Benedictus Bobby Chrisenta kini mengembangkan domba garut

Benedictus Bobby Chrisenta kini mengembangkan domba garut

Usia Benedictus Bobby Chrisenta baru 17 tahun ketika kakaknya, Abdi Christian, membawakan biang kefir ke rumahnya di Kotamadaya Batu, Provinsi Jawa Timur. Christian, mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Gadjah Mada dan menetap di Yogyakarta. Biang kefir menjadi babak baru bagi kehidupan Bobby.

Mulailah anak kedua dari tiga bersaudara itu membuat kefir atas panduan Abdi Christian. Kebetulan rumah mereka dekat peternakan sapi perah sehingga mudah memperoleh susu sebagai bahan baku kefir. Percobaan pertama membuat minuman kesehatan itu berhasil. Pada hari berikutnya Bobby membuat 2 liter kefir berbahan susu sapi. Ia menawarkan produk bikinannya itu kepada beberapa gurunya di SMA Negeri I Batu, teman, dan orang tua sahabatnya.

Susu kambing beku berbahan baku kefir

Susu kambing beku berbahan baku kefir

Wirausahawan
Pada 2005 kefir belum sepopuler sekarang. Itulah sebabnya Bobby mesti menjelaskan detail soal kefir kepada calon konsumen. “Saya harus menjelaskan apa itu kefir, apa manfaat bagi kesehatan,” ujar pria kelahiran 1 Maret 1988 itu. Upaya pemasaran itu membuahkan hasil, gurunya akhirnya melanggani kefir bikinan Bobby. Begitu juga orang tua teman-temannya.

Selain itu Bobby menyasar para pasien yang baru keluar dari rumahsakit. Strategi itu jitu sehingga permintaan terus meningkat. Jika semula produksi kefir hanya 2—3 liter per hari, lamakelamaan meningkat menjadi puluhan liter per hari seiring dengan banyaknya permintaan. Ayahnya, Robertus Handono, membantu memasarkan dengan membentuk agen penjualan di Batu dan Malang, Provinsi Jawa Timur. Volume penjualan terus meningkat seiring dengan kesadaran konsumen akan manfaat minuman kesehatan itu.

Kefir berasal dari susu kambing tanpa pasteurisasi

Kefir berasal dari susu kambing tanpa pasteurisasi

Enam bulan setelah rutin membuat kefir berbahan susu sapi, Bobby akhirnya beralih ke susu kambing. Sebab kadar alergen pada susu kambing lebih rendah, sedangkan kalsium dan florin tinggi. Meski demikian anak muda itu tetap membuat kefir berbahan baku susu sapi jika ada permintaan khusus dengan merek Biohealth. Ia membuat kefir dari susu segar tanpa pasteurisasi untuk menjaga enzim tak rusak. Rendemen kefir 100%. Artinya seliter kefir berasal dari seliter bahan baku.

Baca juga:  Kefir Akhiri Flek Paru

Pada saat booming pada 2008—2009, keluarga Bobby sanggup menjual hingga 600 liter kefir atau 1.200 botol per bulan sebulan. Meski tidak pernah promosi, mereka tidak kehilangan agen yang umumnya loyal.

Kemasan kefir berupa botol plastik food grade

Kemasan kefir berupa botol plastik food grade

Sejak belia
Naluri bisnis Bobby tampaknya muncul sejak belia. Saat duduk di bangku sekolah dasar kelas empat pada 1998, ia beternak ikan cupang. Ia betul-betul menangkarkan jantan dan betina, menghasilkan burayak, menyeleksi burayak, membesarkan, kemudian melatihnya. Ia melatih cupang dengan pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter setengah inci dan berbentuk huruf U.

Instruktur outbond itu lantas mengisi pipa PVC dengan air, memasukkan cupang di sebuah lubang, sehingga ikan akan berenang dan keluar di lubang satunya lagi. Panjang terowongan pipa semula 30 cm. JIka ikan mampu melewati rintangan itu, Bobby memperpanjang terowongan dengan pipa lain menjadi 50 cm, 70 cm, dan terakhir 100 cm. Ikan-ikan yang mampu melewati pipa itu menjadi cupang unggulan. Wajar jika pedagang ikan memajang ikan hasil biakan Bobby di rak teratas.

Benedictus Bobby Chrisenta menangkarkan cupang adu ketika belia

Benedictus Bobby Chrisenta menangkarkan cupang adu ketika belia

Cupang-cupang lolos seleksi ia jual ke pasar ikan Splendid, Kota Malang. “Uang hasil penjualan cupang saya serahkan ke Mama. Menjual satu ikan saja cukup untuk membayar SPP sebulan,” kata Bobby. Saat SMP ia beralih pada budidaya kenari. Dari 2 pasang kenari yorkshire Bobby membiakkan hingga menjadi 250 kenari. Kemudian di bangku SMA ia menjadi produsen kefir dan distributor es krim. Namun, Bobby harus meninggalkan jagat bisnis itu pada 2008. Saat itu ia menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Meski demikian bisnis kefir tetap berjalan. Kedua orangtuanyalah yang akhirnya meneruskan bisnis itu. Bobby yang menjadi dokter hewan pada 2014—2 tahun cuti kuliah—itu kini menggeluti domba garut. Ia bekerja sama dengan penangkar domba garut kenamaan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Rahmat Priyatna pada 2014. (Sardi Duryatmo)

Baca juga:  Kefir Berkhasiat

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d