Pendapatan sebagai pemimpin cabang bank terlampaui dari usaha kebun bunga

Pendapatan sebagai pemimpin cabang bank terlampaui dari usaha kebun bunga

Pensiun dini kemudian menekuni bisnis tanaman hias.

Beragam tanaman hias di pot seperti anthurium, palem waregu, filodendron, dan aglaonema berjajar rapi. Total jenderal Bayu Abriansyah mengepotkan 20—30 jenis tanaman hias dalam ribuan pot plastik dan keramik. Pot berdiameter 20—40 cm itu tampak bersih, daun-daun tanaman hias mengilap. Bayu merawat tanaman hias itu agar tetap prima untuk disewakan di berbagai perkantoran di Cirebon dan Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

Semula ia hanya merentalkan tanaman hias di sebuah kantor pada 2007. Menurut Bayu tanaman tertentu seperti aglaonema dan filodendron tahan hingga 5—7 hari dalam ruangan berpendingin, Lebih dari itu, kondisi tanaman menurun. Oleh karena itu ia akan mengganti tanaman sesuai kemampuan bertahan dalam ruangan. Tujuannya agar penampilan beragam tanaman hias itu tetap apik.

Aneka aglaonema langka koleksi Bayu Abriyansyah

Aneka aglaonema langka koleksi Bayu Abriyansyah

Sebulan Rp33-juta
Penggantian tanaman kunci utama berbisnis rental. Oleh karena itu ia memberi label tertentu pada setiap tanaman, pekan 1, pekan 2, pekan 3, atau pekan 4. Tanaman berlabel pekan 1 akan menghiasi ruangan di pekan pertama. Setelah itu Bayu akan mengeluarkannya selama 5 pekan untuk memulihkan kondisinya. Selama masa pemulihan, Bayu menggantikan dengan pot berlabel pekan 2.

Demikian seterusnya hingga tanaman pekan pertama kembali dipakai. Dengan penggantian cepat, kondisi tanaman terjaga sehingga bisa bertahan hingga setahun. Menyewakan tanaman hias di perkantoran Jakarta sempat marak pada 1990-an. Bayu juga semula berbisnis penyewaan tanaman di Jakarta. Ketika itu penggantian tanaman setiap 10 hari untuk mengurangi biaya transportasi. Harap mafhum Jakarta sangat macet sehingga menguras biaya. Dampaknya tanaman tidak dapat bertahan lama karena kondisinya cepat menurun, yakni daun tidak segar. Itulah sebabnya Bayu kemudian berpindah ke Cirebon.

Dalam hal pemasaran, ia memberikan fee kepada mitra yang memasarkan. Misalnya petugas keamanan di suatu perkantoran menyodorkan kepada atasannya untuk merental tanaman milik Bayu. Kiat itu—menghadirkan tanaman hias terbaik dan tip—mempermudah Bayu untuk menyewakan penghias ruangan.

Mampu bertahan 7 hari di dalam ruangan

Mampu bertahan 7 hari di dalam ruangan

Dalam 7 tahun, pelanggannya kian banyak mencapai 11 perkantoran. Saat ini omzet rental tanaman mencapai Rp33-juta per bulan dan menjadi salah satu kunci kelangsungan nurserinya. Sebab, pendapatan dari penyewaan tanaman hias relatif ajek, sedangkan omzet penjualan tanaman hias pot sangat fluktuatif. Selain berbisnis rental tanaman, ayah 2 anak itu juga menekuni bisnis tanaman hias pot. Di lahan 5.000 m2 ia mengembangkan beragam tanaman hias seperti aglaonema, anthurium, sansevieria, puring, adenium, dan tanaman hias lain.

Baca juga:  Kerjasama Ekonomi Indonesia dan Belgia

Nasib baik Bayu rupanya terbuka di Cirebon. Faktor lingkungan di kebun sangat baik sehingga tanaman cepat tumbuh dan berkembang biak. “Air disini sangat jernih tanpa endapan,” ungkap pria 51 tahun itu. Untuk media, ia menggunakan campuran sekam bakar 35%, kaliandra 2,5—5%, pasir malang 15 %, zeolit 10%, dan 35% sekam mentah. Suhu daerah wisata itu juga sejuk 18—280C sehingga setiap pekan ramai pengunjung.

Aneka aglaonema langka koleksi Bayu Abriansyah

Aneka aglaonema langka koleksi Bayu Abriansyah

Pensiun dini
Bayu mengenal tanaman hias ketika menjadi pemimpin sebuah bank pemerintah pada pertengahan 2005. Ia diberi target untuk terus meningkatkan omzet. Ketika target tercapai, ia pun harus berusaha menjaga pelanggan tetap loyal menabung atau meminjam ke perusahaannya. Akibatnya perasaan stres seolah tak kunjung berakhir. Untuk mengurangi tekanan akibat pekerjaan, kelahiran Bogor 1963 itu memelihara tanaman aglaonema sehingga perhatiannya teralih dari pekerjaan.

Ia mulai mengumpulkan tanaman anggota keluarga Araceae itu saat menjadi kepala cabang di Cirebon, Jawa Barat. Meski tinggal di daerah, koleksinya tidak kalah lengkap dari kolektor di Jakarta dan sekitar. Hampir semua jenis aglaonema eksklusif ia pelihara. Saat siam aurora baru keluar, ia sudah berani membelinya dengan Rp2,5-juta. Ia juga membeli aglaonema tamara Rp12-juta untuk 2 ruas batang tanpa daun, francis red berdaun 14 lembar Rp8,5 juta. Francis red adalah silangan Gregori Hambali yang dirilis terakhir pada 2012.

Selain itu ia mengoleksi aglaonema langka, seperti paulina, saraswati, widya, dan alicia. Juga ada kiera aglaonema asal Thailand, legacy ungu, merah putih, yaitu sebelah berdaun putih dan sebelah berdaun merah. Ketika tidak ada lagi silangan baru yang muncul, ia pun membidik aglaonema berdaun mutasi. Di kalangan penggemar aglaonema, Bayu sohor sebagai kolektor aglaonema mutasi. Setiap menemukan daun mutasi, ia berusaha untuk mendapatkannya.

Baca juga:  Trotol Mengancam Bawang Merah

Saat dipindahtugaskan ke Jakarta pada 2006, koleksi aglaonema itu ditinggalkan di kebunnya di kawasan wisata Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Namun, hobinya pada tanaman tidak pupus. Ia bahkan menambah keragaman tanaman koleksi dengan menyasar tanaman hias lain, yaitu anthurium, philodendron, palem-paleman, bromelia, dan anggrek. Koleksi tanaman pun terus bertambah lantaran rajin memisahkan anakannya. Halaman rumahnya di Bogor kembali penuh tanaman.

Ruang pajang aneka tanaman hias berkembang baik di Cirebon

Ruang pajang aneka tanaman hias berkembang baik di Cirebon

Pada 2006 ia mendapat kabar dipindahkan ke bank cabang lain untuk ke-15 kalinya. Dengan pertimbangan keluarga, Bayu menolak tugas itu dan mengajukan surat pensiun dini untuk mengakhiri kariernya di dunia perbankan yang telah dijalani belasan tahun. Untuk mengisi waktu sekaligus memberi penghasilan, ia memanfaatkan hobinya memelihara tanaman hias sebagai sandaran hidup keluarga. Kebun tempatnya memelihara tanaman hias, disulap menjadi ruang pajang tanaman.

Peluang usaha itu kemudian ia lebarkan ke segmen penyewaan tanaman. Ia memasok ke-6 perkantoran di Jakarta. Setiap pekan, ia melakukan penggantian tanaman sekaligus mengambil tanaman lama. Sayangnya, kemacetan di Jakarta membuat usahanya harus ditutup. “Biaya transpor dari Bogor ke Jakarta dan sebaliknya lebih besar dari biaya sewa tanaman,” ungkap pria tinggi besar itu. Pada 2007 ia kembali ke Cirebon dan merintis usaha penyewaan tanaman hias yang bertahan hingga kini. (Syah Angkasa)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d