575_ 43-7Saat lulus kuliah pada 2014, Rizal Fahreza lolos menjadi peserta International Agriculture Internship Program, program magang yang diselenggarakan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan The Ohio State University, Amerika Serikat. Tiga belas bulan lamanya Rizal Fahreza magang di sebuah perusahaan produsen jeruk di Kalifornia, Amerika Serikat. Selama magang dan kursus singkat di beberapa universitas di Negeri Abang Sam, ia mempelajari manajemen rantai pasok.

Idealnya pasokan produk dari produksi hingga ke tangan konsumen tidak boleh terputus. Dalam manajemen kebun jeruk Eptilu, Rizal terkadang mengalami kekosongan pasokan terutama pada Oktober—Februari. “Pada bulan-bulan itu sebagian besar tanaman tidak berbuah. Kalau pun ada jumlahnya sangat sedikit,” ujar Rizal. Untuk mengatasi kendala itu, ia melakukan berbagai perlakuan agar tanaman jeruk berbuah sepanjang tahun.

Salah satu kuncinya pemberian nutrisi. Rizal menambahkan campuran pupuk kandang dan kompos di sela-sela pohon jeruk. Ia membuat guludan memanjang untuk meletakkan pupuk organik. Di permukaan guludan pupuk organik itu Rizal membudidayakan aneka jenis sayuran, terutama cabai rawit sebagai bahan sambal yang menjadi pelengkap menu nasi liwet yang disediakan di kedai makan Eptilu.

Rizal juga rutin memangkas. Yang paling utama Rizal juga menambahkan ramuan pupuk hasil racikannya untuk merangsang tanaman berbunga. Sayangnya Rizal enggan “membocorkan” nutrisi rahasianya. Dengan berbagai perlakuan itu, saat Trubus berkunjung pada September 2017 banyak pohon yang buahnya masih pentil, selain dompolan buah yang siap panen. “Buah yang masih pentil itulah diharapkan akan panen pada Oktober—Februari,” katanya. (Imam Wiguna)

Tags: buah, jeruk

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d