Benteng Ketika Hujan

Benteng Ketika Hujan 1
Hidroponik tanpa atap rentan serangan cendawan

Hidroponik tanpa atap rentan serangan cendawan

Pehidroponik tanpa atap, waspadai Cercospora. Serangannya mengakibatkan kehilangan hasil hingga 40%. Penanggulangannya sederhana: modifikasi larutan nutrisi.

“Ini sayuran daun, tetapi mana daunnya? Cuma ada akar dan pucuk.” Itulah keluhan yang disampaikan pelanggan kepada Roni Arifin, pekebun hidroponik tanpa greenhouse di Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Maklum, konsumen Roni adalah hotel-hotel berbintang dan restoran kelas atas di Jakarta Barat. Mereka tidak mau melihat sayuran kotor, cacat, apalagi rusak. Saat itu, pada Desember 2013—Januari 2014, puncak musim hujan, sayuran hidroponik di lahan 2.500 m2 miliknya terguyur hujan. Selang sehari, muncul bulatan-bulatan cokelat kehitaman yang kian melebar di permukaan daun. Lama-kelamaan tanaman membusuk dan rusak.

Roni terpaksa membuang daun-daun yang rusak sebelum menulari seluruh tanaman. Selain itu, “Kalau ada selembar saja daun rusak, pembeli tidak mau menerima dan mengembalikan kiriman. Mau tidak mau, daun mesti dibuang walau bulatannya hanya kecil,” kata Roni. Menurut Roni, susut bobot akibat banyaknya daun yang dibuang mencapai 40%. Jika biasanya 1 kg hanya berisi 10—12 tanaman, maka pascapembuangan daun, perlu 16—17 tanaman untuk mencapai bobot itu.

Roni Arifin memodifikasi larutan nutrisi untuk menanggulangi cercospora

Roni Arifin memodifikasi larutan nutrisi untuk menanggulangi cercospora

Akibat hujan

Cuaca mendung juga menyebabkan  masa tanam molor. Lazimnya tanaman panen setelah 2 minggu alias 14 hari di meja produksi. Cuaca mendung dan hujan sehari-hari menyebabkan umur panen molor menjadi 21 hari. Total umur tanaman bisa mencapai 42 hari sejak semai. Lazimnya hanya 35 hari. Pemasukan yang hilang pun terbayang tanpa harus mengerutkan kening.

Menurut Dr Widodo, pakar hama dan penyakit di Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, bulatan-bulatan itu muncul akibat serangan cendawan Cercospora sp. Terbentuknya titik-titik kecokelatan yang semakin meluas di permukaan daun menjadi penanda kehadiran makhluk liliput itu. “Kelembapan berlebih, penanaman yang terlalu rapat, serta ventilasi buruk menjadi lingkungan favorit untuk perkembangan dan penyebaran penyakit itu,” kata Widodo.

Baca juga:  Terbukti Sahih Atasi Kolesterol

Serangan mulai dari daun terbawah lalu merambat ke ujung tunas daun. Saat tunas daun terserang, tanaman tamat riwayatnya. Pengalaman Roni, tanaman terserang kalau berada dalam kondisi basah setelah terkena hujan lebih dari 8 jam. Tak hanya percikan air hujan, embun pun menjadi masalah. “Embun dari udara menempel di daun atas lalu menetes dan masuk ke guli alias meja tanam, akibatnya tanaman lain ikut terkena,” kata pria penggemar cabai unik itu.

Cercospora bisa menyerang semua sayuran daun, mulai dari butterhead, romaine, salanova, sampai daun seledri

Cercospora bisa menyerang semua sayuran daun, mulai dari butterhead, romaine, salanova, sampai daun seledri

Menurut Widodo, genus Cercospora meliputi lebih dari 3.000 spesies dan hampir semuanya bersifat patogen terhadap tanaman komersial. Di alam, cendawan itu berjasa menguraikan serasah lantaran mempercepat pembusukan daun yang jatuh. “Semakin cepat serasah terurai, semakin banyak bahan organik yang tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman di sekitarnya,” kata Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, pakar biologi tanah di Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor.

Namun, kalau menyerang tanaman komersial seperti pengalaman Roni, kehadiran Cercospora pun menjadi masalah. Sejatinya perkembangan cendawan itu bisa dihambat dengan penyemprotan fungisida. Dalam Alabama Pest Management Handbook 2, Sonja Brannon Thomas dan tim menyebutkan, bahan aktif yang efektif menghambat perkembangan Cercospora antara lain azoksistrobin, klorotalonil, mankozeb, miklobutanil, dan metil tiofanat. Dosis tergantung jenis tanaman, umur tanaman, tingkat serangan, dan bahan aktif.

Roni menolak menggunakan pestisida. “Konsumen saya bisa lari semua kalau saya semprot pestisida,” kata alumnus Institut Teknologi Indonesia, Serpong, Tangerang Selatan itu. Ia pun memilih cara mekanis: membuang daun terserang. Namun, lama-kelamaan cara itu semakin merepotkan. Sudah begitu, kalau banyak daun yang terserang, bobot tanaman semakin banyak berkurang.

Tangki larutan nutrisi di kebun Roni berkapasitas 3.000 l

Tangki larutan nutrisi di kebun Roni berkapasitas 3.000 l

Modifkasi nutrisi

Baca juga:  Sembuh Luka sang Ratu

Untungnya, hal itu tidak berlangsung lama. Ir Yos Sutiyoso, pakar hidroponik di Jakarta, menganjurkan Roni memodifikasi campuran nutrisi. Yos menyarankan pria kelahiran 59 tahun lalu itu meningkatkan pasokan unsur fosfor, kalium, dan kalsium. Menurut Yos, untuk mencegah serangan cendawan dan mempertahankan kecepatan pertumbuhan meski cuaca mendung, tingkatkan asupan fosfor menjadi 70—80 ppm dari semula 30—50 ppm; kalium 300 ppm (semula 60 ppm); dan kalsium dari 30 ppm menjadi 120 ppm. Dalam 1.000 liter larutan, itu berarti penambahan komponen kalium monofosfat (KMP) dari 30 g menjadi 80 g, KNO3 dari 30 g menjadi 240 g, dan kalsium nitrat  dari 30 g menjadi 120 g.

Konsumen menghendaki sayuran bersih, tidak cacat, dan tidak rusak

Konsumen menghendaki sayuran bersih, tidak cacat, dan tidak rusak

Fosfor tergolong unsur makro yang banyak diperlukan tanaman. Perannya beragam, tetapi yang terpenting adalah sebagai bahan pembentuk inti dan dinding sel, menyimpan cadangan energi hasil fotosintesis, dan pembentuk klorofil. “Asupan fosfor menjadikan dinding sel rapat, sulit ditembus cendawan. Klorofil yang terbentuk juga banyak sehingga fotosintesis tetap menghasilkan energi meski sinar matahari minim,” kata Yos. Kalsium diperlukan untuk menyimpan energi, sedangkan kalium vital untuk pengangkutan nutrisi dari akar ke daun dan penyaluran energi fotosintesis dari daun ke akar.

Tanpa membuang waktu, Roni memodifikasi larutan nutrisi. Tak lama, tampak perubahan nyata. Daun rusak banyak berkurang meski hujan turun tanpa henti. “Kerusakan hanya 5—10%,” ungkap Roni. Siklus panen pun tidak terlalu jauh molor dari 35 hari. Yang terpenting: pembeli tidak lagi mengeluh. Produksi lancar dan pasar terbuka lebar tanpa khawatir cuaca. Kalium dan fosfor terbukti menjadi benteng kokoh bagi tanaman hidroponik yang tumbuh tanpa greenhouse. Untuk mencegah terpaan air hujan langsung sekaligus meredam panas musim kemarau, Roni berencana memasang peneduh dari plastik UV. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x