Berebut Edamame 1
M. Arief Marzuki (kiri) bekerjasama dengan Hidayat (kanan) untuk memenuhi permintaan edamame

M. Arief Marzuki (kiri) bekerjasama dengan Hidayat (kanan) untuk memenuhi permintaan edamame

M Arief Marzuki dan Adeng Permana meraup omzet puluhan juta rupiah per pekan dari perniagaan edamame.

Setidaknya Rp39-juta mengalir ke rekening M Arief Marzuki setiap pekan. Itu hasil penjualan 3 ton edamame dengan harga Rp13.000—Rp15.000 per kg. Ia menjual edamame itu ke beberapa perusahaan pemasok pasar swalayan di Jakarta. Omzet bakal membubung andai Arief mampu memenuhi permintaan. “Permintaan edamame mencapai 10 ton per pekan,” ujar pemasok sayuran di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.

Untuk memenuhi permintaan pasar, Arief bermitra dengan 50 pekebun. Ia membeli hasil panen dari pekebun dengan harga Rp8.000—Rp10.000 per kg. Tidak semua hasil panen pekebun mitra ia beli. “Yang diterima hanya kacang yang berpolong 2—3 dan buah bebas bercak,” kata ayah 2 anak itu. Dari seluruh hasil panen yang diterima, rata-rata hanya 10% apkir.

Edy Zen Yuliantoko (berbaju merah) bersama Sudirman, petani mitra PT Mitratani Dua Tujuh

Edy Zen Yuliantoko (berbaju merah) bersama Sudirman, petani mitra PT Mitratani Dua Tujuh

Permintaan tinggi
Permintaan edamame cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kali pertama menggeluti bisnis edamame pada 2011, Arief melayani permintaan 1—1,5 ton per pekan, kini 3 ton. Oleh sebab itu hingga kini Arief berupaya menambah pasokan. Agar itu terwujud ia tengah menjajaki bermitra dengan para pekebun di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Selain Arief, Adeng Permana juga merasakan gurihnya perniagaan edamame. Omzet pekebun di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, itu Rp20-juta setiap hari. Itu hasil penjualan 2 ton edamame dengan harga jual Rp10.000 per kg.

Alumnus Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menjual edamame ke perusahaan pemasok sayuran di Pulogadung, Jakarta Timur. Untuk memenuhi pasokan, Adeng mengebunkan edamame di lahan pribadi seluas 1.000 m2. Pasokan tambahan berasal dari 400 pekebun mitra yang tersebar di Kabupaten Garut dan sekitarnya.

Sejak diperkenalkan di Indonesia 20 tahun lalu, popularitas edamame memang terus menanjak. Dahulu hanya ekspatriat asal Negeri Sakura yang mengonsumsi sayuran khas jepang itu. Kini masyarakat luas tidak asing lagi dengan rasa polong tanaman anggota famili Fabaceae itu. Apalagi cara mengonsumsinya mudah. Cukup mengukusnya, edamame nan lezat pun siap santap. “Pengetahuan masyarakat tentang kandungan nutrisi edamame turut meningkatkan permintaan,” kata Arief.

Kemasan edamame untuk konsumsi pasar swalayan

Kemasan edamame untuk konsumsi pasar swalayan

Apalagi selain konsumsi segar, kini penggemar edamame juga dapat menikmati lezatnya beragam olahannya seperti bakpia, susu, dan goreng. Aneka olahan edamame itu juga memperluas pasar (baca: Edamame Gugah Selera, halaman 72—73). Meski menjanjikan laba tinggi, berkebun edamame tak luput dari hambatan. Serangan hama dan ketersediaan benih kerap menjadi batu sandungan (baca boks: Aral Sirnakan Laba).

Baca juga:  Manjakan Para Penarik Kail

Karena relatif sulit memperoleh benih F1, beberapa pekebun memanfaatkan benih hasil budidaya sebelumnya. Dampaknya produktivitasnya hanya separuh potensi hasil benih F1. “Meski hasil panen separuhnya, tapi masih ekonomis,” ujar Arief. Jika kendala terpenuhi, laba dari kedelai jepang pun bukan sekadar impian.

Hingga sekarang permintaan yang mengalir ke pekebun belum sepenuhnya terpenuhi. Adeng, misalnya, meski kapasitas produksi kini mencapai 2 ton edamame, belum memenuhi permintaan yang mencapai 5 ton per hari. Begitu juga Rahmat, pekebun di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, baru sanggup melayani permintaan pasar swalayan 500 kg per pekan. Sementara permintaan pasar swalayan itu 1.000 kg per pekan. Taufik, pekebun di Cisarua, masih kekurangan pasokan 500 kg per pekan. Dari permintaan 2 ton per pekan, ia hanya mampu memasok 1,5 ton.

Edamame siap panen umur 70 hari setelah tanam

Edamame siap panen umur 70 hari setelah tanam

Pasar ekspor
Permintaan edamame tak hanya menggeliat di pasar lokal, tapi juga mancanegara. Menurut Guntaryo Tri Indiarto, direktur PT Mitratani Dua Tujuh, eksportir edamame di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pasar ekspor masih terbentang. “Serapan pasar Jepang mencapai 65.000—70.000 ton per tahun. Saat ini pasar Amerika dan Eropa juga terbuka lebar, sekitar 70.000 ton per tahun,” tutur pria yang juga penggemar bonsai itu.

Sementara Mitratani baru mampu memasok 6.000—7.000 ton per tahun. Untuk memenuhi pasokan, Mitratani membudidayakan edamame di lahan inti seluas 1.200 ha. Menurut Edy Zen Yuliantoko, dari divisi penjaminan mutu PT Mitratani Dua Tujuh, pada 2008 Mitratani membuka kemitraan dengan pekebun di Jember. Namun, saat itu pekebun belum mampu menerapkan teknik budidaya yang tepat.

Guntaryo Tri Indiarto Direktur PT Mitratani Dua Tujuh, "Pasar ekspor masih terbuka lebar"

Guntaryo Tri Indiarto Direktur PT Mitratani Dua Tujuh, “Pasar ekspor masih terbuka lebar”

Guntaryo menuturkan syarat kualitas edamame untuk ekspor sangat ketat, yaitu berukuran seragam, jumlah polong seragam, kulit bebas bercak dan cendawan, serta residu pestisida sesuai ambang batas yang dipersyaratkan negara tujuan. Itulah sebabnya Mitratani sempat menutup program kemitraan baru karena kualitas dari pekebun mitra belum memenuhi syarat. Namun, karena perlu pasokan tinggi, maka pada Juni 2014 Mitratani kembali membuka kemitraan.

Baca juga:  VCO Redakan Nyeri Sendi

Menurut Guntaryo program kemitraan Mitratani dengan pekebun bersifat mandiri. Pekebun menyediakan lahan dan modal, sementara Mitratani menyediakan teknologi mulai dari benih hingga pengawasan. Benih yang digunakan adalah Seed Production Mitratani 1 (SPMT 1) yang dihasilkan sendiri oleh Mitratani.

Harga stabil
Dengan menggunakan benih dari Mitratani potensi produksi tanaman 14—15 ton per hektar, dengan syarat kondisi tanaman sehat. Edy menuturkan menjadi pekebun mitra sangat menguntungkan. Harga beli dari petani tidak dipengaruhi fluktuasi harga. “Kami menggunakan sistem kontrak di awal,” ujar Edy.

Itulah sebabnya Sudirman setia menjadi pekebun mitra Mitratani sejak 2008. Kini pekebun di Desa Kemuning, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, itu membudidayakan edamame di lahan 6,5 ha. Sudirman melakukan penanaman secara bertahap setiap 1 ha. Dari sehektar lahan pria 41 tahun itu memanen 10 ton edamame. Dari jumlah itu 47% di antaranya masuk grade A. Ia menjualnya ke Mitratani dengan harga Rp6.500 per kg.

Proses sortasi edamame di PT Mitratani Dua Tujuh untuk pasar ekspor

Proses sortasi edamame di PT Mitratani Dua Tujuh untuk pasar ekspor

Sementara sisanya masuk grade B dan dijual dengan harga Rp3.000 per kg. Selain Sudirman, hingga kini ada 17 pekebun mitra yang bergabung dengan total area tanam 150 ha. Menurut Arief biaya untuk menghasilkan 1 kg edamame mencapai Rp4.500—Rp5.000 per kg. Itu dengan produktivitas 5.000 kg per ha. Jika produktivitas lebih tinggi seperti para pekebun di Jember, hingga 10 ton, biaya produksi per kg lebih rendah. (lihat Laba Besar Kedelai Besar halaman 70—71)

Peluang pasar mancanegara juga terbentang di kawasan Timur Tengah, seperti yang kini dipasok Tony Aditya. Pemuda yang mulai mengekspor edamame pada 2012 itu rutin memasok 5 ton kedelai jepang ke Kuwait setiap 4 bulan. Pasar lain yang ia pasok adalah Dubai, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Amerika Serikat. “Permintaan ekspor terus meningkat 20—40% setiap tahun,” katanya.

Kedelai khas Negeri Sakura itu kini menjadi sumber pendapatan baru bagi Hopidin, pekebun edamame di Desa Sirnagalih, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Kini ia mengebunkan edamame di lahan 2.500 m2. Dari lahan seluas itu Hopidin memanen 1 ton edamame hanya dalam 70 hari.

Dengan harga jual Rp10.000 per kg, omzet pria 58 tahun itu Rp10-juta. Selain Hopidin, kini ada 42 pekebun di Desa Sirnagalih yang mengikuti jejaknya berkebun edamame. Mereka berharap laba besar hasil perniagaan kedelai besar. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari dan Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *