Berkah Negeri Cincin Api

Berkah Negeri Cincin Api 1
Ir Yos Sutiyoso

Ir Yos Sutiyoso

Gunung Kelud di Jawa Timur dan Gunung Sinabung, Sumatera Utara, beberapa bulan lalu erupsi. Letusan gunung api menghasilkan jutaan ton debu vulkanis yang tersebar mengelilinginya. Bahkan, terbawa angin hingga jarak jauh. Debu vulkanis itu mengandung sulfur. Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, misalnya, letusan Gunung Gede pada 1947 menyebarkan debu vulkanis hingga ke seluruh Cianjur. Akibatnya, terbentuklah sentra sayuran di Puncak, Cipanas, Sindanglaya, dan Pacet—semua di Kabupaten Cianjur.

Sentra sayuran lain di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, tidak jauh berbeda. Di daerah itu dahulu muncul warna kuning di dasar dan lereng kawah Ratu, Gunung Tangkubanparahu. Itu adalah sulfur dari fumarole dan sulfatar atau lubang kepundan gunung yang sedang aktif. Letusan gunung itu menyebarkan sulfur ke daerah sekitarnya.

Letusan gunung api menghasilkan jutaan ton debu vulkanis yang mengandung sulfur

Letusan gunung api menghasilkan jutaan ton debu vulkanis yang mengandung sulfur

Sulfur atau yang lebih dikenal dengan belerang berperan penting dalam fisiologi tanaman. Asam amino—bahan dasar pembentukan protein—bila disintesiskan dengan sulfur menjadi protein yang menjadi dasar pembentukan sitoplasma dalam sel. Sulfur juga komponen dalam pembentukan vitamin dan enzim. Keberadaan sulfur juga diperlukan untuk pembuatan kloroplas ketika membentuk klorofil.

Dekat gunung

Sentra sayuran di Indonesia pada umumnya memang berkembang di lereng atau kaki pegunungan vulkanis yang terletak di dataran tinggi. Di Jawa Barat, misalnya, sentra sayuran terdapat di Cipanas, Lembang, dan Pangalengan. Jawa Tengah ada di Kopeng, Wonosobo, dan Dieng. Sementara Jawa Timur, Batu, Ijen, dan Pandaan. Di luar Pulau Jawa, seperti Pulau Sumatera, sentra sayuran berkembang di dataran tinggi Gayo (Aceh); Kabanjahe, Berastagi, Tanahkaro, dan Simalungun (Sumatera Utara).

Sentra lain sayuran, Meranti (Riau); Tanjungjabung (Jambi); Payakumbuh, Bukittinggi, dan Tanahdatar (Sumatera Barat); Pagaralam (Sumatera Selatan); serta Tanggamus dan Lampung Barat (Lampung). Sentra sayuran di Bali, terdapat di Tabanan. Lahan di lereng vulkanis memiliki deposit debu vulkanis cukup tebal sehingga terjamin kaya sulfur. Oleh karena itu meski berkali-kali penanaman sayuran pada setiap tahun dan sedikit sekali limbah dikembalikan ke lahan, daya dukung tanah terhadap produksi tetap tinggi.

Baca juga:  Pepaya Baru Habis Sekali Santap

Tanah yang sedikit terkontaminasi penyakit cendawan, bakteri, dan virus karena sterilisasi tingginya debu vulkanis juga menyebabkan risiko serangan penyakit menurun. Debu vulkanis menjadikan tanah gembur sehingga pengerjaan lahan ringan, pemberantasan gulma mudah, dan panen lancar. Tanah gembur memiliki aerasi dan drainase baik, akar mudah tumbuh, memanjang, dan bercabang. Efeknya efisiensi penyerapan air dan hara lebih lancar.

 

Lahan di lereng vulkanis memiliki deposit debu vulkanis cukup tebal sehingga terjamin kaya sulfur

Lahan di lereng vulkanis memiliki deposit debu vulkanis cukup tebal sehingga terjamin kaya sulfur

Minyak asiri

Sulfur juga merupakan unsur inti minyak asiri (aetheric oil). Dalam bentuk uap, sulfur merangsang saraf manusia di dalam hidung yang disebut aroma. Misalnya ubijalar cilembu yang responsif terhadap kehadiran sulfur terkenal memiliki aroma wangi saat disantap hangat. Itu berkat sulfur dari Gunung Tampomas. Kangkung yang ditanam di lereng vulkanis memiliki aroma harum. Kangkung lombok, misalnya, terkenal di beberapa restoran di Bali dan Jakarta. Di daerah asalnya, kangkung ditanam di lereng Gunung Rinjani. Sama seperi kangkung sibayak yang laris dijual di Medan. Ia berasal dari kaki Gunung Sibayak.

Suatu ketika Sudibyo Karsono, perancang kit hidroponik di Parung Farm, Bogor, Jawa Barat, menanyakan apakah bisa meramu pupuk hidroponik sehingga dihasilkan kangkung yang dapat menandingi kangkung sibayak? Jawabannya, bisa. Caranya melalui pupuk campuran A-B. Pada konsentrat pupuk A dan pupuk B pemberian sulfur ditingkatkan hingga 200 ppm. Pupuk atau bahan kimia organis sumber sulfat seperti amonium sulfat (NH4)2SO4, kalium sulfat K2SO4, dan magnesium sulfat MgSO4.7H2O.

Dengan pemberian sulfat melimpah, aroma kangkung sibayak tercipta di Parung, Bogor, Jawa Barat. Kelebihan lain, kuah sayur kangkung bening, tidak kusam sebagaimana kangkung biasanya. Kerenyahan juga tinggi dan potongan batang tidak berserat. Selain ditanam di daerah yang kaya sulfur, sentra sayuran itu juga berkembang di dataran tinggi. Ketinggian rata-rata di atas 1.000 m di atas permukaan laut (dpl). Tak jarang mencapai 1.500 m dpl. Ketinggian itu berpengaruh pada suhu udara sehingga suhu optimal 250C. Pada suhu itu fotosintesis karbohidrat tinggi, sedangkan respirasi rendah. Akibatnya, pertumbuhan tanaman pesat.

Baca juga:  Malaria Tertusuk Duri

Pada suhu itu, air memiliki nilai oksigen terlarut sekitar 8 ppm. Angka itu baik sekali menunjang respirasi tanaman. Apalagi bila suhu bisa turun menjadi 200C, konsentrasi oksigen terlarut meningkat menjadi 10 ppm dan respirasi meningkat pula. Energi hasil respirasi digunakan untuk menyerap air dan hara dari media dan mendorong ke tajuk tanaman.

Unsur atau ion berat pun dapat terdorong ke atas. Seperti anion nitrat NO3- yang yang beratnya 62, anion sulfat SO4 92, dan anion PO4 95. Kation berat misalnya K=39, Ca=40, dan unsur mikro besi, mangan, tembaga, seng, semuanya masuk kelas berat. Karena semua unsur terserap lengkap, maka tanaman yang terbentuk mendekati kesempurnaan dalam kualitas, penampilan, ukuran, rasa, dan aroma.***

*) Ir Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x