Atasi Serangan Potong Leher 1
Padi ciherang umur 100 hari memiliki daun bendera yang masih hijau, tanda proses pengisian bulir masih berlangsung

Padi ciherang umur 100 hari memiliki daun bendera yang masih hijau, tanda proses pengisian bulir masih berlangsung

Penyakit blas mengancam produksi padi.

Sukadi Surowo geram menghadapi penyakit blas. Hampir setiap tahun, petani padi di Desa Lamongrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, itu merugi jutaan rupiah. “Penurunan produksi akibat blas rata-rata mencapai 1 ton per ha per musim tanam,” ujar ayah 3 anak itu. Dengan harga gabah kering panen saat itu mencapai Rp3.600, Sukadi merugi Rp3,6-juta.

Ahli hama dan penyakit padi di Universitas Brawijaya, Luqman Qurata Aini PhD mengungkapkan, serangan blas bisa menurunkan produksi padi hingga 50%. “Serangan pada musim hujan lebih ganas,” ujarnya. Ia mengungkapkan penyebab penyakit blas adalah cendawan Pyricularia oryzae. Permukaan daun terserang berbercak seperti gosong bekas terbakar.

Padi tanpa seltima daun benderanya sudah menguning

Padi tanpa seltima daun benderanya sudah menguning

Produksi tinggi
Jika cendawan blas menyerang leher malai, muncul warna kecokelatan dan kerutan sehingga malai mudah patah. “Serangan blas pada malai biasa disebut potong leher,” ujar Luqman. Jika terserang, leher malai tidak maksimal memasok makanan ke bulir padi. Akibatnya banyak bulir hampa alias kopong.

Peneliti padi dari Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Kuswanto, MS, menyebutkan, ada beragam cara pengendalian penyakit blas. “Bisa dengan pestisida, penanaman serempak untuk memutus siklus hidup hama yang menjadi vektor blas, atau menanam varietas tahan hama penyakit,” ujar Kuswanto.

Pada awal 2014, Sukadi mengikuti pertemuan bulanan sekaligus arisan kelompok tani padi Sido Asih. Saat itu petugas penyuluh pertanian memperkenalkan fungisida baru pengendali penyakit blas. Sukadi pun tertarik dan langsung menggunakannya fungisida bermerek seltima berbahan aktif piraklostrobin. Sejatinya beragam fungisida pengendali blas banyak tersedia di pasaran, antara lain bermerek nativo, filia, dan acapela system.

Baca juga:  Menjaga Nutrisi Moringa

Namun, “Mencari yang cocok itu susah,” ujar Sukadi. “Seltima akan membantu petani Indonesia untuk meningkatkan hasil dan mutu padi,” ujar Business Area Manager BASF Asia Tenggara, Leon van Mullekom. Sukadi menyemprotkan seltima 2 kali per musim tanam, yakni ketika tanaman berumur 40 hari dan 50 hari. Dosisnya 1 liter per hektar.

“Hasilnya bagus, produktivitas padi meningkat dan serangan blas berkurang,” kata Sukadi. Dua kali panen padi pada 2014 setelah menggunakan fungisida itu, produktivitas padinya tak menurun dan cenderung meningkat 500—600 kg. Kantong kakek 6 cucu itu pun bertambah Rp2,16-juta. Muhammad Yani, petani padi di Desa Carangrejo, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, juga merasakan kehebatan seltima.

Pada panen terakhir sebulan silam, produktivitas petani padi sejak 10 tahun silam itu meningkat dari 7 ton menjadi 8,4 ton per ha. Menurut ayah 2 anak itu, biaya produksi padi mencapai Rp2.500 per kg, sementara harga gabah kering sawah Rp3.700. Artinya Yani memperoleh pendapatan Rp10,08-juta per ha. Itu jauh lebih tinggi dibandingkan panen sebelumnya yang hanya Rp8,4-juta per ha.

Wakil Bupati Kabupaten Jombang, Mundjidah Wahab tengah memimpin panen bersama

Wakil Bupati Kabupaten Jombang, Mundjidah Wahab tengah memimpin panen bersama

Efek tripel
Selain mengendalikan blas, seltima juga mampu menggenjot pengisian malai padi. Padi yang menggunakan seltima pada umur 100 hari memiliki daun bendera yang masih hijau. Sementara yang tanpa perlakuan warna daun bendera menguning. “Warna hijau pada daun bendera padi menunjukkan tanaman dalam kondisi sehat sehingga proses fisiologis tanaman berupa fotosintesis lebih panjang. Hasilnya pengisian malai optimal sehingga produksi maksimal,” ujar Kuswanto.

Optimasi proses fisiologis tanaman meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk sehingga dosisnya bisa dikurangi. Hasil riset Kuswanto, seltima memangkas kebutuhan pupuk Urea hingga 50 kg per ha. “Jika dosis Urea lazimnya 250 kg per ha, dengan seltima cukup 190—200 kg dengan produktivitas tetap tinggi,” kata Kuswanto. Artinya seltima mempunyai efek tripel, yaitu mengatasi penyakit, meningkatkan produktivitas, sekaligus menghemat kebutuhan pupuk.

Baca juga:  Bukan Sekadar Nata de Coco

Dalam acara panen padi bersama jajaran musyawarah pimpinan daerah Kabupaten Jombang, Leon van Mullekom menyatakan kini petani Indonesia hanya mampu menghasilkan sekitar 4,7 ton gabah dari setiap hektar. Bandingkan dengan petani di Vietnam dan Tiongkok yang mampu menghasilkan 5,6 dan 6,5 ton gabah per hektar.

Tanaman Alpinia sp sebagai fungisida organik untuk atasi blas

Tanaman Alpinia sp sebagai fungisida organik untuk atasi blas

Saurin Shah, local business manager BASF Indonesia mengatakan, “Hasil uji coba lapangan kami menunjukkan bahwa seltima meningkatkan hasil sedikitnya 10% dan yang tidak kalah penting mampu mengendalikan penyakit blas yang jadi kendala bagi para petani,“ ujarnya. Petani juga tak perlu khawatir residu seltima. Jika mengikuti dosis yang dianjurkan, fungisida itu tetap aman bagi lingkungan.

Wakil Bupati Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Mundjidah Wahab, dalam sambutannya mengungkapkan perlunya inovasi untuk meningkatkan produksi padi. Harap mafhum, 60% masyarakat Kabupaten Jombang adalah petani dan kabupaten itu menempati urutan ke-5 sebagai penyumbang produktivitas padi Jawa Timur. “Jawa Timur menjadi andalan di Indonesia sebagai produsen padi sekarang,” ujarnya.

Itu berarti, padi produksi padi di Jombang vital untuk program swasembada demi ketahanan pangan nasional. Menurut Mundjidah Wahab beragam upaya untuk meningkatkan produksi padi sangat dibutuhkan. Itu bertujuan untuk memenuhi target produksi padi Jawa Timur 2015 yang meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya. “Salah satu caranya adalah menggunakan fungisida berteknologi terbaru seperti seltima yang mampu mengatasi penyakit, menghemat pupuk, sekaligus meningkatkan produktivitas,” ujarnya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *