Berjibaku Buka Pasar 1
Sayuran hidroponik cukup diminati konsumen bila pekebun mengetahui cara pemasaran yang tepat

Sayuran hidroponik cukup diminati konsumen bila pekebun mengetahui cara pemasaran yang tepat

Beragam strategi memasarkan sayuran hidroponik.

Pemandangan tak biasa tampak di depan sebuah pusat perbelanjaan di Surakarta, Jawa Tengah, pada pertengahan 2013. Sebuah bangunan terbuat dari instalasi pipa yang tersusun simetris dan cantik berisi selada-selada segar menghiasi halaman toko itu. Keruan saja para pengunjung penasaran dan menghampirinya. Andi Wibowo yang memiliki ide brilian itu kebanjiran pengunjung.

“Jual sayuran ya Mas, segar sekali ya?” tanya pengunjung itu. “Iya Bu. Ini hidroponik sayurannya masih ‘hidup’, sehingga masih sangat segar. Seladanya juga bisa ditanam lagi, karena masih ada akarnya,” jawab alumnus Institut Teknologi Bandung itu. Saat itu Andi baru saja memulai berkebun sayuran hidroponik, komoditas baru di Surakarta. Begitulah cara Andi Wibowo membuka pasar sayuran hidroponik dan jitu. Satu per satu selada terjual dan sayuran itu memasyarakat di Surakarta.

Kemasan cantik meningkatkan minat konsumen

Kemasan cantik meningkatkan minat konsumen

Perkenalan
Para pekebun sayuran hidroponik menerapkan beragam cara ketika mulai membuka pasar. Bertha Suranto, pekebun hidroponik di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, malah mendatangi para calon konsumen. “Gengsi dan malu harus dibuang jauh-jauh,” ujarnya. Pada 2011, Bertha tak segan untuk datang ke hotel-hotel dan menemui juru masak secara langsung.

Untuk meyakinkan konsumen bahwa sayurannya adalah produk hidroponik, ia membawanya dengan kondisi masih tertanam di dalam stater kit berukuran 50 cm x 30 cm terdiri atas 12 lubang tanam. Bertha membawa 2—3 stater kit dengan jenis sayur berbeda. “Saya sengaja membawa dengan stater kit agar mereka yakin sayuran yang saya bawa benar-benar ditanam secara hidroponik,” katanya.

Dengan cara itu ia bukan hanya menjual sayuran hasil kebunnya. Ia pun jadi kebanjiran pesanan stater kit hidroponik. “Banyak karyawan hotel yang justru bertanya karena penasaran,” ujar Bertha. Bahkan tim survei sebuah hotel di Yogyakarta sengaja datang ke kebunnya untuk belajar secara langsung cara budidaya sayuran hidroponik.

Kusuma Agrowisata, di Batu, Jawa Timur juga punya trik khusus mempromosikan sayuran berkelas itu. Menurut koordinator lapangan hidroponik, Muhammad Abdurochim, pemasaran sayuran itu dengan memajangnya di dekat pintu masuk agro wisata. Pada saat-saat tertentu sayuran hidroponik dijual sepaket dengan tiket masuk.

 M Rizki Maulana, manajer pemasaran Parung Farm, “Puncak penjualan sayuran hidroponik di pasar swalayan pada Kamis dan Jumat"

M Rizki Maulana, manajer pemasaran Parung Farm, “Puncak penjualan sayuran hidroponik di pasar swalayan pada Kamis dan Jumat”

Jaga hubungan
Parung Farm di Parung, Bogor, Jawa Barat tidak main-main untuk urusan pemasaran. Parung Farm menerjunkan 3 petugas pemasaran khusus menangani sayuran eksklusif itu. Para petugas pun menghabiskan sebagian besar waktu kerja di luar kantor. “Hanya 2 hari di kantor,” ujar M Rizki Maulana, manajer pemasaran Parung Farm. Apa yang dikerjakan Rizki bersama 2 rekan setimnya?

Baca juga:  Jasa Kucai

Mereka menjalin hubungan baik dengan petugas toko langganan dengan bertatap muka secara langsung. “Kelihatannya sederhana, tapi efeknya sangat besar. Tidak hanya berkomunikasi lewat telepon, tetapi harus bertemu langsung dan menjaga kehangatan saat ngobrol,” ujarnya.

Pelayanan kepada relasi begitu penting hingga Parung Farm ‘merelakan’ sayuran produksinya dikemas dengan nama swalayan mitra. “Ini juga salah satu strategi mendongkrak penjualan. Meskipun harga jual jadi lebih murah,” ujar Rizki. Strategi itu jarang disukai pekebun lantaran harga beli swalayan lebih rendah 5—10%. Namun, menurut Rizki, cara itu cukup bermanfaat untuk menembus pasar swalayan-pasar swalayan yang baru dikenal atau untuk pekebun yang baru belajar memasarkan produk sayuran hidroponik.

Bahkan menurut Yudi Supriyono, bagian produksi Parung Farm, kemasan produk sayuran Parung Farm yang menggunakan nama pasar swalayan rekanan justru lebih mendominasi dibanding dengan nama Parung Farm sendiri. “Perbandingannya 40% pakai nama Parung Farm, sisanya nama relasi,” ujarnya. Hal itu yang membuat produk Parung Farm jarang ditemui di pasar swalayan.

Para pengunjung pasar swalayan menghabiskan akhir pekan untuk berbelanja sayuran sehat bebas pestisida

Para pengunjung pasar swalayan menghabiskan akhir pekan untuk berbelanja sayuran sehat bebas pestisida

Siasat waktu
Hal lain yang juga sangat penting yang Rizki dan timnya lakukan adalah survei kondisi pasar. “Konsumen dan pesaing adalah objek utama,”ujar pria kelahiran 1972 itu. Menurut Rizki, permintaan konsumen terbanyak terjadi pada Kamis hingga Sabtu. Sebab saat itulah konsumen berbondong-bondong mengunjungi pasar swalayan. Sementara paling sepi Ahad dan Senin karena konsumen telah membeli persediaan pada Kamis.

Menurut Rizki pada Kamis hingga Sabtu, Parung Farm mengirim produknya ke 60-an toko, sementara pada Ahad atau Senin sekitar 45-an toko. “Selisihnya bisa 500—1.000 pak berbobot 250 g per pak,” ujarnya. Fenomena itu diantisipasi bagian produksi kebun dengan menyesuaikan waktu tanam agar panen pada waktu permintaan tinggi.

Baca juga:  Cara Alami Besarkan Nila

Kiat lain yang dilakukan ialah memantau pesaing dengan mengamati produk-produknya. Bila ada produk baru, Rizki bersama timnya segera menelusuri peluang pasar dan cara mendapatkan bibitnya. “Kami akan merekomendasikan produk baru itu ke bagian produksi agar segera dibudidayakan,” ujarnya. Dengan rajin survei, Parung Farm tak pernah ketinggalan tren hidroponik di masyarakat, baik jenis maupun teknologinya.

Dengan berbagai upaya itu, produsen hidroponik sejak 2003 itu mengalami peningkatan omset yang cukup signifikan. Menurut Rizki, dibanding 2003, omset Parung Farm meningkat hingga 50 kali lipat. “Ini berkat kerja sama dan bantuan banyak pihak, yang penting tetap berusaha dengan terobosan-terobosan baru,” ujar Rizki.

Menurut Prof Anas Dinurrohman Susila staf pengajar Produksi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, kunci utama sukses memasarkan sayuran hidroponik ialah menghasilkan produk berkualitas, promosi yang inovatif, dan menjaga kondisi sayuran tetap segar hingga di tangan konsumen. “Setiap daerah punya karakter konsumen masing-masing, sehingga penting survei terlebih dulu,” ujarnya.

Menurut kepala University Farm Institut Pertanian Bogor itu, keamanan produk bagi konsumen bebas pestisida sangat penting dan menjadi faktor utama yang harus diperhatikan produsen sayuran hidroponik. Keunggulan itu bisa menjadi modal kuat untuk promosi. “Masyarakat semakin sadar bahaya pestisida, sehingga menjadi peluang besar bagi produsen sayuran tanpa pestisida,” ujarnya. Kemasan didesain dengan cantik agar konsumen langsung jatuh hati pada pandangan pertama.

Untuk menghindari kerugian karena produk tidak terjual, maka survei kebutuhan pasar terlebih dahulu dilakukan. “Jangan menanam dulu baru memikirkan pasarnya, tetapi mengamati kondisi pasar, volume permintaan, baru mulai menanam produk-produk yang dibutuhkan,” ujar Anas. Dengan berbagai inovasi dalam budidaya dan teknik pemasaran, sayuran hidroponik tak lagi eksklusif, tetapi bakal memasyarakat sehingga menguntungkan produsen. (Bondan Setyawan/Peliput: Andari Titisari dan Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *