Bagai Pedang Bermata Dua 1
Kunci keberhasilan budidaya jamur tiram adalah bibit unggul, media tepat, proses pasteurisasi yang baik, dan menjaga kebersihan kumbung

Kunci keberhasilan budidaya jamur tiram adalah bibit unggul, media tepat, proses pasteurisasi yang baik, dan menjaga kebersihan kumbung

Hormon mampu meningkatkan produksi jamur tiram, juga berdampak buruk jika dosis meleset.

Pakar jamur di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ir NS Adiyuwono, menuturkan penggunaan hormon dalam budidaya jamur bukan hal baru. “Sejak tahun 1998 hormon sudah banyak digunakan di luar negeri dan mulai marak di tanahair pada 1990,” ujar alumnus Universitas Islam Nusantara itu. Penggunaannya pun beragam dengan pencelupan, semprot, dan suntik.

Adiyuwono pernah menyaksikan pekebun jamur di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang meracik hormon tumbuh dari taoge dan buah pada 2000. Menurutnya, keberhasilan penggunaan hormon itu bersifat sementara tergantung kondisi. “Pengetahuan meracik hormon yang kurang menyebabkan keberhasilan hanya sesekali terjadi,” ujar Adiyuwono. Selain itu, para petani seringkali mengeluhkan pemberian hormon berefek menurunkan derajat keasaman (pH). Dampaknya jamur menjadi layu dan ukuran tudung mengecil.

Menurut Adiyuwono pemakaian hormon perangsang lebih tepat diaplikasikan saat jamur sudah dipanen 90% atau setelah panen besar. Tujuannya untuk memaksimalkan perkembangan miselium yang tersisa. Itu, “Bisa dilakukan karena nutrisi dalam baglog pun belum terpakai seluruhnya. Asalkan tepat, hasil produksi dapat meningkat 2—3%,” kata Adiyuwono.

“Dosis pemberian hormon harus tepat,” ujar Ir NS Adiyuwono

“Dosis pemberian hormon harus tepat,” ujar Ir NS Adiyuwono

Dosis

Beberapa pekebun merasa khawatir menggunakan hormon. Harap mafhum salah dosis pemakaian berefek kepada kegagalan produksi. “Salah dosis, jamur dapat layu,” tutur Adiyuwono yang mengungkapkan jamur sebetulnya hanya perlu sedikit hormon sehingga tidak perlu asupan hormon dari luar. Oleh karena itu menurut Adiyuwono pekebun mesti cermat memakai hormon yang dapat mempercepat penguraian nutrisi agar mudah diserap tanaman juga memperkuat miselium itu.

Baca juga:  Anggrek Macan Tebar Pesona

Pada dasarnya jamur tiram dapat tumbuh bagus tanpa hormon bila memakai bibit berkualitas dan media tepat. Bahan media yang lazim digunakan adalah dedak (10%), serbuk gergaji (95%), tepung jagung (2%), dan kapur (2%). “Asalkan racikannya pas, jamur akan tumbuh optimal,” kata Adiyuwono. Periset jamur di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Dr Etty Sumiati MS, berpendapat serupa. Ia menyatakan bahwa jamur sebetulnya tidak memerlukan hormon.

“Pekebun perlu dibekali pengetahuan tentang apa yang dibutuhkan dalam budidaya jamur,” ujar Dr Etty Sulaiman MS

“Pekebun perlu dibekali pengetahuan tentang apa yang dibutuhkan dalam budidaya jamur,” ujar Dr Etty Sulaiman MS

“Jamur tidak sama dengan tanaman sayur lain yang menghasilkan dan membutuhkan hormon,” ujar Etty. Peningkatan produksi dalam budidaya jamur dapat ditempuh melalui perbaikan standar operasional budidaya dan perbaikan bibit. “Bibit unggul dan proses pasteurisasi yang baik menjadi kunci keberhasilan budidaya jamur,” ungkap alumnus Universitas Padjadjaran, Bandung, itu.

Jamur memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi. Itu sebabnya Etty menyarankan petani harus teliti dalam memberikan “tambahan” dalam bentuk apa pun. “Petani perlu dibekali teori tentang apa jamur dan yang dibutuhkan jamur agar tidak asal memberikan,” ujar Etty yang menekankan bahwa menjaga kebersihan kumbung menjadi faktor penting budidaya. Terkait hormon jamur, Etty menyarankan untuk uji multilokasi dan uji keamanan. “Perlu diketahui apa kandungan hormon itu dan apakah memang diperlukan oleh jamur,” katanya.

Uji keamanan

Proses sterilisasi harus berlangsung 8—12 jam untuk mencegah tumbuhnya trichoderma dan jamur lain selain jamur tiram

Proses sterilisasi harus berlangsung 8—12 jam untuk mencegah tumbuhnya trichoderma dan jamur lain selain jamur tiram

Keamanan produk pangan seperti jamur tiram sangat penting agar tidak menimbulkan efek merugikan kesehatan. Oleh karena itu menurut ahli jamur dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Meity Suradji Sinaga MSc, pemakaian hormon pada budidaya jamur tiram perlu ditelaah lebih cermat dengan melakukan uji mutu dan keamanan dari lembaga bersertifikat. “Pengujian itu penting sebagai jaminan bahwa produk pangan yang diproduksi aman,” kata anggota komisi agen hayati Badan Karantina Pertanian itu.

Baca juga:  Atasi Virus Cincin Pepaya

Meity mengatakan, “Hormon memang diperlukan oleh makhluk hidup, tapi pemberian hormon tambahan tidak selalu berdampak positif. Efek merugikan itu yang perlu diketahui bila ada,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 25 November 1950 itu. Guru besar Ilmu Fitopatologi di Institut Pertanian Bogor itu memaparkan asal-usul hormon penting untuk diketahui agar efeknya kepada jamur tiram dan manusia yang mengonsumsi dapat diketahui.

“Perlu uji mutu dan keamanan untuk hormon jamur,” kata Prof Dr Ir Meity Suradji Sinaga MSc

“Perlu uji mutu dan keamanan untuk hormon jamur,” kata Prof Dr Ir Meity Suradji Sinaga MSc

Ia memberikan contoh pada kasus pemakaian hormon di unggas. “Pemakaian hormon mempercepat unggas besar, tapi dampaknya seperti yang terjadi saat ini. Anak lebih cepat puber serta banyak penyakit berat justru sudah dialami oleh anak-anak muda,” katanya. Alumnus University of Philippines Los Banos itu menuturkan bahwa peningkatan produksi pada komoditas pangan memang menjadi harapan dalam mendukung program ketahanan pangan. Namun, ketahanan pangan harus selalu diimbangi dengan keamanan pangan. “Nasib anak cucu kita harus kita perhatikan,” ujar Meity. Jika terbukti aman, penggunaan hormon pun menjadi cara meningkatkan produksi tiram. (Rizky Fadhilah/Peliput: Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments