Aventinus Sadip sukses menghijaukan sabana gersang

Aventinus Sadip sukses menghijaukan sabana gersang

Dari tepi jalan, rumah mungil itu tampak mencolok. Berbeda dengan pelataran rumah-rumah lain yang kering, halaman depan kediaman Aventinus Sadip tampak sejuk. Meski sama-sama berpagar belahan bambu seperti rumah-rumah sekitarnya, pagar itu tertutup gerumbul tanaman hijau. Memasuki pekarangan, rumput peking terhampar membentuk permadani hijau. Sebatang tanaman jarak batavia memamerkan bunga merah mencolok.

Bukan hanya halaman depan, pekarangan seluas 4 ha di belakang kediaman Aventinus pun hijau. Beragam jenis pohon tumbuh menjulang. Persis hutan. Padahal 14 tahun lalu, lahan itu hanya hamparan sabana gersang. Hanya ada 1-2 pohon yang tumbuh merana kekurangan air dan hara. “Alang-alang saja tidak tumbuh,” kata ayah 6 anak itu. Langkah Aventinus menghijaukan sabana itu bermula pada 2000. Ketika itu ia menanam 3.000 tanaman kakao Theobroma cacao.

Mahoni salah satu tanaman perintis

Mahoni salah satu tanaman perintis

Ia memberikan 0,5-1 kg kompos per tanaman sebagai pupuk dasar. Sayang, alih-alih membesar dan berproduksi, tanaman-tanaman belia itu justru tumbuh merana. Tiga tahun kemudian, ia kehilangan lebih dari 90% tanaman kakao itu. “Padahal teman-teman yang menanam kakao di tempat lain sudah 1-2 kali panen,” ungkap suami dari Maria Magdalena Mimi itu.

Saat berkonsultasi dengan agronom dari lembaga swadaya masyarakat yang bergiat di desa tempat tinggalnya, sang agronom menyatakan lapisan topsoil di lahan Aventinus tipis. Efeknya ketersediaan air dan hara pun terbatas. “Tanaman apa saja tidak akan subur,” ungkapnya menirukan ucapan agronom yang memeriksa lahan. Mimpi meraup laba dari budidaya kakao pun pupus bersama modal sebanyak Rp7,5-juta yang ia benamkan untuk menanam buah cokelat itu.

Cendana paling bernilai dibandingkan tanaman lain

Cendana paling bernilai dibandingkan tanaman lain

Pria kelahiran 31 Desember 1962 itu menolak untuk menyerah, meski banyak orang mencibir. Ia berbelok haluan dan menanam tanaman kayu seperti mahoni Swietenia mahogany, sengon Paraserianthes falcataria, dan gmelina Gmelina arborea. Ia juga menanam kayu-kayu lokal yang mulai langka, antara lain kodal, luwi, natu, tilutuna, atau worok. Aventinus menanam luwi, menggih, dan tilutuna lantaran ketiganya tergolong kayu kuat yang awet sebagai bahan bangunan. “Kalau tidak mendapat hasil dari buah, saya harus memperoleh kayu yang nantinya juga bisa dijual,” ungkap Aventinus.

Baca juga:  Ranti Musuh Tifus

Untuk memperoleh benih-benih tanaman lokal, Aventinus mencari sendiri ke hutan. Ia melakukannya kalau melakukan perjalanan ke Kecamatan Labuanbajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Melalui jalan setapak yang membelah hutan, perjalanan itu makan waktu 6-8 jam berjalan kaki. Sebelum berangkat, ia mempersiapkan pembibitan. Saat kembali ke rumahnya di Desa Golomanting, Kecamatan Sanonggoang, Kecamatan Manggarai Barat, ia memungut biji dan bibit yang tumbuh liar di tepi jalan setapak. Kadang ia sengaja menyimpang dari jalan untuk mencari bibit tanaman yang ia inginkan.

Aventinus selalu memperoleh dukungan dari sang istri, Maria Magdalena Mimi

Aventinus selalu memperoleh dukungan dari sang istri, Maria Magdalena Mimi

Tidak sembarang benih atau bibit yang ia ambil. Aventinus memilih benih dari pohon dengan pertumbuhan bagus, lurus, besar, dan tidak banyak bekas serangan hama penyakit. Bibit kodal dan natu ia ambil yang berbentuk kecambah. “Kalau mengambil biji, bisa-bisa setahun lebih di persemaian baru bertunas,” kata Aventinus. Sementara biji pohon tilutuna di luar daging buah sehingga perkecambahan lebih mudah.

Pria 51 tahun itu juga tidak sepanjang tahun mengambil benih dari hutan, hanya pada Agustus-September, ketika tanaman memasuki masa puncak buah. Pengalaman Aventinus, di luar periode itu buah sedikit dan pertumbuhannya tidak optimal kalau dijadikan bibit. Setiba di rumah, ia menanam benih di persemaian yang ia siapkan sebelum berangkat. Setelah tumbuh menjadi bibit setinggi 15-30 cm, ia memindahkan ke lahan. Luwi, menggih, dan tilutuna memerlukan peneduh di tahap awal pertumbuhan.

Spesies tilutuna di halaman belakang Sadip

Spesies tilutuna di halaman belakang Sadip

Ia menanam pohon-pohon itu pada musim hujan di bawah jenis lokal yang bandel, seperti pohon keci. “Tanpa penanaman khusus pun keci tumbuh secara liar, kayunya juga bagus untuk papan,” kata Aventinus. Saat kemarau, ia harus meluangkan waktu menyiram tanaman satu per satu. Setiap hari, ia menggendong jeriken berkapasitas 20 liter untuk menyiram tanaman. Karena keterbatasan tenaga, ia hanya mampu menyiramkan paling banyak 2 jeriken air per hari. Itu setara 20 pohon. Ia mengutamakan pohon-pohon muda yang tingginya kurang dari semeter.

Baca juga:  Pelet Untuk Kelinci

“Kalau tidak bekerja dengan hati, pasti sudah kalah dengan rasa malas,” tuturnya. Seolah mengerti, pohon-pohon yang ia tanam tidak banyak menuntut dan tumbuh baik. Selain berjibaku mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, dan biaya, Aventinus mesti menulikan telinga terhadap ocehan tetangga. “Banyak tetangga beranggapan saya melakukan hal yang sia-sia. Kadang pikiran saya membenarkan juga omongan-omongan itu. Bagaimana mungkin sabana gersang, yang bahkan ilalang pun tidak bertahan, mau dijadikan kebun?” ujar Aventinus.

Ia tetap yakin jerih payahnya suatu saat bakal berhasil. Sekali melangkah maju, Aventinus berpantang mundur. Ia tetap konsisten merawat dan menyiram tanaman tanpa hirau tanggal merah, bahkan ketika sakit sekali pun. Itu terbukti ketika ia terserang influenza berat selama hampir 2 bulan. Dengan tubuh lemah dan langkah sempoyongan akibat pengaruh virus, ia tetap menyambangi lahan setiap hari. Menyiram tanaman yang layu, memasang ajir bambu di tanaman yang hampir rebah, dan memperbaiki pagar agar ternak tidak merusak tanaman.

Menggih menghasilkan kayu bermutu

Menggih menghasilkan kayu bermutu

Saat Trubus bersama tim Burung Indonesia menyambangi rumah Aventinus pada Mei 2014, lebih dari 95% lahan miliknya tertutup berbagai tanaman. Di lahan itu tumbuh 100 pohon gmelina, jati merah (200 pohon), kodal (200 pohon), luwi (200 pohon), mahoni (3.200 pohon), menggih (50 pohon), natu (100 pohon), dan worok (50 pohon). Sabana gersang tanpa naungan tersisa kurang dari 5%. Di lahan itu ia juga menanam cendana. “Harganya jauh melebihi semua jenis tanaman lain,” ungkap Aventinus. Itu sebabnya ia menanam hingga 200 batang tanaman harum itu.

Kini Aventinus mulai memetik hasil kerja keras 11 tahun terakhir. Kuda-kuda kokoh berbahan kayu mahoni menyangga atap rumahnya. Di pelataran samping, bilah-bilah kayu sengon yang baru digergaji menanti untuk dikirim. Ia baru saja menjual 12 batang pohon sengon berumur sekitar 10 tahun senilai Rp4,8-juta. Sejak 2007, ia menjabat kepala Urusan Pemerintahan di kantor Desa Golomanting. Pada 2009, Aventinus memperoleh surat pengangkatan resmi sebagai pegawai negeri sipil. Namun, hati dan jiwanya tetap berada di tengah-tengah tanaman yang menghijaukan sabana di pekarangan belakang rumahnya. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Sardi Duryatmo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d