Batu Apung Filter Terbaik 1

Kunci sukses budidaya ganda: ikan dan sayuran adalah penggunaan penyaring.

Panen ganda ala Eri Setiadi: 56 kg lele sekaligus 8 kg kailan di “lahan” 2 meter persegi sebuah keniscayaan. Periset di Kotamadya Bogor, Jawa Barat, itu memang membesarkan lele di sebuah akuarium yang terhubung dengan penanaman kailan di bagian atasnya.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Dr Ir Achmad Poernomo, MApp.Sc, sistem budidaya itu disebut yumina, budidaya sayuran sekaligus mina alias ikan.

Salah satu kunci sukes budidaya yumina adalah media tanam yang juga berperan sebagai filter sekaligus tempat tumbuh tanaman. Maklum, pada teknologi yumina proses resirkulasi atau memanfaatkan kembali air yang digunakan dalam budidaya ikan dengan filter berupa tanaman dan medianya.

Proses resirkulasi bermula dari air di wadah atau akurium pemeliharaan ikan. Air mengalir ke media tanam. Di situlah air yang tersaring itu mengalir kembali ke kolam ikan secara gravitasi.

Batu apung media terbaik dalam sistem yumina karena berpori lebih banyak, permukaan batu kasar dan lebar
Batu apung media terbaik dalam sistem yumina karena berpori lebih banyak, permukaan batu kasar dan lebar

Perbaiki kualitas air

Peneliti di Instalasi Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Perikanan Budidaya dan Toksikologi, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Drs Sutrisno, menuturkan melalui proses resirkulasi itu air kolam terus terpurifikasi.

Itulah sebabnya kualitasnya lebih baik. “Proses itu memungkinkan air yang digunakan tidak perlu diganti selama periode pemeliharaan ikan dan sayuran,” ujar Sutrisno.

Contoh budidaya yumina genjer dengen media kerikil
Contoh budidaya yumina genjer dengen media kerikil

Meski begitu, pehobi mesti menambah air secukupnya secara berkala untuk mengganti air yang hilang akibat proses penguapan. Sebagai penyaring, media juga menyerap amonia, nitrat, nitrit, dan fosfor yang berasal dari feses, urine, dan sisa pakan ikan.

Baca juga:  Akuaponik: Agar Sentosa Tambah Hara

Keempat senyawa itu menyebabkan air di akuarium terkontaminasi sehingga kandungan racun melonjak. Kandungan nitrit tinggi menghambat kemampuan darah ikan mengikat oksigen. Dampaknya ikan terserang methaemoglobin dan mati.

Menurut Eri Setiadi SSi, MSc dalam sistem resirkulasi filter sangat berguna untuk memperbaiki kondisi air. Pada air bersuhu 25-26oC dan pH antara 6-7, penggunaan filter yang tersusun dari zeolit dan pasir dapat menurunkan kadar nitrit menjadi 0,013-0,25 ppm dari 4,4 ppm (tanpa filter).

Oleh karena itu media sebagai filter memiliki peran penting dalam budidaya sistem yumina.

Porous

Dalam budidaya yumina media dapat berasal dari bahan-bahan yang bersifat porous. Tujuannya agar media dapat berfungsi sebagai filter untuk mengalirkan sekaligus menyaring air.

Media tidak porous menyebabkan penyumbatan pada bagian keluaran. Akibatnya air mengalir tanpa penyaringan melalui media, tapi langsung ditumpahkan akibat limpasan dari bagian atas tempat pemeliharaan tanaman.

Eri Setiadi mengatakan pehobi dapat memilih media tanam organik seperti sabut kelapa, arang sekam, serbuk gergaji, dan akar pakis. Beberapa media nonorganik yang juga menjadi pilihan yaitu berupa kerikil dan batu apung. Media organik mampu menyimpan air dan nutrisi lebih tinggi, aman untuk perakaran, dan berbobot ringan.

Namun, “Media organik mudah ditumbuhi jcendawan sehingga harus rutin diganti,” ujar Sutrisno. Kebanyakan pehobi enggan memilih media organik karena harus rutin mengganti sehingga biaya investasi lebih besar.

Drs Sutrisno (kiri) dan Eri Setiadi SSi, MSc mengembangkan akuaponik sistem yumina
Drs Sutrisno (kiri) dan Eri Setiadi SSi, MSc mengembangkan akuaponik sistem yumina

Sementara media nonorganik lebih awet, aerasi optimal, sterilitas terjamin, dan jarang ditumbuhi jamur. Namun, media nonorganik bobotnya lebih besar dibanding media organik sehingga mempersulit ketika pembersihan. Menurut Sutrisno ada lima media yang lazim digunakan pada budidaya yumina: kerikil, sabut, ijuk, arang, dan batu apung.

Baca juga:  Aneka Jenis Model Akuaponik

“Dari hasil uji coba batu apung media terbaik,” ujar alumnus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada itu. Pada dasarnya semua media bersifat porous. Namun, batu apung berpori-pori lebih banyak. Selain itu, permukaan batu apung lebih kasar dan lebar.

Itu sebabnya kemampuan batu apung menyaring bakteri pun lebih baik. “Karena memiliki banyak pori itulah bakteri yang melekat lebih banyak,” kata Eri. Pehobi menggunakan batu apung dalam jangka waktu lama. Bandingkan dengan sabut, arang, dan ijuk yang mudah ditumbuhi cendawan sehingga harus rutin diganti.

Batu apung juga memiliki derajat keasaman mendekati normal, tekstur lembut dan gembur sehingga dapat menopang pelekatan akar tanaman.

Pehobi dapat menempatkan media itu di wadah berupa pot maupun talang. Menurut Ir Imam Taufik MSi pada budidaya sistem yumina idealnya volume media pemeliharaan tanam 10-20% dari volume air kolam.

Pada kondisi itu, “Kebutuhan nutrien untuk tanaman itu cukup dipasok dari kotoran ikan dan purifikasi air ikan pun cukup dengan penggunaan volume media itu,” katanya. Dengan begitu pertumbuhan ikan dan sayuran pun optimal.

Media Yumina

Batu Apung Filter Terbaik 2

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *