Berkebun Sayuran di Rumah Susun 1

Rumah susun sederhana sewa (rusunawa) makin hijau, penghuninya memperoleh tambahan pendapatan sejak menanam sayuran di polibag. Halaman rusunawa Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, kini nampak lebih asri dengan kegiatan pertanian perkotaan.

Sebanyak 300 tanaman cabai keriting dalam polibag yang sedang berbuah berderet rapi di halaman Blok H di rumah susun sewa (rusunawa) Daan Mogot, Jakarta Barat. Namun, sebagian besar buah yang muncul masih berwarna hijau. “Sebagian sudah dipanen,” tutur Heri Sadewa, penghuni blok H. Di sana juga terdapat deretan tanaman cabai rawit yang sedang berbuah dan beberapa di antaranya siap panen.

Menurut Sunardi Ranijan, warga rusunawa blok H, tanaman cabai dalam polibag itu sudah tiga kali panen. Namun, hasil panen belum memuaskan. Dari 300 tanaman cabai dalam polibag, total hasil panen baru 6 kg. Produktivitas cabai keriting rata-rata 0,8 kg per tanaman. “Rata-rata penghuni rusun adalah buruh, pedagang, dan tukang ojek, sehingga masih awam dalam bercocok tanam,” kata Sunardi.

Pertanian perkotaan

Selain tanaman cabai, di halaman Blok H juga terdapat 50 polibag tanaman terung dan 50 polibag tomat. Masih ada 800—1.000 tanaman sayuran daun seperti caisim, kangkung, pakcoy, selada, dan bayam, yang ditanam dengan teknik vertikultur atau sistem budidaya bertingkat. Satu set vertikultur terdiri dari 5 talang yang tersusun bertingkat. Sebuah talang sepanjang 1 meter dapat menampung 32—40 tanaman.

Penanaman aneka jenis sayuran itu bagian dari program pertanian perkotaan yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta dan Trubus. Dalam program itu seluruh blok di rusunawa Daan Mogot mendapat bantuan 300 polibag tanaman cabai, 50 polibag tanaman terung, 50 polibag tomat, dan 5 perangkat vertikultur. Mereka juga mendapat bantuan 18 set perangkat hidroponik dari Dinas Perumahan DKI Jakarta.

Baca juga:  Sosialisasi Program Urban Farming 2015

Menurut Heri setiap blok menyediakan lahan 1.000 m² untuk kegiatan pertanian perkotaan. “Lahan itu sebelumnya masih terbengkalai. Namun, kini lebih asri dengan adanya beragam tanaman,” kata Heri. Dengan adanya program itu penghuni rusunawa memiliki kegiatan tambahan yang positif. Sebanyak 10 orang dari setiap blok bertugas merawat tanaman secara bergantian.

Ingin berlanjut

Program pertanian perkotaan dimulai pada Januari 2016 itu kini membuahkan hasil. Hasil panen sebagian tanaman sayuran memang belum optimal. Dari tiga kali panen baru menghasilkan 15 kg terung dan 12,2 kg sayuran daun. “Tomat di blok H seluruhnya mati karena pemeliharaannya kurang,” kata Sunardi. Hasil serupa juga terjadi di blok I. Menurut Muhamad Sakti, penyelia program pertanian perkotaan di rusunawa Daan Mogot, total hasil panen sayuran yang diperoleh di blok I hingga 12 kg.

Kader PKK rt 008 rw 03 Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, melanjutkan kegiatan pertanian perkotaan dengan menyemai sayuran di rak vertikultur.
Kader PKK rt 008 rw 03 Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jak-Bar, melanjutkan kegiatan pertanian perkotaan dengan menyemai sayuran di rak vertikultur

Meski hasilnya belum optimal, Sunardi dan Heri berharap kegiatan itu tetap berlanjut. “Mungkin jika mengejar keuntungan dari materi masih belum bisa. Namun, minimal untuk memenuhi kebutuhan warga rusun masih bisa,” kata Sunardi. Pria asli Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu menambahkan, kendala selama melakukan program itu adalah minimnya pengalaman dan pengetahuan dalam bertani.

Selain itu, suhu udara sekitar rusun yang relatif panas menyebabkan tanaman kering dan mati jika tidak dilakukan pemeliharaan secara rutin. Kegitan pertanian perkotaan juga berlangsung di lingkungan RT 008 RW 03 Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Program itu diikuti para kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.

Menurut Sri Martini, warga setempat, “Sebelum adanya program ini kegiatan kami hanya aktif di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan mengelola pendidikan anak usia dini (PAUD) sehingga perlu belajar lagi untuk bertani,” katanya. Kegiatan pertanian perkotaan itu menggunakan bekas lahan telantar seluas 15 m x 20 m. “Ini adalah kegiatan lanjutan program kerja sama Bank Indonesia, Trubus, dan PKK, yang diselenggarakan setahun lalu” kata Sri.

Baca juga:  Urban Farming Bank Indonesia-Trubus-PKK

Namun, Sri dan kelompoknya menanam komoditas berbeda. “Kami sekarang tidak ditarget, hanya menanam sebisanya. Saat ini kami juga menanam tomat dan terung,” kata Sri. Menurut Sri hasil panen selama adanya program kegiatan dari BI, Trubus, dan PKK hingga saat ini mencapai 252 kg sayuran. “Untuk menanam cabai kami belum optimal. Namun, jenis sayuran lain tumbuh subur,” kata penanggung jawab kelompok tani itu.

Bahan organik

Menurut Sri masalah yang dihadapi dalam pertanian perkotaan cukup kompleks. “Tempat dan ketersediaan air yang terbatas menjadi kendala utama,” tuturnya. Sebelumnya kelompok itu pernah melakukan kegiatan pertanian perkotaan pada 1987. Ketika itu yang ditanam berupa bayam, kangkung, dan singkong. Kegiatan itu juga pernah dikunjungi wakil presiden saat itu, yaitu Umar Wirahadikusumah. “Kondisi sekarang berbeda, kendalanya lebih banyak,” katanya.

Susana kebun di Rusunawa Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur.
Susana kebun di Rusunawa Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur.

Meski banyak kendala, kelompok tani di RT 008 RW 03, Kelurahan Pegadungan, itu bertekad terus melanjutkan kegiatan pertanian di perkotaan. “Berbagai dampak positif telah kami rasakan. Pengalaman yang didapat lebih banyak, kebutuhan keluarga terpenuhi dan mendapat profit tambahan,” tutur Sri. Dampak positif lain semakin banyak warga setempat yang melakukan kegiatan serupa.Warga menanam sayuran di polibag di halaman rumah masing-masing. Selain itu, sekolah dasar setempat pun ikut menanam sayuran di polibag karena terinspirasi dari kegiatan para kader PKK. Menurut dosen matakuliah Jurusan Agroteknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Dr Cecep Hidayat MP, penanaman sayuran polibag dan vertikultur salah satu cara untuk memanfaatkan lahan sempit di kota.

Namun, dalam polibag unsur hara yang tersedia terbatas sehingga bisa jadi hasil panen lebih rendah dibandingkan dengan di lahan. “Dengan penambahan bahan organik, media bisa dipakai 2-3 kali untuk tanaman semusim. Jika ditambah dengan pupuk hayati atau mikrob, hasilnya akan lebih baik,” kata Cecep.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *