Cahaya kunang-kunang menginspirasi pengetahuan manusia.

Cahaya kunang-kunang menginspirasi pengetahuan manusia. (Koleksi Terry Priset)

Menurut peneliti kunang-kunang dari Tufts University, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), Prof Sara Margery Lewis PhD, sebelum ada listrik, leluhurnya menggunakan cahaya kunang-kunang untuk membaca, bersepeda, dan berjalan ke suatu tempat. Nun di Jepara, Jawa Tengah, beberapa warga juga memanfaatkan cahaya kunang-kunang untuk berjalan menembus kegelapan malam.

“Ibu saya pernah melakukan itu sekitar 1970-an karena listrik belum masuk desa saat itu,” kata pengelola tur kunang-kunang di Bali, Apni Tristia Umiarti. Peneliti kumbang dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Raden Pramesa Narakusumo, mengatakan cahaya kunang-kunang berasal dari perpaduan senyawa luciferin, enzim luciferase, adenosina trifosfat (ATP), dan oksigen. Proses itu disebut bioluminesens.

Industri makanan mengandalkan reaksi kimia penghasil cahaya pada kunang-kunang. Perusahaan pangan itu mengembangkan seperangkat alat uji makanan yang mengandung luciferin dan luciferase. Kedua senyawa itu berfungsi melacak ATP yang dimiliki semua organisme hidup termasuk mikrob seperti Salmonella sp. dan Escherichia coli. Makin banyak ATP terdeteksi, semakin terang cahayanya.

Artinya makanan itu terkontaminasi dan tidak layak konsumsi. Cara itu lebih cepat dibandingkan dengan kultur bakteri. “Dengan cahaya kunang-kunang tes berlangsung beberapa menit, sedangkan cara lain menghabiskan waktu beberapa hari,” kata Sara. Penggunaan perangkat bioluminesens ATP pada makanan itu masih berlanjut untuk hampir semua komoditas makanan seperti susu, minuman ringan, dan daging.

Bedanya perangkat itu menggunakan luciferase sintetis. Metode serupa juga dikembangkan pada industri farmasi untuk melihat dengan cepat obat kemoterapi baru yang manjur mengatasi sel kanker. (Riefza Vebriansyah)

Baca juga:  Kratom Obat dari Rimba Borneo

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d