Herbal meningkatkan bobot dan memangkas mortalitas ayam pedaging.

Ramuan herbal berbahan dasar kunyit mampu meningkatkan nafsu makan ayam pedaging.

Ramuan herbal berbahan dasar kunyit mampu meningkatkan nafsu makan ayam pedaging.

Sumardi semringah ketika menimbang ayam pedaging hasil ternakannya. Peternak di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu mengatakan, “Bobot ayam saya naik 50 gram dibanding dengan produksi sebelumnya.” Saat itu pada 2010 harga daging ayam Rp16.000 per kg. Laba bersih Sumardi yang memelihara 9.000 ekor meningkat Rp7,2-juta. Peningkatan bobot ayam itu berkat pemberian ramuan herbal.

Ramuan itu berbahan herbal seperti kunyit Curcuma longa, temulawak Curcuma xanthorrhiza, dan lempuyang Zingiber zerumbet yang turun-temurun dikonsumsi manusia. “Jamu membuat ayam tetap tumbuh dan bertambah bobotnya meski teserang penyakit. Sementara dengan obat kimia, begitu sakit pertumbuhannya terhenti, bahkan bobot berkurang,” ujar ayah 2 anak itu.

Kurkumin
Pengalaman Sumardi menginspirasi putra sulungnya yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Pada 2014 Bagus Ardiani, anak pertama Sumardi, bersama Zainal Abidin, Ikhwan Julianto, dan Putri Ambarsari mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mereka mencari literatur dan berkonsultasi kepada dosen mengenai pengalaman Sumardi. “Ternyata banyak riset dan pengalaman empiris yang menyatakan kunyit bagus untuk sistem imun dan pencernaan ayam,” ujar Bagus Ardiani. Keinginan mengembangkan herbal itu semakin kuat saat ia mengetahui antibiotik kimia yang kerap digunakan peternak meninggalkan residu di daging ayam.

Peneliti utama di bidang pakan dan nutrisi ternak dari Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Prof Dr Ir Sofjan Iskandar MRur, membenarkannya. “Residu antibiotik sintetis dalam daging unggas bisa mengancam kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Aturan penggunaan antibiotik umumnya maksimal sepekan sebelum ayam dipotong,” kata Sofjan Iskandar.

Rimpang kunyit mengandung kurkumin dan minyak asiri yang baik untuk pencernaan ayam.

Rimpang kunyit mengandung kurkumin dan minyak asiri yang baik untuk pencernaan ayam.

Jika pemotongan ayam tak sampai sepekan sejak pemberian antibiotik, daging berbahaya bagi manusia yang mengonsumsi. Tak hanya itu, penggunaan antibiotik yang sama dalam jangka waktu tertentu memicu kekebalan pada mikroorganisme sehingga berpotensi mempersulit upaya pengendalian. Cara terbaik mengendalikan penyakit ayam pedaging dengan pencegahan.

Baca juga:  Kunyit Antikanker

“Pencegahan bisa menggunakan kandungan zat organik tanaman alias herbal,” ujar Sofjan Iskandar. Menurut Iskandar herbal seperti kunyit bersifat meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Dengan demikian peternak tak perlu memberikan antibiotik sintetis karena ayam sudah sehat. Hal itu semakin memantapkan Bagus Ardiani dan rekan untuk membuat jamu berbahan rimpang herbal.

Bakteri asam laktat
Untuk meningkatkan kinerja zat aktif rimpang itu, mereka menambahkan bakteri asam laktat (BAL) seperti Lactobacillus plantarum, L. acidophilus, dan Bacillus sp. “Bakteri asam laktat mengoptimalkan penyerapan ramuan herbal,” ujar Bagus. Selain itu bakteri asam laktat membuat fili-fili atau anak rambut dalam dinding usus ayam bekerja optimal sehingga meningkatkan penyerapan makanan.

Bagaimana pemberian herbal membuat ayam terus berkembang meski terserang penyakit? Menurut Sofjan Iskandar herbal berbahan dasar kunyit mampu meningkatkan daya tahan tubuh ayam sekaligus meningkatkan nafsu makan. “Kalau ayam sampai terserang penyakit, kunyit itu mendorong ayam terus mengonsumsi makanan, karena kunyit juga meningkatkan nafsu makan.

Hal itu membuat pertumbuhan tetap optimal meski sedang sakit,” ujar alumnus Faculty of Animal Medicine and Production, University of Queensland, Australia, itu. Menurut Bagus Ardiani hasil uji cobanya menunjukkan herbal itu mampu meningkatkan bobot ayam yang biasanya 1,8—1,9 kg selama budidaya dalam 35 hari menjadi 2,1—2,2 kg dalam waktu sama.

Minuman herbal untuk ayam diberikan pada sore hari.

Minuman herbal untuk ayam diberikan pada sore hari.

Hal itu tentu saja menurunkan angka feed convertion ratio (FCR) dari 1,8 menjadi 1,6. “FCR menurun karena bobot ayam meningkat lantaran penyerapan makanan optimal,” ujar lelaki kelahiran Malang 25 Januari 1995 itu. Kunyit dan temulawak mengandung senyawa kurkumin dan minyak asiri yang merangsang produksi empedu. Kondisi itu membuat pencernaan ayam berada pada pH asam maksimal 4—4,5.

“Bakteri asam laktat sangat menyukai kondisi asam, sementara mikroba yang membahayakan kesehatan ayam seperti Escherichia coli dan Salmonella pullorum tak tahan hidup di kondisi asam,” ujar Bagus. Dari sanalah herbal itu bekerja sebagai antibiotik. Hasil uji coba tingkat mortalitas ayam milik peternak mitra turun menjadi 3%, semula 5%. “Hal itu karena efek sifat antibiotik herbal yang menjaga daya tahan tubuh ayam semakin kuat,” ujarnya.

Baca juga:  Panen Sayuran di Pinggir Gang

Sifat itu semakin diperkuat dengan rimpang temuhitam Curcuma aeruginosa yang juga bersifat sebagai antimikrob yang bisa membunuh mikrob Eimeria sp penyebab penyakit coccidiosis atau berak darah. Dalam proses pembuatannya mereka menggunakan dua jenis kunyit yaitu kunyit biasa yang berdaging jingga Curcuma longa dan kunyit putih Curcuma alba. Tujuannya untuk mengurangi kepekatan warna ramuan.

“Jika warna herbal terlalu pekat, ayam kurang suka. Sehingga ditambahkan kunyit putih untuk menetralisir warna,” kata Bagus menjelaskan. Penggunaan kunyit dan temulawak yang masing-masing mengandung kurkumin dan minyak asiri juga saling melengkapi. Dua senyawa itu merangsang munculnya getah pankreas lebih banyak dan meningkatkan nafsu makan. “Kunyit lebih banyak asirinya dibanding kurkuminnya, temulawak kebalikannya,” ujarnya.

Dari kiri: Bagus Ardiani, Putri Ambarsari, Ikhwan Julianto, dan Zainal Abidin meriset kunyit untuk ternak ayam pedaging.

Dari kiri: Bagus Ardiani, Putri Ambarsari, Ikhwan Julianto, dan Zainal Abidin meriset kunyit untuk ternak ayam pedaging.

Ramuan itu mengandung kunyit, kunyitputih, dan temulawak masing-masing 25% serta temuhitam dan lempuyang masing-masing 12,5%. “Setiap bahan dasar kami tambahkan bakteri asam laktat sebanyak 5%,” ujar Bagus. Semua larutan itu mereka fermentasi 4 hari lalu dikemas dalam botol plastik kapasitas 1 liter. Untuk aplikasi, ia menambahkan 9 liter air bersih pada seliter herbal.

“Ramuan herbal itu untuk konsumsi sehari 5.000 ayam berumur 21—35 hari,” ujar mahasiswa semester ketujuh Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya itu. Sementara waktu pemberian herbal yang tepat pada sore hari. “Saat sore hari ayam banyak minum karena pada siang hari kepanasan,” kata Bagus. Selain itu pemberian pada sore hari juga memudahkan peternak yang biasanya mencuci tempat minum ayam.

Peternak akan menghentikan pemberian air minum baru dan mengganti air minum dengan herbal sampai habis. Setelah itu peternak mengganti air minum dari tandon. Dengan demikian pemberian ramuan herbal terpisah dengan air minum. Herbal itu cocok untuk ayam pedaging dan kurang cocok untuk ayam petelur. “Pakan ayam petelur justru harus dibatasi karena kalau kegemukan malah menurunkan kualitas telur seperti bentuk telur menjadi lonjong atau ukuran telur menjadi lebih kecil,” ujar Bagus Ardiani. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d