dijadikan anggota mereka.

 Stefanus Riko (berkaus merah), melestarikan perairan Kiluan demi lumba-lumba dan masyarakat.

Stefanus Riko (berkaus merah), melestarikan perairan Kiluan demi lumba-lumba dan masyarakat.

Ikatan tingkat pertama dan kedua akan mempertahankan anggota betina mereka dari gangguan kelompok lain. Sementara ikatan tingkat ketiga terbentuk ketika beberapa ikatan tingkat kedua bergabung untuk melawan kelompok lain. Connor menyebutkan bahwa ikatan tingkat ketiga bisa berisi puluhan individu jantan atau betina. Jantan melindungi betina ketika kelompok lain berusaha merebut si betina. Kelompok lumba-lumba jantan sangat dinamis, individu di dalamnya keluar-masuk berdasarkan kebutuhan masing-masing.

Namun, beberapa kelompok dengan ikatan tingkat kedua dapat bertahan sampai 16 tahun. Dalam riset yang berlangsung setiap Juli—November pada 2001—2006 itu, Connor mencatat bahwa lumba-lumba betina tidak terus-menerus berada dalam satu kelompok tertentu. Ia menghitung sedikitnya ada 65 individu betina subur yang berpindah dalam sedikitnya 3 kelompok. Hal itu berarti selama musim kawin, komposisi kelompok lumba-lumba berubah-ubah secara dinamis.

Warga Bandarlampung menjadikan Teluk Kiluan sebagai tujuan wisata.

Warga Bandarlampung menjadikan Teluk Kiluan sebagai tujuan wisata.

Connor membandingkan struktur sosial itu dengan primata dan gajah. Jantan muda simpanse Pan troglodytes juga membentuk kelompok yang sering kali beraksi seperti gangster, tetapi simpanse lebih ketat mempertahankan keanggotaan kelompoknya. Tidak ada betina yang bisa berpindah kelompok. Sementara gajah afrika Loxodonta africana merupakan kelompok matrilineal, artinya dipimpin betina dominan. Kelompok gajah itu biasanya terdiri dari beberapa ibu dan anak yang dipimpin oleh nenek mereka.

Gajah jantan muda dan dewasa biasanya hidup soliter alias menyendiri, kecuali pada musim kawin. Artinya, semua anggota kelompok itu berhubungan darah. Kelompok yang anggotanya tidak bersaudara biasanya terbentuk dari gajah yang terpisah dari kelompok utama karena berbagai sebab. Yang jelas, anggota kelompok akan berada dalam kelompok sampai pimpinan mereka mati.

Panorama di Desa Kiluannagari.

Panorama di Desa Kiluannagari.

Salah satu alasan lumba-lumba berkelompok adalah untuk berburu. “Mereka mampu berkoordinasi untuk mencari makan secara berkelompok,” kata Sekar Mira. Yang paling banyak diketahui adalah teknik menggiring kawanan ikan mendekati pantai berlumpur lalu berenang berputar mengelilingi kelompok ikan yang terjebak. Putaran itu semakin mengecil membentuk pusaran lumpur yang semakin sempit sehingga ikan terpaksa melompat untuk meloloskan diri.

Baca juga:  Duafa Berdaya di Kebun Naga

Ternyata ikan-ikan itu mendarat di mulut lumba-lumba yang menanti dengan mulut terbuka. Cara lain adalah “memadatkan” kelompok ikan dalam air menjadi bola raksasa. Setelah bola terbentuk, satu-persatu lumba-lumba menyerbu dengan mulut terbuka. Jenis makanan lain antara lain cumi-cumi, gurita, dan tukik penyu. Anggota famili Dolphinidae itu juga memangsa ikan pelagis yang tergolong jenis tangkapan komersial, seperti baronang, belanak, cakalang, kuro, japuh, atau tuna.

Lumba-lumba kerap mengikuti perahu atau kapal nelayan karena nelayan kerap melempar hasil tangkapan yang terlalu kecil kembali ke laut. Sebaliknya, “Nelayan menjadikan lumba-lumba sebagai penanda daerah yang banyak ikan,” kata Riko. Itu sebabnya limbur—sebutan nelayan Kiluan untuk lumba-lumba—menjadikan perairan sekitar Kiluan yang kaya ikan sebagai tempat berburu favorit.

Laguna, salah satu daya tarik Teluk Kiluan.

Laguna, salah satu daya tarik Teluk Kiluan.

Apalagi perairan sekitar Kiluan yang bertipe pantai karang dangkal menyediakan banyak tempat bagi lumba-lumba untuk beristirahat tanpa khawatir tertabrak kapal besar atau terjaring jala nelayan. Riko menduga lumba-lumba hadir di sana sejak dahulu, tetapi baru populer sejak 2010. Potensi perikanan tangkap perairan Kiluan diakui nelayan dari luar daerah. Pada sore hingga pagi hari, banyak nelayan dan kapal besar dari sekitar Lampung dan daerah lain memasang bagan, pursin, atau jaring rawai untuk menjaring ikan.

Sayangnya, lumba-lumba pun kadang ikut terjaring. Saat diangkat, biasanya mamalia laut itu keburu mati lemas karena begitu masuk jaring, ia tidak bisa muncul ke permukaan untuk bernapas. Sudah begitu, menurut Riko, beberapa nelayan kadang sengaja menangkap lumba-lumba lalu mencincangnya sebagai umpan untuk memancing ikan hiu. “Dalam semalam, bisa belasan sampai puluhan nelayan yang memasang bagan atau pursin di perairan Kiluan,” kata Riko.

Jika dibiarkan berlarut-larut, ikan pelagis di sana bakal menyusut sehingga lumba-lumba terpaksa mencari ikan ke tempat yang lebih jauh. Menurut Sekar Mira, lumba-lumba sejatinya tergolong makhluk residensial, artinya cenderung menetap di wilayah tertentu. “Kadang-kadang mereka juga bermigrasi, tapi tidak sejauh paus. Jika mangsa melimpah, mereka tidak tertarik melakukan migrasi,” kata master Jurusan Biologi Kelautan Universitas James Cook Australia itu.

Namun kalau kehabisan makanan, lumba-lumba akan memperluas daerah jelajah. Itu meningkatkan risiko mereka bersentuhan dengan aktivitas manusia, baik itu penangkapan ikan maupun lalu lintas laut. Hal serupa sudah terjadi terhadap populasi pesut mahakam Orcaella brevirostris. Peningkatan lalu lintas kapal pengangkut batubara di muara sungai Mahakam yang menjadi habitat pesut memaksa mereka pindah di daerah aliran sungai yang mendekati hulu.

Jalan penghubung Bandarlampung—Teluk Kiluan banyak yang memerlukan perbaikan.

Jalan penghubung Bandarlampung—Teluk Kiluan banyak yang memerlukan perbaikan.

“Padahal semakin ke hulu banyak polusi dari perkebunan maupun aktivitas rumah tangga. Akibatnya populasi pesut mahakam semakin menyusut,” ungkap Sekar Mira. Itu sebabnya Riko dan warga Dusun Bandung Jaya, Desa Kiluanagari, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus—perkampungan terdekat dengan Teluk Kiluan—membentuk kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) Rago Mufakat.

Pokmaswas bekerja sama dengan pemerintah desa dan aparat keamanan menegur bahkan mengusir kapal besar yang mencari ikan terlalu dekat dengan perairan Kiluan. Riko bukan bertindak tanpa dasar. Perairan Kiluan sudah ditetapkan sebagai suaka laut oleh Pemerintah Kabupaten Tanggamus. “Sekarang tinggal menunggu pengesahan dari Menteri Kelautan dan Perikanan,” kata pria berusia 46 tahun itu.

Maklum, kehadiran lumba-lumba menjadi berkah bagi masyarakat Kiluan. Pantai Kiluannagari kini dipenuhi penginapan sederhana yang mengandalkan wisata lumba-lumba sebagai daya tarik utama. “Setiap Sabtu—Minggu, tempat ini ramai didatangi wisatawan dari Bandarlampung,” kata Abdullah. Apalagi Kiluan juga mempunyai daya tarik lain, yaitu laguna di selatan desa.

Di pantai itu terdapat air laut yang terperangkap membentuk kolam sehingga wisatawan bisa berenang tanpa khawatir terseret ombak. Pendapatan dari wisata keruan saja lebih menarik ketimbang mengandalkan ikan hasil tangkapan. Setahun terakhir, Abdullah pun ikut merasakan kemajuan itu. Ia termasuk orang yang tidak rela kalau lumba-lumba meninggalkan Kiluan lantaran ketiadaan mangsa akibat penangkapan berlebih. Orang-orang seperti Riko dan Abdullah siap mempertahankan Kiluan sebagai surga bagi lumba-lumba dan masyarakat. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d