Atur Pupuk Buah Awet 21 Hari 1
Buah naga merah hasil panen Asroful umur 3 pekan pascapetik, masih segar dan tidak rusak

Buah naga merah hasil panen Asroful umur 3 pekan pascapetik, masih segar dan tidak rusak

Buah naga merah asal Jember awet hingga 3 pekan pascapetik, lazimnya sepekan.

Asroful Uswatun menyodorkan buah naga merah yang matang sempurna. Sepintas tak ada yang aneh pada sosok buah seukuran dua kepalan tangan orang dewasa itu. Penampilannya bersih dan segar. Kulitnya pun masih kaku seperti baru dipetik tadi pagi. Saat terbelah, tampak daging buah yang merah menggiurkan. Saat dimakan rasanya manis menyegarkan. “Buah naga ini saya petik seminggu yang lalu. Dan saya jamin tetap bisa dikonsumsi hingga 2 minggu,” ujar pekebun buah naga di Semboro, Jember, Jawa Timur, itu.

Menurut Tatang Halim pemasok buah di Muarakarang, Jakarta Utara, kesegaran buah naga lazimnya hanya bertahan 5-7 hari tanpa pendingin. Namun, Hylocereus polyrhizus dari kebun Asroful bisa tahan hingga 3 pekan tanpa pendingin, alias lebih awet 2 pekan. Apa rahasianya? “Mengatur pemberian pupuk terutama pupuk nitrogen,” kata Asroful.

Asroful Uswatun panen buah naga sesuai permintaan konsumen

Asroful Uswatun panen buah naga sesuai permintaan konsumen

Tepat nitrogen

Menurut Asroful, banyak pekebun buah naga yang berambisi menggenjot produktivitas tanpa menjaga kualitas buah. Hasilnya buah naga hanya bertahan 5-7 hari. “Banyak pekebun berkesimpulan, buah yang besar bisa mendapat harga tinggi. Oleh karena itu mereka memberikan pupuk secara berlebihan. Tidak peduli bagaimana kemanisan, keawetan, maupun kebersihannya,” kata Asroful. Menurutnya, berlebihan memberikan pupuk nitrogen justru merusak buah.

Prof Dr Iswandi Anas, guru besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor, menyampaikan hal senada. “Jika nitrogen berlebih, penyerapan unsur hara yang lain menjadi berkurang misalnya penyerapan unsur fosfor dan kalium yang juga sangat dibutuhkan tanaman,” kata alumnus Universitas Ghent, Belgia, itu.

Baca juga:  Besar Berkat Bibit

Pada kasus buah naga, pemberian nitrogen berlebih membuat sulur maupun buah menjadi lebih lunak karena sel-sel lebih besar tetapi tipis. Menurut doktor Mikrobiologi Tanah itu, budidaya intensif dengan pemupukan yang tepat menjadi salah satu cara mencegah kerusakan buah naga.

Budidaya buah naga ala Asroful memang intensif. Wanita kelahiran September 1968 itu menanam bibit buah naga merah di lahan kering. (Baca “Jaga Naga Tetap Awet”)

Tepat menggunakkan pupuk NPK kunci agar keawetan buah naga bisa tahan lama

Tepat menggunakkan pupuk NPK kunci agar keawetan buah naga bisa tahan lama

Intensif

Asroful memberikan pupuk NPK secara tepat. Pada fase vegetatif, ia menebarkan pupuk NPK berimbang 16-16-16 di sekitar perakaran tanaman. Sementara saat tanaman memasuki fase generatif, ia mengganti NPK berimbang dengan pupuk NPK yang rendah unsur nitrogen dan tinggi unsur fosfor dan kalium dengan perbandingan 12–11 –18.

Para pekebun buah naga yang ingin mendapat hasil panen besar tanpa memperdulikan kualitas buah acap kali mengabaikan pemupukan. Mereka tetap menggunakan pupuk NPK berimbang atau bahkan NPK dengan nitrogen sangat tinggi saat tanaman memasuki fase generatif. “Hal itu menjadi salah satu sebab buah naga mereka mudah rusak saat pengiriman dan tidak bertahan lama saat disimpan tanpa lemari pendingin,” kata Asroful.

Asroful memanen buah naga merah pada umur 40 hari pascabunga. “Pada umur itu tingkat kematangan buah sudah 100%,” kata Asroful. Per tiang ia sanggup memanen 100-200 kg atau 25-50 kg per tanaman dengan bobot rata-rata 400-1000 g/buah. Asroful mengemas buah itu dengan 3 model. Ada kemasan stirofoam berkapasitas 9-10 kg, keranjang lipat yang biasanya digunakan untuk mengemas buah anggur kapasitas 8 kg, dan kardus berkapasitas 10 kg. “Setiap buah diberi sekat agar tidak berbenturan,” ujarnya.

Baca juga:  Jalan Manis Atasi Kista

Dengan proses budidaya intensif, ditambah dengan pengemasan bagus, buah naga Asroful hampir tidak pernah mengalami kerusakan saat pengiriman. “Kalaupun ada yang rusak itu karena tergencet saat di ekspedisi, tertumpuk koper atau benda keras lainnya.

Bandingkan dengan pekebun lain yang menggenjot bobot buah dengan pemberian pupuk nitrogen tinggi. “Biasanya mereka mengirim 1 truk dengan kapasitas 5 ton. Dan yang busuk bisa mencapai 2 ton,” kata Asroful. Dengan harga rata-rata buah naga di tingkat petani Rp25.000 per kg, pekebun itu bisa merugi hingga Rp50-juta rupiah. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *