Jagung (Zea mays) temasuk tumbuhan serealia seperti padi, gandum yang dikonsumsi sebagai sumber makanan pokok di beberapa wilayah seperti Madura, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi serta Jawa Tengah. Jagung bisa tumbuh di hampir semua wilayah di Indonesia bahkan di daerah yang kering sekalipun. Banyaknya hasil jagung di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, terutama serangan penyakit. Berikut akan dibahas beberapa penyakit penting pada tanaman jagung juga bagaimana cara pengendaliannya.

Bulai (Peronosclerospora maydis)

Penyakit Bulai ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik, ciri lainnya ialah pada pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih. Penyakit bulai pada tanaman jagung dapat menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal. Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Srikandi, Lamuru serta Gumarang. Selain itu, bisa dilakukan penanaman serempak dan melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan di setiap tahunnya. Jika sudah ada yang terinfeksi bisa dilakukan eradikasi atau pemusnahan total. Untuk pencegahan juga bisa digunakan fungisida metalaksil pada benih tanaman dengan dosis 0,7 gram bahan aktif pada tiap kg benih.

Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn)

Gejala penyakit ini terjadi ketika muncul bercak daun berwarna hijau kekuningan atau cokelat kemerahan. Ketika bibit jagung yang terkena bisa layu atau mati dalam waktu 3-4 minggu. Jika tongkol yang terinfeksi akan menyebabkan biji rusak dan busuk, bahkan tongkol bisa gugur. Infeksi penyakit ini bisa terbawa angin atau percikan air hujan dan bisa menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Bima 1, Sukmaraga, dan Palakka. Jika terlihat tanaman yang sudah terinfeksi maka harus segera dieradikasi. Dapat pula dilakukan pemberian fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim.

Hawar Daun (Rhizoctonia solani)

Gejala penyakit ini terjadi ketika muncul bercak kerdil berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk elips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar. Bercak berwarna hijau keabu-abuan atau coklat dan muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Saat infeksi sudah berat dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Bisma, Pioner 2 dan 14, serta Semar 2 dan 5. Jika terlihat tanaman yang sudah terinfeksi maka harus segera dieradikasi. Dapat juga dilakukan dengan menggunakan cendawan antagonis Trichoderma viride dan pemberian fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.

Karat Daun (Puccinia polysora)

Gejala penyakit ini terjadi ketika timbul bercak-bercak kecil berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas juga bawah. Bercak ini menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat bisa terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Lamuru, Sukmaraga serta Semar 10. Jika terlihat tanaman yang sudah terinfeksi maka harus segera dieradikasi. Dapat juga dilakukan pemberian fungisida dengan bahan aktif benomil.

Busuk Batang (Fusarium sp.)

Gejala penyakit ini umumnya terjadi setelah fase pembungaan. Pangkal batang jagung yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecokelatan, bagian dalam menjadi busuk, sehingga mudah roboh, pada bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang yang terinfeksi penyakit tersebut ada yang memperlihatkan warna merah jambu, merah kecokelatan atau coklat. Penyakit ini dapat disebarkan oleh angin, air hujan serta serangga.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti BISI-1, Surya, CPI-2 serta Pioneer-8. Selain itu bisa dilakukan pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah, juga pembuatan drainase yang baik untuk mencegah serangan. Dapat juga dilakukan pengendalian hayati dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.

Sumber : f a r m i n g . i d