Soeparwan Soeleman pensiun dini dari perusahaan multinasional dan beralih berkebun sayuran organik.

Soeparwan Soeleman pensiun dini dari perusahaan multinasional dan beralih berkebun sayuran organik.

Omzet berkebun sayuran di lahan 3.500 m² setara omzet kelapa sawit di lahan 8 hektare.

Posisi Soeparwan Soeleman di sebuah perusahaan teknologi informasi multinasional di Jakarta sejatinya amat penting. Pendapatan dari perusahaan itu juga relatif besar. Namun, Soeparwan memilih pensiun dini pada 2008 ketika usianya 50 tahun. Kini aktivitasnya tak lagi di belakang meja, tetapi di ladang sayuran organik. Soeparwan mengebunkan 20 jenis sayuran organik di lahan 3.500 m² di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Ia menjual hasil panen ke beberapa pasar swalayan dan perusahaan pemasok di Kota Bandung, Jawa Barat. Sayangnya ia enggan menyebutkan pendapatan dari hasil perniagaan sayuran organik itu. “Yang jelas pendapatan saya dari berkebun organik setara dengan pekebun kelapa sawit seluas 8 hektare,” ujar alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) itu. Soeparwan menyamakan omzet sayuran organik dengan pekebun sawit karena saudaranya mengelola kebun kelapa sawit.

Premium
Soeparwan memperoleh pendapatan sebanyak itu karena menjual aneka jenis sayuran berharga premium seperti kale Brassica oleracea. Ia menjual sayuran yang kerap disebut sebagai superfood itu dengan harga berkisar Rp130.000—Rp200.000 per kg tergantung varietas. Varietas termahal adalah kale curly red scarlet yang berdaun keriting dan berwarna daun hijau semburat ungu.

Soeparwan Soeleman membudidayakan sayuran organik di lahan 3.500 m².

Soeparwan Soeleman membudidayakan sayuran organik di lahan 3.500 m².

Jenis sayuran termahal adalah english spinach yang harganya mencapai Rp500.000 per kg. Sayuran eksklusif lainnya rhubarb yang berharga Rp240.000 per kg dan rucola Rp284.000 per kg. Soeparwan membudidayakan aneka jenis sayuran organik berharga premium untuk menutupi biaya produksi sayuran organik yang tinggi. Secara teknis budidaya sayuran organik memang tak membutuhkan pupuk kimia sehingga dianggap lebih efisien.

Namun, produktivitas sayuran organik tetap lebih rendah dibandingkan dengan teknik budidaya konvensional. Apalagi jenis sayuran yang dibudidayakan Soeparwan berasal dari negara subtropis sehingga produktivitasnya kurang optimal seperti di negara asalnya. Ia juga pantang membasmi hama meski tersedia insektisida nabati. “Hama merupakan bagian dari ekosistem. Mereka berhak hidup,” tutur pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, itu.

Baca juga:  Tepat Pilih Nozel

Untuk mencegah serangan hama, Soeparwan merotasi tanaman. Dalam jangka waktu tertentu, ia mengistirahatkan lahan yang digunakan terus-menerus. Caranya dengan membudidayakan komoditas lain yang berbeda kategori dan tidak sekerabat. Contohnya lahan untuk membudidayakan sayuran keluarga kubis-kubisan, “diistirahatkan” dengan mengganti tanaman dengan tanaman pangan seperti jagung.

Shiso jepang, salah satu jenis sayuran eksklusif produksi Soeparwan Soeleman.

Shiso jepang, salah satu jenis sayuran eksklusif produksi Soeparwan Soeleman.

Dengan begitu siklus hidup hama yang kerap menyerang sayuran keluarga kubis-kubisan akan terputus. Cara lain dengan membudidayakan tanaman secara tumpang sari atau companion plant, contohnya dengan bawang-bawangan. Ia membudidayakan tanaman beraroma kuat itu bersama sayuran buah seperti tomat, cabai, kentang, kubis-kubisan, dan wortel. Bawang-bawangan membantu mengusir beberapa jenis hama, seperti siput telanjang, kumbang pengisap, lalat wortel, dan ulat kubis.

Kualitas prima
Berbagai upaya itu belum mampu mencegah serangan hama 100%. “Tetap saja ada tanaman yang terserang. Kehilangan hasil panen akibat serangan hama dan penyakit itu dibebankan ke konsumen sehingga harganya lebih mahal,” ujar Soeparwan. Oleh sebab itu, ia memilih membudidayakan aneka jenis sayuran eksklusif daripada jenis sayuran yang lazim dikonsumsi masyarakat seperti kangkung dan bayam.

“Jika jenis sayuran yang umum, konsumen cenderung membandingkan harga dengan sayuran yang dibudidayakan secara konvensional. Apalagi kedua jenis sayuran itu saat ini juga banyak diproduksi massal dengan teknik hidroponik,” kata pemilik Fam Organic itu. Karena harga sayuran organik produksi Soeparwan tergolong premium, sebagian besar konsumennya kalangan menengah ke atas.

Proses sortir hasil panen.

Proses sortir hasil panen.

Soperawan mengatakan, “Mereka biasanya sudah memiliki pengetahuan tentang produk sayuran yang saya jual, seperti manfaatnya untuk kesehatan. Jadi, harga tidak menjadi masalah bagi mereka.” Namun, harga yang premium bukan berarti ia semena-mena meraup laba. Konsekuensi dari harga premium adalah kualitas prima. Untuk menjaga higienitas produk, Soeparwan membawa hasil panen dari kebun di Parongpong ke kantornya di kawasan Sarijadi, Kota Bandung.

Baca juga:  Organik di Atas Talang

Di sana ia melakukan sortir dengan membuang sayuran yang rusak. Setelah itu ia mencuci sayuran menggunakan air bersih, kemudian mengeringkan menggunakan alat pengering sentrifugal. Soeparwan lalu menimbang hasil panen dan mengemasnya dalam plastik yang telah diberi merek “famO”. Selanjutnya, pria kelahiran 2 September 1958 itu mengirim sayuran ke pasar swalayan dan para konsumen.

Otodidak
Delapan tahun sudah Soeparwan berkecimpung di perniagaan sayuran organik. Pencapaian saat ini adalah hasil dari ketekunan dan kesabaran mengatasi berbagai kendala dalam berkebun sayuran organik. Harap mafhum, Soeparwan dan istri, Donor Rahayu, bukan berlatar belakang pendidikan di bidang pertanian. “Kami kebetulan punya hobi bercocok tanam,” ujarnya. Saat memutuskan pensiun dini dari perusahaan, berkebun sayuran organik pun menjadi pilihan.

Budidaya sayuran organik di dinding vertikal.

Budidaya sayuran organik di dinding vertikal.

Pengetahuan tentang pertanian organik ia peroleh secara otodidak dari berbagai literatur. Pria 61 tahun itu banyak membaca buku dan jurnal yang diterbitkan universitas dan lembaga swadaya masyarakat yang berkecimpung di bidang pertanian organik seperti International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM). Dari literatur itu ia mempelajari pertanian organik dari sejak persiapan lahan hingga panen.

Soeparwan lalu membeli lahan seluas 3.500 m² di Kecamatan Parongpong. Semula lahan itu lokasi budidaya pertanian konvensional yang berkontur miring. Namun, sebelum dijual sang pemilik meratakan lahan dengan “mengupas” permukaan tanah hingga kedalaman 1—3 m. Ia meratakan lahan karena hendak menjual lahan untuk perumahan. Tindakan itu sebetulnya berakibat negatif bagi kesuburan lahan.

Sebab, lahan menjadi tidak subur karena kehilangan lapisan tanah teratas atau top soil yang subur. Namun, di sisi lain pemerataan lahan itu menguntungkan Soeparwan. “Lapisan top soil yang terkontaminasi pupuk anorganik menjadi hilang. Jadi, saya tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk menghilangkan residu pupuk kimia,” kata Soeparwan. Untuk mengembalikan kesuburan lahan, ia menambahkan pupuk organik berupa kotoran sapi yang telah terurai.

Baby salad, salah satu inovasi produk PT Famili Ekokultura.

Baby salad, salah satu inovasi produk PT Famili Ekokultura.

Pupuk kandang itu tersedia melimpah di sekitar lokasi kebun. Di sana banyak warga yang memelihara sapi, tapi tidak terlalu intensif. Mereka hanya mengandalkan pakan berupa rumput sehingga kotoran yang dihasilkan bebas dari kontaminasi bahan sintetis kimia pada konsentrat. Soeparwan mencampur pupuk kandang dengan kompos dan tanah dengan perbandingan sama sebagai media tanam.

Baca juga:  Mahachanok Sarat Buah

Ia lalu membentuk media tanam itu menjadi bedengan-bedengan berukuran 1 m x 4 m. Selanjutnya, ia menanami lahan dengan aneka jenis sayuran. Pada tahun pertama belum ada panenen yang dijual. Pasalnya, pertumbuhan tanaman kurang optimal. Dugaannya bahan organik di lahan belum terurai sempurna sehingga tanaman belum dapat menyerapnya. Apalagi Soeparwan membudidayakan sebagian besar sayuran subtropis. Tanaman juga banyak yang rusak akibat serangan hama.

Kembangkan pasar

Sayuran organik produksi Soeparwan Soeleman.

Sayuran organik produksi Soeparwan Soeleman.

Kendala itu tak membuat Soeparwan patah arang. Ia kembali menanami lahan dengan sayuran. Hasil panen berikutnya ia tawarkan ke pasar-pasar swalayan dan hotel-hotel di Kota Bandung. Baru pada 2010 Soeparwan akhirnya meneken kontrak untuk memasok sayuran organik di salah satu pasar swalayan. “Kontrak kerja sama itu masih berjalan hingga sekarang,” ujarnya.

Pelatihan sayuran organik di lahan sempit.

Pelatihan sayuran organik di lahan sempit.

Keberhasilan Soeparwan membuka pasar tak membuatnya berpuas diri. Ia terus berupaya mengembangkan pasar, salah satunya penjualan melalui media daring. Konsumen dapat memesan sayuran organik dengan mengakses situs belanja daring. Ia lalu mengirim pesanan langsung ke tangan konsumen akhir. Soeparwan juga berinovasi dengan memproduksi baby salad, yaitu aneka jenis selada yang dipanen lebih awal, yakni pada umur 2 pekan setelah tanam. Ayah 3 anak itu juga memproduksi sayuran kecambah.

Pelatihan cara olah sayuran sehat.

Pelatihan cara olah sayuran sehat.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat, Soeparwan bermitra dengan kolega mengembangkan sayuran organik di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, di lahan 1 ha. Hasil panen dari lahan itu untuk memasok pasar Jakarta dan sekitarnya. Ia juga bermitra membuka kebun di Desa Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dengan luasan sama. Hasil panen untuk memasok pasar Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dan sekitarnya.

Soeparwan Soeleman memandu para pengunjung kebun sayuran organik miliknya.

Soeparwan Soeleman memandu para pengunjung kebun sayuran organik miliknya.

Soeparwan juga aktif mendidik para petani sayuran organik dengan menyelenggarakan pelatihan budidaya organik di lahan sempit, seperti di dalam polibag, serta dinding dan pot vertikal. Pelatihan lain cara olah sayuran sehat dan tur ke kebun sayuran organik. “Dengan begitu masyarakat dapat memperoleh makanan sehat dari halaman rumah,” tutur pemilik PT Famili Ekokultura itu. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d