Berkah Vulkanis 1

Di Jawa kawah aktif hampir selalu terletak di elevasi lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl), kecuali Gunung Kelud di ketinggian 1.150 m dpl dan Gunung Lamongan (1.600 m  dpl).” Begitu kata CGGJ van Steenis dalam bukunya “The Mountain Flora of Java” atau “Flora Pegunungan Jawa.”  Cornelis Gijsbert GJ van Stenis (1901—1986) bertugas di Kebun Raya Bogor antara 1927—1949. Selama itu ia rajin mengunjungi berbagai gunung berapi dan mengadakan inventarisasi tumbuh-tumbuhan. Paling sedikit 456 spesies tumbuhan gunung diuraikannya dengan teliti.

Mungkin karena belum ada alat fotografi yang bagus, ia dibantu dua orang pelukis botani,  Amir Hamzah dan Moehamad Toha. Semua telah wafat, dan mewariskan buku indah, dilengkapi 57 lukisan berwarna.

Apa yang menarik? Setiap kali gunung meletus, awan panas menerjang, hujan abu, kerikil, bahkan batu meluluh-lantakkan kehidupan. Ketika gunung berapi meletus, semua yang terlewati terancam mati. Alam semesta gelap, kelabu. Dan Gunung Kelud yang paling pendek itu memuntahkan 200 juta meter kubik abu setinggi 17 km ke angkasa.

Pulang gunung

Separuh dari Pulau Jawa disapunya—kelut dalam bahasa Jawa artinya memang sapu. Tujuh bandara terpaksa ditutup. Candi Borobudur pun harus diselamatkan dari guyuran abu vulkanik yang bisa mengeras bila terkena air. Gunung Kelud mengirim muntahan abu itu sampai ke Surabaya, Surakarta, Yogyakarta, bahkan Bandung.  Namun, bukan itu yang menarik. Hanya dalam hitungan bulan, semua akan kembali hijau. Merapi pun begitu. Saya menangis terisak-isak, di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, melihat kebun salak pondoh, ladang-ladang bersimbah abu yang menjadi lumpur.

Bahkan pohon kelapa jadi seperti penari hula-hula yang baru terjatuh ke dalam got. Semua berselimut abu. Segalanya seperti sudah tamat—menyesakkan. Mengimpit dada, karena memang masih pakai masker dan desa-desa mati ditinggal mengungsi warganya.  Namun, dalam hitungan hari, debu dan pasir dikumpulkan berkarung-karung, bertruk-truk untuk bahan membangun jembatan. Tanaman kembali bertunas, bahkan lebih subur. Di daerah hamparan pasir muncul jenis rumputan baru.  Rumputan itulah yang paling cocok untuk kambing, domba, dan sapi.

Padahal, beberapa saat sebelumnya, ternak itulah yang paling menyibukkan di pengungsian. Rumput harus dicari berkilometer-kilometer jauhnya, sementara air minum pun tercemar. Kerugian para petani di Merapi, Sinabung, Kelud, dan dua lusin gunung berapi lainnya bisa bermiliar-miliar.  Kebun jeruk, kentang, sayur-mayur, dan aneka buah-buahan lain hancur berantakan. Korban nyawa dan ternak pun sering tidak terhitung lagi.  Namun, mengapa belum sampai setahun, dusun-dusun di lereng gunung itu menjadi padat penduduk lagi?

Baca juga:  Jagoan Serap Racun

Segera kita jumpai petani gembira, memanen kentang Solanum tuberosum  di tanah vulkanis seperti di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.  Tanah andosol terdapat di lereng-lereng gunung api, seperti di daerah Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera, dan Minahasa. Kentang hanyalah satu di antara tumbuhan pendatang yang mengundang warga pulang ke gunung apinya. Lainnya ada tomat, sawi, lobak, ubi jalar, terung, buncis, kol, dan aneka macam sayur lain. Itulah yang paling diratapi juga ketika si gunung berapi mengamuk – dan jumlahnya lebih dari 24 yang berstatus waspada.

Aneka bunga

Vegetasi yang tumbuh di tanah andosol adalah hutan hujan tropis, bambu, rumput, dan aneka macam bunga.  Franz Wilhelm Junghun, pada 1851 menulis, “Jelas sekali saya ingat hutan-hutan yang berpanorama hijau abadi, dengan beribu bunga yang harumnya tak pernah pudar.”  Dengan empat jilid bukunya yang komplet tentang tanaman, dia juga terkenal paling bersemangat mendaki gunung di Jawa.  Ia mencintai gunung, hingga akhir hayatnya di Lembang, 1864, tepat 150 tahun silam. Dia juga meninggalkan herbarium yang amat lengkap.

Jauh sebelum itu, kita mengenal Caspar G.C. Reinwardt (1773—1854) yang mendirikan Kebun Raya Cibodas di ketinggian 1.450 meter. Reinwardt dikenal mendaki banyak gunung di Jawa Barat, dan mengamati Gunung Guntur yang meletus dahsyat pada 1817.  Namanya diabadikan menjadi Reinwardtia, jurnal Herbarium Bogor. Penggantinya sebagai penerus Kebun Raya adalah Carl Ludwig Blume (1796—1862). Dia mencermati gunung-gunung Salak, Gede, Burangrang, Parang, Tangkuban Parahu, dan Ciremai. Dokter medis asli Jerman itu menerbitkan buku bergambar “Flora Javae”, tiga jilid. Itulah hasil kerjanya antara tahun 1828—1851.

Singkat kata produk pegunungan, khususnya gunung berapi, sudah lama menarik perhatian dunia, selain menghidupi masyarakat setempat.  Tanaman pakis – jenis paku-pakuan yang dapat tumbuh hingga di tepi kawah, aneka macam jamur, adalah bahan konsumsi sampai sekarang.  Adapun produk turunan dari bunga-bungaan adalah bermacam madu dan macam-macam khasiatnya. Bermacam bunga dan kupu-kupu serta tanaman obat-obatan. Sampai sekarang, kecintaan pada flora dilanjutkan oleh para pencinta alam. Direktur Peduli Karnivor Jawa, Didik Raharyono sehari-hari adalah pemasok bibit tanaman. ”Untuk daerah vulkanis yang paling cocok avokad, pamelo, kesemek, jambu-biji, dan salak,” katanya.

Jadi tidak mengherankan kalau daerah vulkanis senantiasa dikenal sebagai sentra buah. Ada lengkeng, kawista, rambutan, durian.  Bahkan, termasuk introduksi baru seperti buah naga, pir, apel, dan campolai yang dibuat sirop. Kalau jatuhnya pasir dan abu di dataran rendah pun, fungsinya tetap menyuburkan, bahkan merevitalisasi kesehatan tanah.  Oleh karena itu daerah pesisir yang diperkaya oleh abu vulkanis juga kaya dengan sayur-mayur. Khusus untuk daerah seputar Gunung Kelud, saya terkesan oleh ladang yute atau rami, yang dipakai bahan goni.

Baca juga:  Kopi Sebelum Olahraga

Kota bunga

Selain itu adalah hamparan kebun nanas.  Hasil utama lainnya adalah bambu-bambuan dan rumput yang mendatangkan sapi perah, domba penghasil wol, peternakan anjing, unggas, dan kuda. Belum lagi tanaman yang lebih terkait dengan pentingnya elevasi. Misalnya  kopi mulai dari 200 meter, teh di seputar 600 meter, dan kina di atas 800 meter. Lebih dari itu adalah bunga-bungaan. Bermacam bunga yang paling indah hanya datang dari lereng pegunungan. Itulah sebabnya hampir semua kota di pegunungan bangga menjadi kota bunga.  Mulai dari Berastagi, Provinsi Sumatera Utara, Bandung (Jawa Barat), Malang (Jawa Timur), Tomohon (Sulawesi Utara), dan Bandungan (Jawa Tengah).

Mengapa letusan gunung berapi ini penting dan membuat tumbuhan lebih subur daripada biasanya? Pertama, letusan gunung berapi mengandung belerang yang memberantas bermacam hama, terutama ulat dan bermacam serangga yang merusak tanaman.  Jadi fungsinya menyehatkan lingkungan. Kedua, kandungan mineral yang kaya terutama elemen mikro seperti tembaga, besi, dan silika yang berperan memasok unsur hara pada tumbuhan.  Abu vulkanik mempermudah kerja akar dalam menyerap makanan. Ketiga, permukaan tanah yang dilapisi abu menjadi sangat kaya bermacam mineral yang menumbuhkan beragam rumput, bunga, terutama lantana yang juga disebut saliyara. Bunga liar itu sekarang banyak ditanam, bahkan di perumahan paling mewah.

Seorang pengamat Gunung Kelud, E.W. Clason, yang datang setelah letusan dahsyat pada 1919, sangat terperanjat, melihat lautan pasir curahan lahar berubah menjadi hamparan bunga, seolah-olah sengaja bibitnya ditabur dari langit.  Itulah yang boleh ditunggu, setelah pengungsi kembali ke desa mereka. Setelah lebih lama, gunung akan kembali dihiasi hutan cemara di kakinya, hingga bunga edelweiss jawa  Anaphalis javanica, seperti yang kita saksikan di tepi lautan pasir Gunung Gede Pangrango.  Berkah vulkanis akan terus tercurah sepanjang zaman, selama gunung-gunung masih selalu diwaspadai, di kawasan Lingkaran Api, tanah tumpah darah kita tercinta.***

Gunung berapi, abunya menyuburkan tanah

Gunung berapi, abunya menyuburkan tanah

*) Kolumnis Trubus, alumni Leadership for Environment And Development (LEAD International), pemenang hadiah Ashoka, innovator for the public.

Gunung berapi, abunya menyuburkan tanah

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments