Berayut 129 Tahun 1
Durian berayut, juara ke-1, generasi berayut yang rasanya manis, legit, serta bercitarasa pahit dan alkohol yang kuat

Durian berayut, juara ke-1, generasi berayut yang rasanya manis, legit, serta bercitarasa pahit dan alkohol yang kuat

Ketiga durian juara itu milik Nurbik.

Sinar matahari di Bulungan, Kalimantan Utara, pada April 2014, seperti menyengat kulit. Suhu udara melonjak ke angka 35,6°C. Padahal, lazimnya 32,5°C. Bulungan yang basah sepanjang tahun pun berubah drastis. Rumput mengering dan dedaunan meranggas. Panas ekstrem itu karena posisi matahari bergeser dari belahan bumi bagian selatan ke belahan utara melewati garis ekuator. Saat itu matahari tepat di atas Kota Bulungan sehingga suhu udara 3°C di atas normal.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan pada April hanya 170 mm, padahal biasanya 250 mm. “Suhu udara bahkan terasa panas pada pagi dan malam hari,” kata M Hatta Rachim, prakirawan cuaca di BMKG, Bulungan. Empat bulan berselang kemarau yang berlanjut hingga Mei 2014 itu terbukti membawa berkah, Kota Bulungan panen durian Durio zibethinus mengikuti siklus panen raya 5 tahunan.

Durian tembaga, juara ke-2, selembut susu dengan rasa pahit yang ringan

Durian tembaga, juara ke-2, selembut susu dengan rasa pahit yang ringan

Meriah
Saat panen raya itu trotoar di tengah dan sudut kota menjadi lapak durian. “Ini panen besar. Saking banyaknya buah dikirim ke luar Bulungan hingga ke negeri jiran,” kata Dr Lutfi Bansir, dekan Fakultas Pertanian Universitas Kalimantan Utara. Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan “menangkap” panen raya durian itu dengan menggelar kontes durian unggul lokal.

“Ini cara cepat menyeleksi buah durian terbaik tanpa perlu susah-payah eksplorasi. Buah yang menang lalu ditelusuri asal pohonnya untuk diamati karakter agronomis lainnya,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Ir H Muhammad Iqbal. Benar saja saat kontes berlangsung 50 orang dari 10 kecamatan datang masing-masing membawa 3 durian. Lazimnya kontes tahunan di Bulungan hanya dihadiri 20 orang pemilik pohon durian.

Baca juga:  Pencerah Kulit

Lokasi kontes di tempat Wisata Kuliner Tepian Sungai Kayan, jalan Sabanar Lama, Tanjungselor. Tempat itu paling sering diakses masyarakat agar gaung durian juara cepat tersebar. Di sana para pemasok durian pun sering berkumpul sehingga saat durian terbaik yang muncul pelaku tataniaga durian cepat mengingatnya. Menurut Lutfi, ada 3 poin utama penilaian untuk menentukan juara: rasa, warna, dan ketebalan daging buah. “Kombinasi terbaik dari 3 poin utama tersebut yang menjadi pemenang,” kata Lutfi.

Lai susu, juara ke-3, meski bukan murni spesies durian memiliki rasa yang manis dan lembut selembut susu

Lai susu, juara ke-3, meski bukan murni spesies durian memiliki rasa yang manis dan lembut selembut susu

Namun, menurut Lutfi, belum tentu sang pemenang otomatis menjadi durian unggul lokal karena masih harus mengamati karakter pohon seperti produktivitas pohon, ketahanan terhadap cekaman air, serta serangan hama dan penyakit. Setelah melalui penilaian ketat akhirnya 5 juri—Satriyo SP, Abdul Wahid SE MSi, Jumariah, Mansur, dan Dr Lutfi Bansir—memutuskan 3 pemenang. Uniknya ketiga pemenang itu direbut oleh 3 durian milik Nurbik dari Desa Antutan, Kecamatan Tanjungpalas, Kabupaten Bulungan.

Pemenang pertama durian berayut bersosok bulat memanjang. Ia istimewa karena rasanya manis, lembut, dan kering serta bercitarasa pahit dan alkohol yang kuat. Daging buahnya putih kekuningan. Menurut Lutfi, meski sang pemenang bernama berayut, ia berbeda dengan berayut mentega yang pernah merebut juara ke-2 pada kontes 2012 (baca: Raja Bulungan dan Ponorogo, Trubus, Maret 2012). Pemenang kali ini rasanya lebih legit ketimbang berayut mentega. Kelebihan berayut mentega warnanya yang lebih mencolok.

Selain itu ia juga berbeda dengan berayut durian lokal Bulungan hasil eksplorasi Lutfi Bansir pada 2004 yang bentuk buahnya bulat telur dengan daging buah putih. Menurut Lutfi, masyarakat Bulungan memang kerap menyematkan julukan berayut untuk durian bersosok besar. Berayut sejatinya nama tas gendong yang terbuat dari anyaman Suku Dayak. Berayut juara kali ini berbobot bervariasi antara 2,5—5 kg. “Harus hati-hati bila ada penjual durian mengaku menjual berayut, tetap harus dicicip dulu,” kata Lutfi.

Nurbik, (berkaus hijau) pemilik 3 durian juara yang mendominasi gelar bersama panitia kontes

Nurbik, (berkaus hijau) pemilik 3 durian juara yang mendominasi gelar bersama panitia kontes

129 tahun
Juara kedua durian tembaga. Sosok buahnya biasa saja, tetapi bila sudah di mulut, rasa manis bercampur legit terasa lengket di lidah. Rasa pahit juga tercecap bila dilumat lebih lama. Buahnya berbobot 1—2 kg berdaging buah kekuningan seperti tembaga. Sementara juara ketiga lai susu yang berasa lai, tetapi hampir menyerupai durian karena manis seperti susu. Ia sebetulnya berbeda spesies dengan durian karena tergolong Durio kutejensis, bukan Durio zibethinus.

Baca juga:  Gabus Bagus Atasi Hipertensi

Namun, rasanya yang legit dan teksturnya yang lembut seperti susu membuatnya sempat diunggulkan para juri. Ia juga termasuk durian favorit Elnizar dari Direktorat Perbenihan Kementerian Pertanian dan Fitriansyah dari Direktorat Sayuran dan Buah Kementerian Pertanian. Dengan sukses merebut 3 besar itu Nurbik membawa pulang kulkas, televisi, dan sepeda gunung.

Kontes meriah karena digelar di tempat yang mudah diakses maniak dan pelaku tataniaga durian

Kontes meriah karena digelar di tempat yang mudah diakses maniak dan pelaku tataniaga durian

Menurut Lutfi, sukses Nurbik meraih 3 besar sekaligus, membuat eksplorasi ke pohon induk dilakukan segera esok harinya untuk mengecek kebenaran pohon asal. Benar saja posisi kebun Nurbik memang ideal. Dua pohon juara—pemenang 1 dan 2—umurnya mencapai 129 tahun yang ditanam pada 1885 oleh moyang Nurbik. Keduanya tumbuh di kebun yang terletak di tepi Sungai Kayan. Saat kemarau, perakaran tetap mendapat pasokan air alami berupa air pasang surut yang kaya zat terlarut.

“Air sungai membawa banyak mineral terlarut yang menjadi hara buat durian,” kata Lutfi. Buah yang dipetik dari pohon itu rasanya sama dengan yang disajikan di arena kontes. Sementara lay susu tumbuh di pinggiran bukit yang menampung tanah endapan yang subur dari lahan di atasnya. Taksiran Lutfi produksi berayut mencapai 500 buah dan tembaga 300 buah. Sementara lay susu yang umur pohon baru 12 tahun, masih berbuah 100 buah. Menurut Lutfi produksi itu 2 kali lipat dibanding musim durian biasanya. (Destika Cahyana, peneliti di Kementerian Pertanian, mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *