Berdandan Tahan Sebulan 1
Penampilan lengkeng dari Kebun Ngebruk mirip lengkeng impor

Penampilan lengkeng dari Kebun Ngebruk mirip lengkeng impor

Fumigasi membersihkan kulit buah dan menjadikan daya simpan lengkeng lebih lama.

Lengkeng dalam kemasan di toko Hortimart Agro Center, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tampak bersih dan segar. Mata naga dengan kondisi apik itu lazim berasal dari Thailand. Selama ini penampilan lengkeng dari kebun di dalam negeri tidak secemerlang lengkeng dari Negeri Gajah Putih. Harap mafhum, negeri jiran itu lebih awal menanam lengkeng yaitu pada 1898 di Bangkok dan Chiang Mai. Sementara perkebunan Dimocarpus longan perdana di tanahair pada 2004 di Singkawang, Kalimantan Barat.

Buah lengkeng di Hortimart itu berasal dari Kebun Ngebruk di Kendal, Jawa Tengah. Meski dari kebun di dalam negeri, buah tanaman anggota famili Sapindaceae itu tampil memikat: bersih dan mulus. Penampilan itu berbeda dengan lengkeng lokal yang cenderung kusam dan tampak tidak segar. “Konsumen menyukai kulit lengkeng yang bersih,” kata penanggung jawab pemasaran Hortimart, Damayanti.

Budi Dharmawan bertekad menghasilkan lengkeng bagus yang tidak kalah dari Thailand

Budi Dharmawan bertekad menghasilkan lengkeng bagus yang tidak kalah dari Thailand

Fumigasi
Apa rahasia lengkeng asal Ngebruk berpenampilan seperti lengkeng impor? “Kami menggunakan mesin fumigasi dalam proses pascapanen,” kata Koordinator Kebun Ngebruk Susilo Eko Prabowo. Pemilik Kebun Ngebruk, Budi Dharmawan, membeli mesin itu pada Desember 2013 dari Thailand. Budi tertarik membeli mesin itu agar bisa menghasilkan lengkeng bagus yang tidak kalah dari Thailand.

Mesin berukuran 4 m x 3 m x 2,5 m itu menggunakan sulfur dioksida (SO2) sebagai fumigan. Penggunaan senyawa kimia itu sesuai dengan prosedur operasional standar mesin. Menurut ahli buah dari Institut Pertanian Bogor, Prof Ir Sobir MSi PhD, penggunaan sulfur dioksida lazim untuk mengawetkan lengkeng standar ekspor di Thailand. Sementara di Indonesia itu termasuk baru.
Pada 2004 Trubus menyaksikan pekebun mengawetkan lengkeng dengan cara fumigasi di sentra lengkeng di Chiangmai, Thailand. Petugas memasukkan buah kerabat leci itu ke gudang tertutup. Lalu ia mengalirkan uap sulfur dioksida ke gudang itu selama 12—24 jam. Sobir menuturkan sulfur dioksida berperan mempertahankan daya simpan lengkeng.

Pasar swalayan menghendaki lengkeng yang mulus dan bersih

Pasar swalayan menghendaki lengkeng yang mulus dan bersih

Sebab senyawa kimia itu mematikan cendawan dan hama penyakit yang terbawa dari kebun. Cendawan menyebabkan busuk pada lengkeng. Eko mengatakan tanpa fumigasi lengkeng berubah warna dalam 3 hari menjadi agak gelap. Namun, dengan fumigasi kulit lengkeng tidak berubah warna hingga 7 hari. Bahkan, kulit mulus itu mampu bertahan sebulan dalam lemari berpendingin. Kulit lengkeng juga tampak bersih dan cerah setelah keluar dari mesin fumigasi.

Baca juga:  Berpadu Makin Manjur

“Penampilan lengkeng yang bagus menarik konsumen,” kata Sobir. Sebab saat ini konsumen lebih dahulu mementingkan penampilan daripada rasa buah. Sebelum masuk mesin fumigasi petugas menyeleksi lengkeng terlebih dahulu. Petugas mem-buang lengkeng yang busuk dan rusak. Jadi, hanya lengkeng yang mulus yang dipertahankan. Setelah itu petugas memotong tangkai-tangkai kecil dari dompolan lengkeng. Lengkeng berupa tangkai kecil itulah yang masuk ke mesin fumigasi. Tujuannya agar sulfur dioksida tersebar merata. Mesin itu bisa menampung 80 kg—1.600 kg lengkeng segar.

Tahan sebulan
Dosis sulfur dioksida di sesuaikan dengan bobot lengkeng. Misal petugas memasukkan 80 kg lengkeng, maka petugas menggunakan 490 g sulfur dioksida. Sementara untuk 1.600 kg lengkeng, petugas memberikan 1.680 g sulfur dioksida. Gas itu disimpan dalam tabung setinggi 1,2 m berkapasitas sekitar 60 kg. Di dalam mesin itu terdapat terpal di 4 sisi mesin. Saat lengkeng masuk mesin terpal itu dilepas dari ikatan sehingga lengkeng berada di dalam terpal itu. Penggunaan terpal agar sulfur dioksida tidak tersebar ke seluruh mesin sehingga fumigasi terfokus ke ruangan di dalam terpal.

Mesin fumigasi di Kebun Ngebruk, Kendal, Jawa Tengah

Mesin fumigasi di Kebun Ngebruk, Kendal, Jawa Tengah

Lalu petugas mengalirkan SO2 ke mesin sesuai bobot lengkeng yang difumigasi. Tabung gas diletakkan di atas timbangan sehingga petugas mengetahui bobot gas sebelum dan sesudah pemakaian. Gas terus berputar di dalam mesin fumigasi selama 1 jam. Di atas mesin juga terdapat 2 blower yang berfungsi memutar gas agar merata mengenai lengkeng. Selain itu, “Blower juga memberi tekanan sehingga gas bisa melewati lengkeng di bagian bawah,” kata Eko. Jika tidak ada blower, SO2 hanya mengenai lengkeng di bagian atas. Harap mafhum saat masuk ke dalam mesin, lengkeng ditumpuk dalam suatu wadah.

Baca juga:  Seri Walet 226: Robot Pemikat Walet

Setelah fumigasi selesai, aliran gas ke mesin dihentikan. Petugas lalu mengalirkan SO2 ke saluran pembuangan yang berujung di drum berisi larutan kapur. “Larutan itu berfungsi menetralkan gas sulfur dioksida,” kata Eko. Lalu, apakah lengkeng hasil fumigasi baik untuk kesehatan? Pemimpin Kebun Ngebruk, Gumilang Pramesti mengatakan SO2 hanya mengenai kulit buah dan daging buah tidak menyerapnya jadi aman bagi kesehatan.

Bukti riset
Menurut Sobir penggunaan senyawa kimia untuk mengawetkan lengkeng memungkinkan. “Syaratnya dosis yang digunakan tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan,” ucap alumnus Okayama University, Jepang, itu. Selain lengkeng, di Kebun Ngebruk juga terdapat rambutan. Gumilang pernah melakukan fumigasi pada rambutan. Hasilnya, “Rambutan malah lebih cepat rusak setelah difumigasi,” kata Gumilang. Menurut Sobir itu karena struktur kulit rambutan yang lebih tipis ketimbang lengkeng.

Blower meratakan sulfur dioksida ke semua lengkeng

Blower meratakan sulfur dioksida ke semua lengkeng

Penampilan lengkeng yang bersih dan tahan lama karena penggunaan sulfur dioksida sejalan dengan riset ilmiah W Chitbanchong dan rekan dari Universitas Chiang Mai, Thailand. Chitbanchong menggunakan lengkeng biew kiew sebagai objek penelitian. Lengkeng yang digunakan berukuran sama dan tidak ada cacat. Peneliti lalu melakukan fumigasi dengan SO2 pada sebagian lengkeng, sisanya tidak mendapat paparan SO2. Setelah itu Chitbanchong menyimpan lengkeng dengan perlakuan berbeda itu ke lemari pendingin bersuhu 2°C dan 7°C.

Hasil penelitian yang termaktub dalam Pakistan Journal of Biological Sciences itu menunjukkan fumigasi dengan SO2 dan penyimpanan di suhu 20C mencegah browning atau perubahan kulit menjadi kecokelatan. Menurut Bundit Khunpon dan rekan dari Departemen Biologi, Fakultas Sains, Universitas Chiang Mai, dalam Science Asia browning terjadi karena oksidasi senyawa fenol oleh enzim polifenol oksidase. Itu mengakibatkan kulit lengkeng berwarna kecokelatan dan akhirnya membusuk.

Padahal, warna karakteristik visual paling penting dalam pemasaran lengkeng. Fumigasi dengan SO2 dan penyimpanan di suhu 2°C menghambat aktivitas polifenol oksidase. Terhambatnya aktivitas enzim itu menyebabkan browning juga melambat sehingga lengkeng tidak berubah warna setelah lebih dari 3 hari. Dengan begitu, konsumen bisa menikmati lengkeng segar meskipun sudah lama dipanen. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *