Bawang Merah: Produksi 21 Ton/Ha

Umbi lapis bawang merah agrihort 1 hasil pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran

Umbi lapis bawang merah agrihort 1 hasil pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran

Dua varietas baru bawang merah, produksi mencapai 21 ton per ha.

Pekebun bawang merah rata-rata memanen 12—15 ton per ha. Para periset Balai Penelitian Tanaman Sayuran kini merilis bawang merah, agrihort 1 dan agrihort 2, yang berpotensi menghasilkan 20—21 ton per ha. Kenaikan rata-rata 5—8 ton per ha itu amat signifikan. Ketika harga jual di tingkat pekebun Rp6.000—7.000 per kg seperti sekarang, artinya pekebun mendapat tambahan omzet Rp30-juta—Rp56-juta.

Sudah begitu biaya produksi lebih rendah. Lazimnya pekebun memerlukan 1,3—1,5 ton umbi sebagai bibit. Harga benih mencapai Rp25.000—Rp35.000 per kg atau total Rp25-juta—Rp52,5-juta. Karena volumenya besar, maka pekebun juga memerlukan truk untuk mengangkut benih ke lahan. Sementara jika memanfaatkan varietas agrihort 1 datau agrihort 2, petani hanya memerlukan 2—3 kilogram benih. Harga biji agrihort hanya Rp1,5-juta per kg.

Produktivitas bawang merah lokal dari umbi rata-rata 12—15 ton per ha, TSS agrihort 1 dan 2 berpotensi menghasilkan 20—21 ton per ha.

Produktivitas bawang merah lokal dari umbi rata-rata 12—15 ton per ha, TSS agrihort 1 dan 2 berpotensi menghasilkan 20—21 ton per ha.

Populasi tinggi
Untuk pengadaan benih, petani yang menanam agrihort 1 lebih hemat Rp21,5-juta—Rp48-juta per kg. Keduanya memang merupakan true seed sallot sehingga penanaman menggunakan biji, bukan umbi lapis. Menurut periset di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Joko Pinilih SP MP, kedua varietas itu memang untuk menekan biaya produksi. “Petani tak perlu menyewa truk untuk menanam bawang merah,” katanya.

Selain itu produksi akan meningkat karena jarak tanam untuk agrihort bisa lebih rapat yaitu 10 cm x 10 cm atau 10 cm x 15 cm karena berasal dari biji. Dengan demikian populasi mencapai 470.000 tanaman per ha. Pekebun yang menanam bawang asal umbi lapis berjarak tanam 20 cm x 20 cm sehingga total populasi 250.000 tanaman per ha. Menurut Joko agrihort bukan jenis hibrida. Artinya petani bisa memanfaatkan hasil panen untuk penanaman pada periode berikutnya.

Populasi agrihort 2 lebih tinggi mencapai 470.000 tanaman

Populasi agrihort 2 lebih tinggi mencapai 470.000 tanaman

Periset alumnus Universitas Gajah Mada itu mengatakan agrihort 1 varietas baru hasil pemuliaan dengan induk maja. Bawang merah maja menurunkan keunggulannya berupa keseragaman pertumbuhan. Kelebihan agrihort 1 di antaranya adalah keseragaman pertumbuhan yang baik, dan potensi produksi yang tinggi. Agrihort 1 bawang merah bersari bebas dengan tinggi tanaman 37,6–37,93 cm. Bentuk penampang daun silindris, panjang daun 30,2–34,7 cm, dan diameter daun 0,45–0,70 cm.

Setiap umbi terdiri atas 9—13 daun berwarna hijau. Bentuk karangan bunga seperti payung dan berwarna putih. Sebelum penanaman di lahan, petani yang menanam agrihort harus menyemaikan biji lebih dahulu. Bibit berumur 35 hari baru siap pindah ke lahan. Agrihort 1 mulai berbunga pada 29—36 hari setelah tanam (HST). Adapun umur panen 66—68 hari sejak penanaman di lahan.

Tanaman siap panen jika 80% batang melemah. Bentuk umbi agrihort 1 bulat pipih berdiameter 3,33—3,42 cm dan berwarna merah. Adapun untuk biji, berbentuk segitiga dan berwarna hitam. Bobot per 1.000 biji mencapai 3,1—3,6 gram sementara bobot rata-rata umbi 21,61 – 34,42 gram. Joko menuturkan agrihort 1 menghasilkan 1—2 umbi per rumpun dengan bobot rata-rata 26,2 – 46,12 g. Umbi berdaya simpan 3—4 bulan pada suhu ruang (25—27°C).

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x