Durian ochee  pesaing musang king yang lebih dulu sohor di tanahair. Ochee memiliki tekstur tak berserat, beraroma wangi, cita rasa manis - pahit, dan biji kempis.

Durian ochee pesaing musang king yang lebih dulu sohor di tanahair. Ochee memiliki tekstur tak berserat, beraroma wangi, cita rasa manis – pahit, dan biji kempis.

Panen durian ochee dari pohon hasil “top working” berumur 2 tahun. Daging buah jingga, kering, legit, tebal, dan manis.

Ujung duri buah durian itu amat khas, yakni berwarna hitam. Itulah sebabnya masyarakat menyebutnya duri hitam. Nama sebenarnya durian ochee. Pehobi durian di Jakarta Selatan, Adi Gunadi, pernah menikmati ochee di Penang, Malaysia. Ia mengatakan, ochee berdaging lebih tebal dan creamy. Kelebihan lain durian itu bertekstur daging halus tak berserat, aroma wangi, cita rasa enak, manis sedikit pahit, serta biji kempis.

Pantas jika para penggemar durian seperti Dr. Lutfi Bansir, S.P., M.P., dari Kalimatan Utara acap berburu ochee hingga ke negeri jiran. Kelezatan durian asal Malaysia itu kini juga bisa dinikmati di Desa Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 80 pohon durian ochee tumbuh dengan baik di kebun Josia Lazuardi seluas tiga hektare. Ia menanam durian ochee secara bertahap sejak 2013 di kebunnya.

Produktif
Penanaman perdana pada 2013, yakni 50 bibit. Ia memperoleh bibit ochee dari seorang importir bibit tanaman buah dari Malaysia. Josia tak mengetahui batang bawah durian itu. Pohon yang kini berumur 4 tahun itu belum berbuah. Ketika tanaman berumur 2 tahun, Josia memperbanyak tanaman dengan teknik okulasi. Ia juga melakukan top working pada pohon durian matahari, monthong, musang king, dan durian radio dengan menyambung entres ochee.

Pohon durian ochee yang pertama kali berbuah di Indonesia terletak di Desa Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Josia Lazuardi melakukan top working antara batang bawah durian matahari dan batang atas durian ochee. Agar tidak rubuh, Josia menopangnya dengan beberapa batang tanaman kayu.

Josia memetik satu buah durian ochee pada Juni 2017. Buah-buah lain rontok ketika berdiameter 20 cm. Menurut Josia durian ochee di kebunnya sama dengan di daerah asal, yakni berduri besar-besar dan jarang.

Baca juga:  Urban Farming : Bertanam di Perkotaan

Menurut Josia rasa durian ochee di kebunnya itu istimewa. Satu juring hanya berisi satu pongge berukuran 10—12 cm. Begitu digigit, tekstur daging terasa halus dan kering. Dagingnya tebal, mencapai 1,5—2,5 cm. Rasanya perpaduan manis dan pahit yang sangat pas, seolah-olah diramu sendiri. Josia memberi nilai 8 untuk durian ochee karena memiliki beragam keunggulan. Adi Gunadi juga sempat mencicipi durian ochee dari kebun Josia. Adi Gunadi beberapa kali menikmati durian ochee di Penang, Malaysia sehingga dapat membandingkan penampilan dan rasa buah durian ochee di kebun Josia.

Adi menuturkan, “Rasanya manis, gurih, lembut seperti es krim, dan agak pahit dengan sedikit aroma bunga durian yang lembut.” Rasa daging buah durian ochee itu stabil pada 1—10 jam pertama lalu berubah beralkohol setelah 12 jam. Kualitas daging buah ochee itu sebetulnya setara dengan musang king yang juga berdaging kering, manis, lembut, dan creamy.

Cabang horizontal

Pohon durian ochee yang pertama kali berbuah di Indonesia terletak di Desa Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pohon durian ochee yang pertama kali berbuah di Indonesia terletak di Desa Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Josia membuahkan ochee dengan melakukan stres air. Ia mengatakan, stres air merangsang pembuahan durian. Syaratnya kondisi tanaman sehat, “Kalau saat stres air tanaman tidak berbunga, berarti pohon memang belum siap berbunga karena itu pohon langsung disiram. Jika lebih dari 2 bulan tidak disiram maka pohon akan mati,” tutur Josia.

Sayangnya, pada perlakukan pertama pada awal 2016 pohon yang berbunga seluruhnya gagal menjadi buah karena rontok. Oleh karena itu, pada musim kemarau 2016 Josia kembali merangsang bunga dengan stres air. Hasil perangsangan itu tiga pohon berbuah. Saat buah berukuran sebesar kelereng, Josia mulai menyeleksi. “Pentil berukuran kecil pada setiap dompolan saya buang,“ ujar alumnus Universitas Trisakti itu. Pada seleksi buah terakhir, Josia hanya menyisakan 1 buah di setiap cabang yang berbuah.

Ia mempertahankan rata-rata 5—6 buah per pohon yang letak tumbuhnya paling dekat dengan batang utama. “Buah di ujung cabang saya buang karena pasokan nutrisi untuk buah terlalu jauh sehingga pertumbuhan buah tidak optimal,” ujar pekebun durian sejak 2009 itu. Lagi pula pohon baru belajar berbuah. Josia khawatir jika buah perdana terlalu banyak tanaman merana setelah selesai masa berbuah.

Josia Lazuardi hanya menjual bibit durian ochee saat ini seharga Rp100.000.

Josia Lazuardi hanya menjual bibit durian ochee saat ini seharga Rp100.000.

Jika tanpa seleksi, sebuah pohon menghasilkan 20—30 buah. Penanaman di Kabupaten Bogor berketinggian 70—80 meter di atas permukaan laut (m dpl) membuktikan bahwa ochee relatif adaptif di Indonesia. Di kebun itu ochee tumbuh bongsor Struktur percabangan pertama horizontal alias bersudut 90° terhadap batang. Bandingkan dengan rata-rata karakter cabang utama durian lokal tanah air yang bersudut 45°.

Baca juga:  Menanti Bunga Sakura Mekar

Menurut ahli durian di Malaysia, Dr. Aziz Zakaria, percabangan datar seperti itu yang terbaik karena dapat dan kuat menahan beberapa buah. Harap mafhum, durian ochee relatif produktif. Josia mengatakan, mayoritas bunga durian ochee muncul di cabang horizontal dan jumlahnya banyak. Tanaman anggota famili Malvaceae itu mulai belajar berbuah setelah muncul cabang sekunder bersudut 45° terhadap cabang pertama.

Aral menunggu
Mengebunkan ochee sejatinya banyak aral. Cabangnya rentan patah karena relatif kecil ukurannya dibandingkan dengan musang king. Oleh karena itu, perlu penopang agar tidak roboh.

Josia Lazuardi (memakai topi) bersama anggota Yayasan Durian Indonesia.

Josia Lazuardi (memakai topi) bersama anggota Yayasan Durian Indonesia.

Ochee agak kurang tahan terhadap kanker batang Phythopthora sp. Oleh karena itu pekebun yang berniat menanam ochee harus mencegah penyakit maut durian itu berkembang biak di kebun. Contohnya dengan menghindari kondisi tanah dan tajuk lembap atau jenuh air. Beruntung, tofografi di kebun Josia yang miring membuat air hujan cepat terbuang sehingga tanaman cukup air tetapi kondisi tanah tidak jenuh air.

Namun, bagusnya ochee termasuk bandel terhadap perubahan cuaca. “Pengalaman saya durian ochee lebih stabil terhadap perubahan cuaca,” kata Josia. Menurut Josia hampir 90% buah ochee tergolong kategori grade A atau berkualitas sangat baik. Bandingkan dengan musang king yang buahnya beragam karena kendala cuaca. Misal sebelum pemetikan hujan memicu buah durian musangking kerap mangkak atau keras bila kondisi tanah kurang air.

Di tanahair kini penanaman ochee tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Rata-rata umur tanaman 3—5 tahun. Saat tanaman berumur 4 tahun atau 2 tahun setelah top working, ochee siap dibuahkan. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts