Vannamei termasuk kategori eurihalin

Vannamei termasuk kategori eurihalin

Lazimnya petambak membudidayakan udang vannamei di air asin. Sukiran membudidayakannya di air tawar.

Dua tambak udang seluas total 6.000 m2 itu istimewa. Sawah dan kebun jagung mengelilingi tambak udang milik Sukiran di Desa Jenggolo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya 10 kilometer dari bibir pantai. Lazimnya tambak berjarak hanya 50—100 m dari garis pantai. Itu karena udang vannamei Litopenaeus vannamei hidup di air asin bersalinitas 20—30 promil.

Sukiran membudidayakan vannamei di air bersalinitas 2—5 promil sejak awal 2014. Pengetahuan budidaya vannamei di air tawar ia peroleh dari tenaga pendamping PT Central Proteinaprima. Karena kadar garam rendah, air pun tidak berasa asin sehingga budidayanya sohor dengan tambak udang air tawar.

Menurut dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman, Purnama Sukardi PhD, sebetulnya air disebut tawar jika kadar garam kurang dari 0,5 promil. “Air payau bersalinitas 0,5—3 promil atau 0,5-30 g per liter air dan air asin memiliki kadar garam lebih dari 3 promil,” katanya.

Adaptasi
Purnama menuturkan, “Biasanya vannamei dibudidayakan di air bersalinitas 20—40 promil.” Namun, si bongkok mampu beradaptasi di air bersalinitas rendah. “Udang vannamei termasuk kategori eurihalin, hewan yang dapat hidup di perairan mengandung kadar garam berbagai tingkat, mulai dari rendah hingga tinggi,” ujar Purnama.

Meski demikian bukan berarti petambak dapat begitu saja membudidayakan vannamei di air tawar. Doktor Biologi Lingkungan alumnus University of New South Wales, Sydney, Australia, itu mengatakan peralihan vannamei dari air asin ke air tawar tetap membutuhkan adaptasi. Penyesuaian itu sebuah keharusan untuk mencegah kematian benur atau bibit udang.

Baca juga:  5 Cara Budidaya Udang Sistem Bioflok Agar Hasil Panen Meningkat

Menurut general manager Technical Partner KaVe PT Central Proteinaprima, Ir Nonot Tri Waluyo, pemeliharaan udang di tambak air tawar hampir sama dengan udang yang dibudidayakan di air asin. “Bedanya hanya proses adaptasi benur,” kata alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya itu. Biasanya di hatchery air kolam bersalinitas 22—30 promil.

Sukiran mengadaptasikan benur di bak adaptasi berukuran 2 m x 3 m dengan kedalaman 1,5 m. Petambak berusia 44 tahun itu mengisi bak adaptasi dengan air laut. Sebelum menebarkan benur di bak adaptasi, ia menambahkan kaporit 30 ppm. Jika kolam adaptasi berair tawar, sebaiknya petambak mendatangkan air laut. “Saya pernah mengadaptasikan benur di air tawar yang diberi garam dan gagal. Angka kehidupannya rendah, 30—40%,” kata Nonot.

Ia pun menyarankan petambak menggunakan air laut untuk proses adaptasi yang relatif mudah. Petambak menambahkan air tawar setiap hari hingga salinitasnya turun. “Dengan kucuran itu setiap hari terjadi pertambahan air kolam sehingga salinitas pun berkurang,” kata Nonot. Biasanya adaptasi berlangsung 8—10 hari hingga angka salinitas mencapai 2—5 promil.

Sukiran memindahkan benur lolos adaptasi itu ke kolam pembesaran berukuran 3.000 m2 sedalam 1,2 m. Padat tebar mencapai 50—60 ekor per m2. Ia memanfaatkan air tanah untuk mengisi tambak pembesaran udang. Kadar salinitas air tanahnya 2—5 promil.

"Peralihan vannamei dari air asin ke air tawar membutuhkan adaptasi," kata Purnama Sukardi PhD

“Peralihan vannamei dari air asin ke air tawar membutuhkan adaptasi,” kata Purnama Sukardi PhD

Mikronutrien
Selama pembesaran, Sukiran memberikan pakan 4—5 kali per hari dengan interval 4 jam. Jumlah pakan disesuaikan dengan bobot udang. Contoh, udang berbobot 3 gram, maka jumlah pakan yang diberikan 7% dari bobot udang per hari. Artinya, satu ekor udang diberi pakan 0,21 gram per hari.

Baca juga:  Cabai Dunia

Jika populasi udang di kolam 100.000 ekor, maka peternak memberi pakan total berupa pellet 21 kg per hari atau sekitar 4—5 kg per sekali pemberian. Pemberian pakan meningkat sekitar 14 % atau menjadi 0,24 g per hari ketika udang berbobot 4 gram per ekor. Menurut Nonot budidaya udang di air bersalinitas rendah perlu beberapa nutrisi tambahan. Harap mafhum di air bersalinitas rendah ketersediaan nutrisi minim.

Nonot menambahkan mikronutrien tertentu agar pertumbuhan udang optimal. “Pemberian mikronutrien 3 gram per kg pakan sekali sehari untuk udang berumur 10—30 hari. Sementara udang berumur di atas 30 hari, frekuensi pemberian mikronutrien menjadi 2 kali per hari,” kata penyelia Technical Partner Ka Ve PT CP Prima, Sumilih SSi. Petambak memanen vannamei di air tawar pada hari ke-100.

Lamanya budidaya itu relatif sama dengan pembesaran di air asin. Ukuran udang siap panen 30—40 ekor per kg. Penambahan nutrisi itu berarti meningkatkan biaya produksi. “Peningkatan biaya produksi udang di air tawar sekitar Rp500 per kilogram udang per siklus dibandingkan di air asin,” kata Sumilih. Padahal, jumlah produksi sama. Sukiran memanen 4 ton udang dari tambak 3.000 m2.

Dengan harga jual Rp88.000 per kg, omzet Sukiran Rp352-juta. Sementara biaya produksi mencapai Rp160-juta per siklus atau Rp2-juta lebih tinggi daripada pembesaran di air asin. Meski biaya produksi lebih tinggi, menurut Nonot budidaya udang di air tawar tetap menguntungkan. Pantas jumlah petambak udang air tawar meningkat. Semula 4 petambak di Tuban, kini menjadi 19 petambak dengan total luas 49 ha. Nonot menuturkan, “Budidaya udang di air tawar menjadi solusi bahwa budidaya udang dapat dilakukan petambak di mana saja, tidak harus di tepi pantai.” (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d