Avokad Idaman Asal Sleman 1
Daging buah avokad milik Wiwik Wijayahadi di Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, bertekstur pulen dengan cita rasa dominan gurih.

Daging buah avokad milik Wiwik Wijayahadi di Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, bertekstur pulen dengan cita rasa dominan gurih.

Avokad produktif, berbuah susul-menyusul. Panen 1 ton per pohon. Rasa pulen, gurih, dan manis.

Pohon avokad Persea americana setinggi 7 m itu hampir tak henti berbuah. Buah muncul susul-menyusul di antara rerimbunan daun. Ada buah yang masih pentil ada pula yang siap petik. Buah bersosok mirip bohlam dengan kulit hijau burik. Tampilan luar memang tidak begitu menarik. Pemilik pohon, Wiwik Wijayahadi, menuturkan secara komersial avokad itu memang berpenampilan kurang menarik karena berkulit burik.

“Tetapi soal rasa bisa diadu,” kata pehobi buah di Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta itu meyakinkan. Ketika terbelah, warna daging buah amat menarik. Daging buah tebal dengan warna kuning mentega. Cita rasa buah berbobot 500 gram itu dominan gurih dengan sedikit sensasi manis. Sementara teksturnya pulen tanpa serat. Porsi daging buah yang bisa dimakan mencapai 70% dari seluruh bagian buah.

Rajin berbuah

Wiwik kerap menikmati avokad yang dipanen dari pekarangan belakang rumahnya itu hanya dengan mengonsumsi daging buah segar. Ia tidak perlu mengolah menjadi jus atau menambah gula dan madu. Untuk menikmati avokad itu ia tinggal menarik kulit persis mengupas buah pisang, lalu melahap daging buah yang gurih. Pehobi buah lain seperti Heru Tamtomo di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Provinsi Jawa Tengah, juga mengakui kelezatan avokad milik Wiwik.

Buah muncul susul-menyusul.

Buah muncul susul-menyusul.

Lantaran penampilan buah mirip avokad mentega, Heru menjulukinya sebagai albumen, singkatan dari alpukat burik mentega. Yang menarik, keistimewaan avokad milik alumnus jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, itu bukan cuma soal rasa. Tanaman berdiameter 80 cm itu berbuah melimpah. Setiap tahun Wiwik bisa menuai 1 ton buah dari sebuah pohon yang kini berumur 24 tahun.

Pohon setinggi lebih dari 7 m tumbuh subur di pekarangan rumah.

Pohon setinggi lebih dari 7 m tumbuh subur di pekarangan rumah.

Panen raya berlangsung pada Februari, Juni, dan November. “Kalaupun meleset paling hanya satu bulan. Hal itu biasanya terjadi karena curah hujan yang terlalu tinggi,” kata penyuka kuliner itu. Ayah dua anak itu menanam avokad klangenannya itu pada 1994. Lokasi penanaman di pekarangan belakang rumah yang berketinggian 113 m di atas permukaan laut (m dpl). Wiwik memperoleh bibit avokad itu dari bibit hasil sambung pucuk.

Baca juga:  Hemat Biaya Listrik 10%

Tanaman anggota keluarga Lauraceae itu tumbuh sentosa dengan perawatan sederhana. Wiwik hanya memupuk tanaman 2 kali dalam setahun. Ia memberikan NPK berdosis 5 kg setiap aplikasi. Perawatan lain yakni pemangkasan untuk mengurangi cabang maupun tajuk yang terlalu rindang. Keistimewaan lain avokad Wiwik tahan serangan ulat. Selama ini masyarakat enggan menanam avokad karena takut serangan ulat.

Dosen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Sobir, Ph.D., menduga daun avokad yang tahan ulat mengandung enzim antiprotease. Kehadiran enzim itu mampu menghambat penguraian protein yang dibutuhkan ulat. Kondisi itu menyebabkan ulat tidak bisa berkembang biak. Namun, karakter itu tidak dimiliki avokad milik Wiwik. Sepanjang hidupnya tanaman hidup bebas dari gangguan ulat.

Lantaran keunggulan itu sejumlah pehobi tertarik untuk memiliki avokad itu. Sayangnya, Wiwik tidak memproduksi bibit. Ia memelihara tanaman kerabat kayu manis itu hanya untuk koleksi. Namun, beberapa dahan patah lantaran tak sanggup menyangga beban buah. Oleh karena itu, Wiwik berencana untuk memperbanyak tanaman berhabitat asli di Meksiko dan Amerika Tengah, itu.

Dataran rendah

Avokad Wiwik juga mampu tumbuh di daerah pesisir dan sukses berbuah. Pada 2002, Wiwik menanam bibit avokad hasil sambungan ke Pinrang, Sulawesi Selatan, yang berketinggian tempat sekitar 10 m dpl. Wiwik menduga avokad miliknya itu tergolong tipe dataran rendah. “Ciri khas avokad dataran rendah adalah memiliki daun muda berwarna hijau, sedangkan avokad dataran tinggi berdaun muda kemerahan,” katanya.

Bobot buah avokad tergolong sedang sekitar 500 gram per buah.

Bobot buah avokad tergolong sedang sekitar 500 gram per buah.

Perbedaan daya hidup kedua tipe avokad itu cukup jelas. Avokad dataran tinggi sangat sensitif jika ditanam di dataran rendah. Dampaknya pada ketahanan tanaman, rasa, dan produksi buah. Sementara avokad dataran rendah masih bisa bertahan hidup di dataran tinggi. Namun, pemasakan buah lebih lama dan produksi berkurang. Menurut pekebun avokad di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Eflin Sirait, pemilihan jenis avokad harus tepat.

Baca juga:  Lengkeng: Panen 2 Kali Lebih Banyak

Yang menjadi bahan pertimbangan saat memilih jenis adalah kesesuaian jenis dan ketinggian lahan. Hindari memilih avokad dataran rendah untuk lahan di dataran tinggi. Selain itu produktivitas, cita rasa, dan preferensi pasar juga hal penting. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *