Bawang Andalan Bima 1
Bawang merah dari Bima berkualitas ekspor, mengisi pasar mancanegara seperti Singapura dan Vietnam.

Bawang merah dari Bima berkualitas ekspor, mengisi pasar mancanegara seperti Singapura dan Vietnam.

Bawang merah bima menjadi juara di kontes sayuran Pekan Flora Flori Nasional 2015.

Dinding-dinding rumah warga Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, amat khas. Untaian umbi bawang merah menghiasi dinding. Jumlahnya mencapai ratusan kilogram per rumah. Itulah cara warga mengeringkan hasil panen Allium cepa. Bahkan jika digabungkan dari setiap rumah bisa mencapai ratusan ton bawang merah yang tersedia setiap saat.

“Bulan Juni sampai Agustus bisa lebih banyak lagi. Semua rumah menggantungkan hasil panennya untuk dijual sebagai bibit,” ujar A Salam Idris, penangkar bibit bawang merah di Bima. Hampir semua warga di Desa Ngali berprofesi sebagai petani bawang. Setidaknya 700 ha lahan bawang merah tersedia pada musim kemarau. Menurut Salam, Ngali merupakan desa pertama yang menanam bawang merah bima.

Direktur Jenderal Hortikultura, Dr Ir Spudnik Sudjono K MM didampingi Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr TGH M Zainul Majdi, memuji kualiatas super philip dari Bima saat acara pembukaan Festival Hortikultura di Mataram, Lombok, NTB.

Direktur Jenderal Hortikultura, Dr Ir Spudnik Sudjono K MM didampingi Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr TGH M Zainul Majdi, memuji kualiatas super philip dari Bima saat acara pembukaan Festival Hortikultura di Mataram, Lombok, NTB.

Sepanjang tahun
Salam Idris yang kini berusia 60 tahun itu mengatakan, “Saya sudah mulai menanam bawang sejak kecil.” Desa Ngali menjadi sentra bibit bawang bima karena kualitas bibit yang sudah tersertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Bima, Nusa Tenggara Barat. Selain menjadi penangkar bibit, Salam juga memiliki lahan sendiri untuk membudidayakan tanaman anggota famili Liliaceae itu.

Salam mengebunkan dua varietas, yakni kentamonca dan super philip. Namun, pekebun di sana lebih sering menyebutnya sebagai bawang bima. Bawang merah merupakan komoditas turun-menurun bagi warga desa. “Sejak zaman kerajaan sudah ada pekebun bawang merah di sini,” ujar Salam. Pekebun di Ngali mengatur tiga kali pola tanam dalam setahun.

Musim tanam pertama saat musim hujan pada Januari. Namun, ketersediaan air yang melimpah membuat sebagian besar lahan pertanian ditanami padi. Itulah sebabnya hanya 30% lahan yang ditanami bawang merah. Dua varietas ditanam bersamaan dengan perbandingan 10% kentamonca dan 20% super philip. Saat musim hujan produktivitas kentamonca mencapai 15—16 ton kering; super philip hanya 14—15 ton kering per ha.

Kebun bawang merah tersedia sepanjang tahun di Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kebun bawang merah tersedia sepanjang tahun di Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Itu produktivitas pada musim hujan. Super philip memiliki keunggulan produksi lebih tinggi saat musim kemarau yaitu 17—20 ton kering per ha. Adapun kentamonca hanya 15—16 ton kering ton per ha. Walau produktivitas kentamonca lebih tinggi, petani di Ngali tatap menanam super philip lebih banyak. Itu karena intensitas hujan setiap tahun tidak menentu. “Walaupun Januari, tetapi bila hujannya sedikit, petani berjaga-jaga dengan menanam varietas super philip,” ujar Salam.

Baca juga:  Tin Jagoan Jaga Hepar

Setelah dua bulan, kedua varietas itu siap dipanen. Sebagian besar hasil panen digantung selama 4—5 bulan untuk bibit pada musim kemarau dua atau MK 2. Penanaman bawang pada musim kemarau pertama pada April—Mei. Ketersediaan air yang kurang untuk menanam padi membuat semua lahan pertanian di Desa Ngali ditanami bawang merah. Sebanyak 500 ha ditanami varietas super philip dan 200 ha kentamonca.

Super philip dari Bima menjadi juara satu dalam lomba komoditas sayuran di Festival Hortikultura 2015.

Super philip dari Bima menjadi juara satu dalam lomba komoditas sayuran di Festival Hortikultura 2015.

Bibit bawang
Dari jumlah itu petani Desa Ngali biasa menyisihkan sebagian umbi untuk bibit. Kebutuhan bibit per ha tergantung musim tanam dan jarak tanam yang digunakan. Pada musim hujan jarak tanam 15 cm x 20 cm sehingga membutuhkan 900 kg bibit per ha. Sementara pada musim kemarau 1 jarak tanam 10 cm x 20 cm dan musim kemarau 2 menjadi 15 cm x 15 cm sehingga membutuhkan bibit lebih dari 1 ton per ha.

Petani hanya menyimpan bibit selama 10 hari sebelum penanaman. Semakin lama disimpan kecepatan tumbuh bibit lebih cepat. Menurut Salam jika disimpan selama 10 hari maka dibutuhkan waktu 10—12 hari untuk menumbuhkan umbi dengan kualitas bibit tetap bagus. Selain dijadikan bibit hasil panen juga dijual untuk konsumsi dan dijual dalam bentuk bibit.

Gubernur Nusa Tenggara Barat di stan Dinas Pertanian Kabupaten Bima.

Gubernur Nusa Tenggara Barat di stan Dinas Pertanian Kabupaten Bima.

Pada musim kemarau 2 bawang merah ditanam pada akhir Juli—Agustus. Untuk menutupi biaya produksi, pekebun biasanya menjual sebagian kecil hasil panennya dalam bentuk bawang konsumsi. Sisanya disimpan untuk bibit musim tanam di musim kemarau 1 atau dijual sebagai bibit. Harga bawang merah konsumsi di tingkat pekebun mencapai Rp15.000–Rp 20.000 per kilogram.

Baca juga:  Kura-Kura Albino Caramel Mencuri Hati

“Bahkan jika pasokan bawang di Jawa seperti Brebes kurang, maka harga jual bawang bima bisa mencapai Rp40.000 per kilogram,” ujar Salam. Namun, saat musim kemarau produksi bawang merah relatif banyak sehingga harga turun. Pada September 2015 harga jual bawang merah Rp10.000 per kg. Menurut Saifu, pekebun bawang merah di Desa Lido, Bima, harga jual itu masih menguntungkan bagi pekebun.

Adapun harga jual bibit bersertifikasi mencapai Rp 30.000 per kg. Kualitas bibit yang terjamin karena sudah tersertifikasi membuat banyak petani bawang merah dari desa tetangga seperti Desa Lido dan Monta membeli bibit di Desa Ngali. Kini bawang bima tidak hanya dijual di NTB, Bali, Maluku, dan Jawa Timur melainkan diekspor ke beberapa negara seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Menurut pedagang bawang merah di Jakarta, Hasan Kudri, ekspor bawang bima hanya dapat dilakukan pada bulan-bulan tertentu yaitu Juli—Oktober. Permintaan bawang juga tidak dapat diperhitungkan karena tergantung permintaan negara masing-masing. Namun, hanya bawang yang memenuhi syarat yang dapat diekspor. Contoh, tidak mengandung kadar besi yang tinggi dan ukuran umbi sekitar 2 cm atau masuk dalam katagori super.

Petani menyimpan umbi bawang merah selama 2—3 bulan untuk menghasilkan bibit bersertifikasi.

Petani menyimpan umbi bawang merah selama 2—3 bulan untuk menghasilkan bibit bersertifikasi.

Bawang berkualitas super itu ia dapatkan dari hampir semua pekebun bawang merah di Bima seperti di Desa Dompu, Ware, Lido, dan Ngali. “Selain terkenal sebagai penyedia bawang merah sepanjang tahun, Bima juga menghasilkan bawang berukuran besar dan berkualitas baik,” ujar Hasan. Direktur Jenderal Hortikultura, Dr Ir Spudnik Sudjono K MM, juga ikut memuji kualitas bawang merah bima pada acara Festival Hortikultura 2015 di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Pantas jika komoditas unggulan Bima itu menjadi juara kesatu dalam lomba varietas sayuran di acara Festival Hortikultura 2015. Bawang itu mengalahkan tujuh lawannya. Karim, petani bawang merah di Desa Lisa, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, mengatakan membawa langsung bawang merah hasil panennya dari Bima untuk mengikuti lomba. (Ian Purnama Sari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *