Berkah Ruminansia 1
Eka Budianta

Eka Budianta

Sejak kecil saya dilatih untuk memelihara kambing dan domba di pinggir kota. Namun, tidak tahu ada 11 macam domba dan 13 macam kambing di seputar kita. Maklum, hingga 1970-an ternak kambing terbatas, kecil-kecilan.  Rumput dan daun-daun kami peroleh di seputar rumah. Ada kalanya mendapat limpahan dari taman kota, pagar, dan kebun sekolah maupun taman bahagia.

Sekarang, tahun 2018, kebutuhan daging kambing dan domba makin besar. Peternakan pun berkembang dalam skala industri. Pengiriman domba dan kambing makin maju dengan kereta api. Peternakan domba merino di Yogyakarta membagi domba-domba dalam berbagai kategori, menurut kualitas, bobot, maupun harga. Merino adalah domba pedaging unggulan. Ada paket yang ekonomis 50 ekor untuk luar Jawa. Ada pejantan monster, merino standar, dan merino super.

Susu domba

Harga kambing pun bervariasi dari Rp3 juta untuk cempe atau anakan kambing, sampai di atas Rp10 juta per ekor. Katalog berbagai tawaran kambing dan domba mudah diunduh dan dipesan langsung secara daring atau online. Pelatihan budidaya domba juga terbuka untuk umum dengan biaya Rp1 juta per orang. Latihan berternak itu penting, untuk mendapat informasi yang benar dan bimbingan yang terarah. Terutama dalam pelaksanaannya di lapangan.

Beruntung, kini ada lembaga pendukung peternakan kambing. Di antaranya Rumah Zakat dan sejumlah program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Asuransi peternakan pun sudah mulai diperkenalkan. Dengan begitu, masalah penyediaan daging kambing dan domba berjalan di jalur yang benar. Susu kambing terbukti juga ikut meningkatkan penghasilan. Seorang peternak kambing di Kecamatan Batanghari, Lampung Timur, mampu menambah koceknya antara Rp2 juta—Rp5 juta per bulan.

Setiap hari kambing etawa yang peliharaannya menghasilkan antara 2—6 liter susu. Tidak mengherankan bila kecamatan itu menargetkan populasi kambing mencapai 5.000 ekor dalam waktu dekat. Yang tidak kurang pentingnya adalah “melek  produk” domba dan kambing. Peternakan kambing tidak hanya menghasilkan satai, gulai, dan tongseng. Susu kambing dengan rasa cokelat, vanila, dan stroberi pun kini tersedia di apotek terdekat.

Artinya, bermacam hasil budidaya kambing juga mendapat perhatian. Jangan salah, susu domba bukan hanya menyehatkan badan. Produk paling banyak justru untuk kosmetik, sarana kecantikan. Manfaatnya yang utama adalah sebagai sabun pencerah kulit, lulur dan lotion – pelembab. Di sini para peternak milenial bisa berperan. Dalam banyak contoh di beberapa daerah, promosi produk susu domba mulai meningkat. Indikatornya maraknya iklan lulur susu domba yang juga dikenal sebagai lotion susu domba dalam berjenis paket.

Baca juga:  Hyacinth Hiasi Halaman

Sementara itu paket susu domba berisikan lulur, lotion (untuk malam atau siang), sabun, dan produk lainnya juga diminati.  Terbukti telah muncul laporan tentang adanya produk palsu yang harus diwaspadai. Dengan singkat, keterampilan memanfaatkan produk domba mulai berkembang dan mendapat pasar yang baik. Domba memang sudah didatangkan sejak tahun 1700-an ke Indonesia oleh Belanda.

Diawali dari gibas  atau donggala berekor tebal dari Persia. Domba itu disukai karena penghasil wol yang tebal. Namun, di Jawa Barat ada domba garut yang lebih mahal karena berfungsi sebagai satwa hias dan aduan.  Aslinya adalah hasil persilangan domba setempat Ovis aries dan domba capstaad dari Afrika Selatan dan merino dari Australia. Kini dikenal sebagai domba priyangan.

Di Jawa Tengah ada domba wonosobo Texel dombos yang merupakan perkembangan merino dari Belanda pada pertengahan abad silam. Texel cocok hidup di daerah pegunungan baik sebagai domba pedaging maupun penghasil wol. Jadi, jangan heran kalau mendapat cendera mata wol dari Wonosobo dan mendapat kiriman daging domba yang lezat.  Pertumbuhan ternak domba di sana boleh dibilang cukup menggembirakan.

Sinergi dengan perkebunan

Mengenai 13 macam kambing yang hidup dari Aceh sampai Nusa Tenggara juga sudah kita kenal manfaat dan jasanya.  Susu kambing cair kini dihargai Rp30.000—Rp40.000 per liter. Adapun harga susu kambing bubuk di atas Rp100.000 setiap kilogram. Peternakan kambing PE atau peranakan etawa menjadi sangat populer sejak 1980-an. Kini dapat kita saksikan dengan berkembangnya penyediaan aneka pakan kambing.  Mulai dari konsentrat dari pabrik, sampai jerami untuk difermentasi, kedelai, rumput kalanjana sampai garam dan tetes tebu.

Trubus Juni 2018 Highrest.pdf

Domba garut sebagai domba hias, hasil perkawinan domba lokal dan merino.

Satu mobil pikap hijauan untuk kambing dijual antara Rp200.000—RpRp350.000. Setelah dicacah dan difermentasi dalam plastik kedap udara minimal 3 hari, bisa menjadi pakan untuk 20 kambing. Pasokan pakan dan kebersihan kandang sangat penting, bagi kambing PE yang juga dikenal sebagai jamnapari. Perawatan intentensif diperlukan pada saat musim hujan. Jangan sampai kambing diberi minum air sembarangan.

Baca juga:  Terarium Perekat Cinta

“Kini para ada peternak yang sudah membangun kandang permanen dengan lantai beton,” kata Winarno, konsultan peternakan kambing Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Sejak 2016 Winarno juga diangkat Pemerintah Provinsi Lampung menjadi anggota Tim Percepatan Pembangunan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (TP4K). Ia berkeyakinan, peternakan kambing dengan skala yang tepat dapat membantu penghasilan pekebun.

Terutama saat harga karet dan kelapa sawit menurun. Selain PE dari India, jenis yang juga disukai adalah saanen dari Swiss. Lebih dari itu, kini keterampilan mengelola kambing dan domba sudah sangat bagus. Beberapa kandang yang sehat di Yogyakarta dan Purworejo, Jawa Tengah, bahkan menjadi sarana pendidikan dan agrowisata.  Sentra pelatihan ternak kambing yang Bayu 78 Farm Yogya bahkan mempunyai program pelatihan reguler yang bisa diakses siapa saja.

Susu keledai

Kemajuan bangsa Indonesia memang tidak terlepas dari budidaya domba dan kambing.  Setidaknya setiap hari Idul Adha kebutuhan meningkat drastis. Juga untuk akikah yang makin diminati dari tahun ke tahun. Jadi jangan heran kalau presiden juga memberi contoh memelihara kambing dan domba di istana. Kesempatan untuk memajukan jenis kambing lokal pun  kian terbuka. Di antaranya kambing jawarandu, kambing muara dari Sumatera Utara, dan kambing marica dari Sulawesi Selatan.

Yang tidak kurang menariknya adalah upaya mengenalkan ruminansia baru. Di Italia Selatan  saya melihat 70 keledai siap dikirim ke Indonesia.  Rupanya introduksi ternak satwa kita terus bergerak maju. Setelah kuda, domba, dan bermacam sapi perah maupun pedaging, kini didatangkan juga keledai.  Kita tunggu saja, apakah dalam kurun 10—20 tahun lagi Jawa Timur akan menjadi sentra keledai yang juga dimanfaatkan susunya.***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik jababeka, Cikarang

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *