Menyebarkan pengetahuan mutakhir bidang pertanian kepada calon transmigran, petani, dan masyarakat umum.

Materi budidaya sayuran sistem hidroponik merupakan salah satu pelatihan yang diselenggarakan Balai Besar Latihan Masyarakat, Sleman.

Materi budidaya sayuran sistem hidroponik merupakan salah satu pelatihan yang diselenggarakan Balai Besar Latihan Masyarakat, Sleman.

Penghasilan Nur Wakim sebagai pedagang buah keliling tidak menentu. Saat mujur, ia bisa membawa pulang Rp80.000—Rp100.000 sehari. Namun bila nasibnya kurang baik, warga Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, itu hanya mendapatkan Rp20.000. Keruan saja Nur kesulitan memenuhi kebutuhan dapur keluarga.

Untuk meningkatkan pendapatan, ia belajar menanam tanaman sayur di pekarangan rumah. Nur Wakim terpilih sebagai salah satu perwakilan Kabupaten Jombang untuk mengikuti pelatihan di Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Yogyakarta. Pada 23 Agustus 2016, ia berangkat bersama 14 rekan untuk mengikuti pelatihan hidroponik. Usai mengikuti pelatihan selama 8 hari, Nur membudidayakan kangkung, selada, tomat, dan cabai.

Pusat pelatihan

Dari perangkat hidroponik 90 lubang di pekarangan berukuran 1 m x 2,25 m, pria 30 tahun itu bisa memangkas pengeluaran sebesar Rp10.000 setiap hari. Selain mengurangi pengeluaran belanja harian, penanamanan sayuran itu juga memberikan pemasukan lantaran Nur menjual kelebihan sayuran kepada tetangga sekitarnya. Meskipun tidak banyak, hasil penjualan itu sangat berarti baginya.

Drs Herwanto Supangat MM, kepala Balai Besar Latihan Masyarakat.

Drs Herwanto Supangat MM, kepala Balai Besar Latihan Masyarakat.

Ia berencana memperbesar skala budidaya hidroponik agar penghasilan lebih banyak. Nur Wakim satu dari ratusan alumni BBLM yang sukses meraih harapan. Semula balai yang berada di bawah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi itu “sekadar” balai besar latihan ketransmigrasian. Tantangan mempersempit kesenjangan kesejahteraan membuat BBLM memperoleh mandat memperluas lingkup kegiatan.

Lembaga itu menggelar berbagai pelatihan keterampilan seperti menjahit, membatik, kerajinan tangan, pertanian, dan peternakan. Wilayah kerja BBLM Sleman meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kepala BBLM, Drs Herwanto Supangat MM menjelaskan, pelatihan kewirausahaan di BBLM bertujuan membantu masyarakat menemukan potensi dan peluang di desa masing-masing.

Baca juga:  Merawat Sayuran Bunga

Pelatihan di BBLM gratis tanpa memandang usia maupun latar belakang pendidikan. Pelatihan bisa dilakukan di kantor BBLM atau di daerah yang membutuhkan. Selama 8 hari masa pelatihan, peserta memperoleh dasar keilmuan dan yang langsung mereka praktikkan. “Kami harap usai pelatihan, peserta bisa menjadi tenaga profesional yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat,” kata Herwanto.

Peserta pelatihan di Balai Besar Latihan Masyarakat, Sleman.

Peserta pelatihan di Balai Besar Latihan Masyarakat, Sleman.

BBLM menggerakkan swadaya masyarakat dengan 3 kegiatan utama, yaitu pelatihan, pendampingan, dan penyuluhan. Di lahan seluas 6 ha di Kecamatan Tridadi, Kabupaten Sleman, fasilitas di BBLM antara lain terdiri atas kantor, asrama, ruang menjahit, membatik, kerajian tangan, pertanian, dan peternakan. Selain bangunan, tersedia juga fasilitas berupa lahan pertanian, rumah tanam, kumbung jamur, dan peternakan percontohan seperti peternakan sapi, kambing, unggas, dan perikanan.

Inovasi

Selain di Tridadi, BBLM juga memiliki lahan percontohan seluas 1,5 ha di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Di sana terdapat lahan percontohan peternakan, kebun budidaya sayuran, kakao, perkebunan kayu keras, dan tanaman buah-buahan seperti salak, durian, avokad, dan stroberi. Teknologi menanam di lahan sempit seperti hidroponik, akuaponik, dan vertikultur juga diajarkan.

Teknologi itu menjadi salah satu andalan karena efektif meningkatkan perekonomian masyarakat seperti pengalaman Nur Wakim. Teknik hidroponik yang diajarkan kepada para peserta antara lain nutrient film technique (NFT), wick system, dan rakit apung. Selain teknik budidaya, BBLM juga mengajarkan perakitan kit, pengaturan nutrisi, pembibitan, perawatan, sampai panen.

Pujo Rahmat Wicaksono SP (kiri) dan Bayu Kristianto S.Pt (kanan) anggota staf penelitian dan pengembangan demplot Balai Besar Latihan Masyarakat.

Pujo Rahmat Wicaksono SP (kiri) dan Bayu Kristianto S.Pt (kanan) anggota staf penelitian dan pengembangan demplot Balai Besar Latihan Masyarakat.

Koordinator penelitian dan pengembangan demplot, Pujo Rahmat Wicaksono, SP,  menuturkan, pelatihan mendatangkan pemateri dari kalangan tenaga ahli, peneliti, praktikus, pengepul yang bersedia menerima hasil panen, bahkan motivator. “Peserta tinggal memilih bidang yang cocok,” kata Pujo. Untuk meningkatkan kemampuan calon petani, BBLM mengembangkan pertanian yang memadukan pertanian dan peternakan atau perikanan.

Baca juga:  Potensi sorgum tidak tergali dengan maksimal

Sistem zero waste and low external input dipilih karena efektif. Menurut Bayu Kristianto, SPt, anggota staf penelitian dan pengembangan BBLM, limbah pertanian dimanfaatkan sebagai pakan ternak, limbah padat ternak dijadikan kompos, sedangkan kotoran cair ternak menjadi pupuk cair untuk tanaman budidaya. Cara itu efektif memangkas kebutuhan asupan dari luar sistem seperti pupuk atau pakan ternak, yang mengurangi biaya.

BBLM juga mengembangkan biogas dari kotoran sapi. Ketika Trubus berkunjung, ia mempraktikkan penggunaan kompor berbahan biogas untuk memanaskan air. Inovasi lain lembaga yang baru berumur 1,5 tahun itu adalah penanaman ubijalar cilembu dalam polibag. Dengan cara itu, umbi panen sebulan lebih cepat daripada di lahan. Umbi pun utuh karena pemanenan mudah.

Budidaya ayam jowo super atau ayam joper juga menjadi andalan pelatihan peternakan. Ayam hasil silangan petelur dan bibit unggulan lokal itu menghasilkan ayam pedaging dengan 70% rasa ayam kampung tetapi masa panen kurang dari 2 bulan. Melalui berbagai pelatihan itu, Herwanto Supangat berharap BBLM menginspirasi masyarakat dan menjawab tantangan ekonomi masyarakat desa. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d