Banyuwangi Hidroponik Community: Bangga Jadi Petani 1

Tempat berbagi ilmu plus saling bantu memenuhi pasar hidroponik.

“Akhirnya saya bisa memenuhi permintaan pemasok itu atas bantuan teman-teman di BHC,” ujarnya. Menurut Juhari itu salah satu manfaat ketika seorang petani hidroponik bergabung dengan sebuah komunitas. “Jika saya tidak ikut komunitas, saya bisa kehilangan kepercayaan dari pembeli karena tidak mampu memenuhi permintaannya lantaran kekurangan produksi,” ujar Juhari.“Pemasok minta 600 kg selada, sementara produksi saya baru 300 kg per bulan,” ujar Mohamad Juhari. Petani di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, itu khawatir tidak sanggup memenuhinya. Harap mafhum, bila permintaan itu tak terpenuhi integritas Juhari akan turun di mata sang pemasok sehingga kehilangan pembeli. Pada saat bersamaan rekan-rekan Juhari di komunitas Banyuwangi Hidroponik Community (BHC) kelebihan produksi.

Ubah citra petani
Sejak saat itu, sang pemasok rutin meminta selada Juhari 600 kg tiap bulan. Ayah seorang anak itu pun tak kehilangan pendapatan. “Bisnis hidroponik saya sangat terbantu dengan ikut komunitas BHC,” ujar Juhari. Menurut ketua BHC, Faturohman, komunitas yang berdiri setahun silam itu bertujuan mengenalkan hidroponik kepada warga Banyuwangi, Jawa Timur, plus memasyarakatkan sayuran sehat tanpa pestisida melalui hidroponik.

Komunitas itu juga mempermudah terjalinnya mitra dengan para petani hidroponik maupun konsumen untuk memenuhi kebutuhan sayurannya. Harapan lain dengan mengenalkan hidroponik di masyarakat luas khususnya warga Banyuwangi, akan mengubah citra petani yang selama ini masih dianggap remeh. “Masih banyak petani yang anaknya tidak mau ikut jejak ayahnya karena malu dengan profesi itu,” ujarnya.

Dari kiri Mohamad Juhari, Faturohman, Yoyon para pegiat komunitas Banyuwangi Hidroponik Community.
Dari kiri Mohamad Juhari, Faturohman, Yoyon para pegiat komunitas Banyuwangi Hidroponik Community.

Dengan hidroponik, citra petani yang kotor dan harus berpanas-panasan di sawah berubah menjadi petani yang bersih, kreatif, dan mengikuti perkembangan zaman. “Kami ingin menjadikan petani sebagai profesi yang membanggakan terutama untuk kaum muda,” ujar Fatur. Hingga kini komunitas BHC memiliki tiga kesekretariatan yang terbagi di 3 lokasi yaitu Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kecamatan Srono, dan Kecamatan Genteng.

Menurut ketua BHC, Faturohman tujuan kesekretariatan itu untuk mempermudah warga Banyuwangi mencari informasi hidroponik di lokasi terdekat dengan tempat tinggal mereka. Di tiap kesekretariatan itu BHC memiliki perwakilan masing-masing. Di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran ada Juhari Ahmad, Yoyon di Kecamatan Genteng, dan Faturohman di Kecamatan Srono.

Manfaat komunitas
Komunitas yang semula terbentuk dari obrolan di warung makan itu kini memiliki anggota 600-an orang. “Namun yang aktif dan memiliki tanaman hidroponik di rumah baru sekitar 50-an orang,” kata Fatur. Setiap anggota yang aktif itu minimal memiliki 10 batang pipa sepanjang 4 meter untuk budidaya hidroponik.

Mereka mengadopsi sistem Nutrient Film Technique (NFT) dan Deep Flow Technique (DFT). Menurut Fatur dengan 10 batang pipa itu pehobi hidroponik bisa menghasilkan 30 kg sayuran dalam satu siklus tanam sekitar 3 bulan. “Satu pipa sepanjang 4 meter memiliki 20 lubang tanam dan bisa menghasilkan 3 kg. Kalau 10 pipa tinggal dikalikan saja,” ujar alumnus Jurusan Keuangan dan Perbankan, Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Faturohman membudidayakan hidroponik NFT tanpa naungan.
Faturohman membudidayakan hidroponik NFT tanpa naungan.

Fatur yang tinggal di Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, membudidayakan sayuran secara hidroponik sebanyak 2.000 lubang tanam. Ia menggunakan teknik NFT tanpa greenhouse untuk memproduksi sayur selada, kangkung, dan pakchoy.

Selama 24 jam penuh pompa air memasok nutrisi AB mix yang dibutuhkan tanaman melalui air yang mengaliri akar-akar sayuran itu. “Umur 25—30 hari, tanaman sudah siap panen,” ujar Fatur. Menurut Fatur sayuran itu bisa dijual setelah panen atau mengundang pembeli untuk memanennya secara langsung. Petani hidroponik lain anggota BHC, Yoyon, membudidayakan 350 wadah bersama mitranya di Kecamatan Genteng.

Menurut Yoyon dengan bergabung di komunitas menambah ilmu hidroponik. “Banyak informasi baru dan pengalaman dari teman-teman jika kita bergabung dengan komunitas. Hal itu menambah kemampuan kita dalam berhidroponik sehingga produksi sayuran pun bisa meningkat,” ujarnya.

Kompak
Mohamad Juhari yang semula mengelola 40 guli hidroponik, kini menambah lagi sehingga menjadi total 80 guli. Ia juga tengah menjajaki sayuran selain selada seperti kangkung dan pakcoy. “Bisnis hidroponik terus berkembang, sehingga kita harus mengikutinya atau kita akan tertinggal,” ujar lelaki yang juga berprofesi di bidang asuransi itu.
Para anggota BHC berprinsip segera beraksi dan tak perlu menunda-nunda untuk berhidroponik. “Saya berharap semua orang yang tertarik hidroponik bisa segera menanam hidroponik meski sedikit. Tidak apa-apa sedikit, yang penting segera bertindak,” ujar Fatur. Selain langsung aplikasi, kekompakan para anggota BHC menjadi nilai tambah komunitas itu.

566_-117“Teman-teman di BHC kompak. Kalau kami ingin bertemu tinggal kontak dan mereka segera kumpul. Paling tidak sepekan sekali kami bertemu,” ujar Fatur. Kesolidan mereka juga tampak saat akan tampil di masyarakat untuk mengikuti kegiatan yang diadakan pemerintah daerah. Komunitas itu mengisi salah satu stan pada acara festival kuliner sego cawuk, Pekan Seni Banyuwangi, dan ekshibisi di Taman Blambangan pada 9 April 2016.

“Saat akan mengisi stan di festival itu, kami hanya bertemu 3 kali. Namun, semuanya berjalan lancar dan mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat maupun pemerintah daerah setempat,” ujar Fatur. Itu berdampak pada peningkatan minat masyarakat Banyuwangi pada hidroponik. “Banyak pengunjung yang tertarik hidroponik dan meminta untuk dibuatkan kebun. Omzet kami rata-rata meningkat hingga 2 kali lipat pascafestival,” ujar Fatur.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments