Bentang Mbeliling Benteng Herba

Hutan banyak menyimpan tanaman obat berkhasiat

Hutan banyak menyimpan tanaman obat berkhasiat

Langit masih temaram ketika Servasius Naman melangkah di tepi pematang. Hari itu ia berniat menyiangi ladang di tepi Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Tiba-tiba ia merasakan nyeri menyengat di atas telapak kaki kanan. Refleks ia mengangkat kakinya dan melihat seekor ular hijau dengan kepala menyudut menjauh dengan cepat. Bagian yang terasa nyeri berbentuk 2 lubang bersebelahan dan mulai mengucurkan darah.

Gigitan ular hijau itulah penyebab nyeri yang menderanya. Akibatnya rencana menyiangi ladang pun batal. Dengan langkah tertatih, Servasius pulang. Sesampai di rumah, bekas gigitan itu mulai membengkak. Dalam hitungan jam seluruh kaki kanannya terasa kebas. Bisa ular menjalar terbawa aliran darah sehingga kelenjar getah bening di pangkal pahanya membengkak. Sekretaris Desa Waesano itu segera mengambil dan menumbuk daun pohon konang Alstonia sp.

Servasius Naman membuktikan khasiat daun konang untuk mengatasi bisa ular hijau

Servasius Naman membuktikan khasiat daun konang untuk mengatasi bisa ular hijau

Tumbukan daun itu ia borehkan ke luka bekas gigitan. Setiap hari ia rutin melakukan itu sampai akhirnya bengkak akibat gigitan bisa ular sembuh total sepekan berselang. Konang bukan sekadar menyediakan daun antibisa ular. Batangnya keras dan liat menjadi kayu berkualitas. Sudah begitu pohon anggota famili Apocynaceae itu tergolong bandel dan tidak pilih-pilih tempat tumbuh. Pohon itu juga Trubus jumpai di bekas sabana gersang di Desa Golomanting dan tepi jalan penghubung Desa Waesano dengan Desa Sanonggoang.

Menurut Aventinus Sadip, pegiat konservasi di Desa Golomanting, Kecamatan Sanonggoang, konang biasanya tumbuh sendiri tanpa penanaman. Aventinus memanfaatkan konang sebagai peneduh tanaman lain yang pertumbuhannya lebih lambat, seperti tilutuna, menggih, dan keci. Anggota genus Alstonia lain yang bermanfaat untuk kayu dan obat adalah luwi. Buah Alstonia spectabilis itu menjadi andalan untuk menanggulangi demam malaria akibat serangan parasit Plasmodium sp.

K Heyne dalam “Tumbuhan Berguna Indonesia” mencantumkan 11 spesies tanaman Alstonia yang tersebar mulai dari Vietnam hingga Australia. Pohon Alstonia terpopuler mungkin pulai Alstonia scholaris, yang kayunya menjadi bahan utama pembuatan papan tulis. Menurut Dr Irdika Mansur MForSc, peneliti silvikultur di Lembaga Penelitian Tanaman Kehutanan SEAMEO Biotrop, Bogor, pulai prospektif untuk ditanam luas. Pasalnya, pulai cepat tumbuh dan adaptif.

Arnoldus Stara mengolah nira aren menjadi sopi, minuman tradisional khas Manggarai

Arnoldus Stara mengolah nira aren menjadi sopi, minuman tradisional khas Manggarai

Meski kini papan dan kapur tulis di sekolah digantikan oleh papan putih dan spidol, kata scholaris—berarti sekolah—telanjur diabadikan sebagai nama ilmiah pulai. Menurut ahli konservasi tanaman obat di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ervizal AM Zuhud, genus Alstonia mengandung flavonoid. “Flavanoid tidak mudah rusak oleh pemanasan maupun penyimpanan sehingga tetap bermanfaat meski dikeringkan,” ungkap Amzu, panggilan akrab Ervizal.

Hutan di Desa Waesano memang menyimpan banyak tumbuhan obat. Pada sebuah perjalanan ke puncak bukit Golodewa, Servasius menunjukkan berbagai tanaman berkhasiat yang kerap dimanfaatkan masyarakat. Tak melulu tanaman kayu yang memberikan manfaat. Wase ajo yang tumbuh menjalar mempunyai sulur yang kuat sehingga kerap dijadikan tali pengikat kayu bakar. Ibu rumahtangga di Waesano menggunakan daunnya untuk memasak. Menurut Servasius, daun wase ajo memperbaiki citarasa daging yang nyaris basi lantaran terlalu lama disimpan.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x