Benih kubis masih impor lantaran iklim di Indonesia tidak cocok

Benih kubis masih impor lantaran iklim di Indonesia tidak cocok

“Kami siap 100%, bahkan 200% pun siap,” kata Muhammad Aris lantang.

Produsen benih dalam negeri ditantang untuk memenuhi kebutuhan sejak munculnya Undang-undang nomor 13 tahun 2010 tentang hortikultura. Pasal 100 ayat 3 Undang-undang itu menyebutkan: Besarnya penanaman modal asing dibatasi paling banyak 30%. Sementara itu Pasal 131 ayat 2 menyebutkan dalam jangka waktu 4 tahun sesudah undang-undang itu mulai berlaku, penanaman modal asing yang sudah melakukan penanaman modal dan mendapatkan izin usaha wajib memenuhi ketentuan dalam Pasal 100 ayat 2, 3, 4, dan 5.

Intinya, pasal-pasal itu kian membatasi campur tangan pihak asing dalam memenuhi kebutuhan benih dalam negeri. Pertanyaannya, mampukah produsen benih lokal memenuhi kebutuhan benih? Sekretaris umum Ikatan Produsen Benih Hortikultura (IPBH) di Jawa Timur, Muhammad Aris menjawab keraguan masyarakat khususnya petani dengan pernyataan di atas. Ia yakin produsen benih dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan benih nasional ketika pemerintah membatasi produsen benih asing.

Fitriansyah Kosim “Indonesia tidak kekurangan benih, bahkan surplus.”

Fitriansyah Kosim “Indonesia tidak kekurangan benih, bahkan surplus.”

Surplus

Keyakinan Muhammad Aris untuk kemandirian benih memang bukan isapan jempol. Kepala Sub Ditjen Benih Sayuran Direktorat Perbenihan Hortikultura, Ir Fitriansyah MSi menyampaikan hal senada. “Sejatinya Indonesia tak perlu bergantung pada impor dan tidak mengandalkan perusahaan benih PMA untuk memenuhi kebutuhan benih dalam negeri. Bahkan produsen benih dalam negeri bisa ekspor,” ujarnya.

Menurut Fitriansyah, luas tanam komoditas hortikultura di Indonesia pada 2012 mencapai 790.926 hektar. “Luasan itu terdiri dari beragam komoditas seperti cabai, tomat, sawi, mentimun, kacang panjang, melon, dan semangka,” ujarnya. Menurut Fitriansyah, pada luasan itu membutuhkan persediaan benih sekitar 4.991.357 kg.

Benih hasil karya anak negeri semakin mendominasi pasar

Benih hasil karya anak negeri semakin mendominasi pasar

Di satu sisi, produsen benih dalam negeri di Pulau Jawa saja yang mencapai 25 perusahaan besar, memiliki kapasitas produksi benih sayuran sekitar 8.000.160 kg per tahun. “Artinya Indonesia tidak kekurangan benih, bahkan surplus,” kata Fitriansyah. Jumlah itu belum termasuk produsen dalam negeri di luar Jawa maupun produsen kelas menengah yang berjumlah sekitar 46 produsen. H Slamet Sulistyono, ketua presidium IPBH mengungkapkan, benih hasil produsen dalam negeri tak kalah berkualitas dengan benih impor maupun benih karya produsen benih PMA di Indonesia.

Adaptif

Presiden komisioner PT Sumber Makmur Agrikultur Indonesia (SMAI), Rudijanto Soetikno, merasakan tren peningkatan penggunaan benih karya anak negeri itu. Pria 63 tahun itu mulai berbisnis benih sejak 1971. Saat itu, semua produk benihnya berasal dari perusahaan benih PMA. Namun sejak 2009 hingga 2014, kondisinya seimbang.

Baca juga:  Kini Kafe Sajikan Herbal

Omzet distributor PT Agri Makmur Pertiwi, produsen benih di Kediri, Jawa Timur, pun meningkat. “Pada 2009, omzet mencapai Rp4-miliar. Pada 2013 sudah mencapai Rp9-miliar,” ungkap Dibyo Pramono, kepala Pemasaran wilayah timur PT Agri Makmur Pertiwi. H Slamet Sulistyono yang juga Direktur PT Benih Citra Asia (BCA), produsen benih dalam negeri di Jember, Jawa Timur, turut merasakan tren permintaan benih dalam negeri.

Benih peria dalam negeri sudah masuk pasar internasional

Benih peria dalam negeri sudah masuk pasar internasional

“Penjualan benih meningkat dari tahun ke tahun mencapai 30%,” ujarnya. Total produksi PT BCA sekitar 1.600 ton per tahun, atau meningkat 400-an ton per tahun. Itu indikasi bahwa kualitas benih produksi perusahaan dalam negeri bermutu tinggi sehingga para petani pun mempercayainya. Petani di Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Hendi Lestari, membuktikan bahwa benih dalam negeri lebih adaptif daripada benih impor, terutama saat musim hujan.

“Misalnya pada sawi hijau, benih dalam negeri hanya mengalami sekitar 5% tingkat erangan layu batang, sementara dari perusahaan asing bisa sampai 70%. Kalau pada musim kemarau sama-sama kuat,” kata Hendi. Produktivitas pun lebih tinggi. Hendi pernah menanam sawi dengan benih dalam negeri dan mengasilkan 1.200 kg per ha. Sementara pada kesempatan lain, ia juga menanam sawi asal benih produk asing yang menghasilkan 900 kg per ha.

Menurut Rudijanto Soetikno, kecenderungan petani menggunakan benih hasil produksi dalam negeri lantaran tingkat adaptasinya lebih bagus. Handoko, pemilik UD Gangsar sebagai distibutor benih di Batu, Jawa Timur, menyampaikan hal senada. “Benih hasil produksi anak negeri masih bersaing dengan benih dari perusahaan PMA. Kadang-kadang kualitas benih dalam negeri lebih bagus dengan harga lebih murah 20%,” katanya. Contoh harga benih jagung PT Agri Makmur Pertiwi Rp40.000, sementara benih asing, Rp60.000 per kg.

Keunggulan lain produsen benih dalam negeri adalah kecepatannya dalam menanggapi permasalahan distributor maupun petani di lahan. Handoko membeli 10 ton benih jagung kadaluwarsa dari produsen benih PMA. Ia rugi Rp500-juta lebih sehingga berharap produsen asing bertanggung jawab. Ia lebih repot berurusan dengan produsen karena lokasinya di mancanegara.

Boleh impor

Tidak semua benih komoditas pertanian terlarang impor. Importir tetap dapat mendatangkan benih dari luar negeri. Itu untuk benih tanaman yang belum bisa diproduksi di dalam negeri seperti benih kubis, sawi putih, dan brokoli. Indonesia belum mampu memproduksi benih tanaman anggota famili Brassicaceae itu lantaran iklim yang tidak cocok. “Untuk menghasilkan benih kubis misalnya, produsen membutuhkan suhu 50C,” kata Aris.

Baca juga:  Mutu Sarang Burung

Selain itu, keran impor benih juga terbuka saat gagal produksi di dalam negeri. Kegagalan itu karena bencana alam atau kemarau panjang sehingga para produsen gagal memproduksi benih. Ketika Gunung Kelud di Jawa Timur meletus pada Maret 2014, Indonesia benar-benar sanggup mandiri benih. “Saat bencana Gunung Kelud, kebutuhan benih petani di Jawa Timur mencapai ribuan ton. Semuanya bisa ditanggulangi hanya dari produsen benih di Jawa Timur. Semua benih diberikan gratis, tanpa bantuan pemerintah sedikit pun,” kata Fitriansyah.

Mulyono Herlambang, SP, MM, Direktur CV Multi Global Agrindo, mengekspor benih ke berbagai negara seperti Korea Selatan dan Jepang

Mulyono Herlambang, SP, MM, Direktur CV Multi Global Agrindo, mengekspor benih ke berbagai negara seperti Korea Selatan dan Jepang

Dengan adanya Undang-undang hortikultura nomor 13 tahun 2010, pasal 100 ayat 3 dan pasal 131 ayat 2, maka Indonesia berdaulat setidaknya di bidang perbenihan nasional. “Dari pihak yang kontra undang-undang itu, menginginkan perusahaan asing masih bisa menanamkan modal lebih dari 30% bahkan hingga 100% sekalipun,” kata Dr Ir H Yul Harry Bahar, sekretaris Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan). Menurut Yul Bahar, hingga saat ini tercatat ada 15 perusahaan sementara perusahaan dalam 49 perusahaan. “Perusahaan sampai 50% menguasai Yul.

Menurut Fitriansyah, yang diproduksi perusahaan benih PMA, pasti bisa juga dihasilkan perusahaan dalam negeri. Itu karena untuk menghasilkan benih unggul sangat bergantung pada sumber daya manusia. Sementara sebagian besar produsen benih mengandalkan para pemulia dalam negeri. “Sekitar 80% pemulia di Indonesia adalah putra bangsa,” ujarnya. Belum lagi ditambah teknologi dan kapasitas produksi yang besar dari masing-masing produsen benih dalam negeri.

Contoh PT Agri Makmur Pertiwi berkapasitas produksi benih 15.000 ton per tahun. Perusahaan itu mengunggulkan benih jagung varietas pertiwi-3. “Pertiwi-3 unggul dari segi produktivitas yang tinggi dengan potensi hasil mencapai 13,37 ton per ha dan tahan penyakit bulai,” kata Dibyo. Sementara PT Benih Citra Asia mengandalkan kacang panjang lumut dengan potensi hasil 25 ton per hektar dan berumur genjah 38 hari setelah tanam. Adapun CV Bunga Matahari Seed, produsen benih dalam negeri di Karangploso, Malang, Jawa Timur, memiliki tomat hibrida bernama santika f1 dengan produktivitas 3 – 3,5 kg per tanaman serta toleran penyakit layu bakteri dan antraknosa.

Para produsen itu pun mempunyai pasar di seluruh Nusantara meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat,

Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tak hanya berbicara di dalam negeri, produsen benih dalam negeri pun mengekspor benih. CV Multi Global Agrindo, produsen benih di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, mengekspor 2 – 3 ton benih hortikultura seperti melon, mentimun, terung, dan peria setiap tahun. “Produk benih itu dikirim ke berbagai negara seperti Korea Selatan dan Jepang dengan nilai ekspor Rp3-miliar – Rp4- miliar,” kata Mulyono Herlambang, SP, MM, direktur perusahaan. Dengan berdaulat di bidang benih, pertanian Indonesia semakin jaya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d