Atasi Musuh Nomor Satu 1
Tebu menjadi makanan selingan tikus sekaligus untuk menekan pertumbuhan gigi satwa pengerat itu

Tebu menjadi makanan selingan tikus sekaligus untuk menekan pertumbuhan gigi satwa pengerat itu

Memanfaatkan anjing pelacak untuk mendeteksi liang tikus sekaligus memburunya.

Tikus hama penting pada perkebunan tebu di Indonesia, terutama di lahan tebu yang lokasinya berbaur dengan tanaman padi. Gangguan hama tikus meningkat di areal-areal perkebunan tebu di kawasan eks karesidenan Cirebon, Jawa Barat, Pekalongan, Jawa Tengah, dan pesisir pantai utara Pulau Jawa di Jawa Tengah, serta kawasan delta Sungai Brantas di Jawa Timur.

Setidaknya 150 jenis tikus ada di Indonesia. Enam jenis tikus lebih banyak dikenal karena merugikan manusia di luar rumah, yaitu tikus sawah Rattus argentiventer, tikus wirok Bandicota indica, tikus hutan/belukar R. tiomanicus, tikus semak R. exulans, mencit sawah M. caroli, dan tikus riul R. norvegicus. Tiga jenis lainnya diketahui menjadi hama di dalam rumah, yaitu tikus rumah R. rattus diardi, mencit rumah M. musculus dan M. cervicolor.

Ledakan populasi hama tikus terjadi di lahan tebu saat tanaman padi tak ada di lahan

Ledakan populasi hama tikus terjadi di lahan tebu saat tanaman padi tak ada di lahan

Pakan selingan
Serangan tikus di lahan tebu biasanya meningkat bila tidak ditemukan lagi padi dan palawija. Adapun serangan tikus wirok terjadi hampir merata sepanjang musim tanam tebu. Satwa pengerat itu memanfaatkan batang tebu sebagai sarana untuk menekan gigi serinya. Selain itu batang Sacharum officinarum itu merupakan makanan selingan ketika sulit menemukan makanan utamanya berupa padi atau palawija.

Bagi tikus lahan pertanaman tebu juga tempat bersembunyi yang cukup memadai bila habitat aslinya terganggu atau tidak tersedia. Tikus sawah memiliki daya adaptasi tinggi, sehingga mudah tersebar di dataran rendah dan dataran tinggi. Satwa anggota famili Muridae itu suka menggali liang untuk berlindung dan berkembang biak, membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi.

Sementara pada peranakan ke-2—6 seekor induk betina melahirkan 6—8 ekor; peranakan ke-7 dan seterusnya, 2—6 ekor. Interval antarperanakan 30—50 hari dalam kondisi normal. Pada satu musim tanam, tikus betina yang mempunyai 12 puting susu itu dapat melahirkan 2—3 kali, sehingga satu induk mampu menghasilkan sampai 100 tikus. Itulah sebabnya populasi bertambah cepat. Sepasang tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun. Itu menggambarkan betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun.

Para petani tebu mengendalikan hama tikus dengan gropyokan

Para petani tebu mengendalikan hama tikus dengan gropyokan

Berkelanjutan
Tikus betina cepat dewasa, pada umur 28 hari sudah siap kawin dan dapat bunting. Masa kehamilan mencapai 19—23 hari atau rata-rata 21 hari. Tikus jantan lebih lambat menjadi dewasa daripada betina, pada umur 60 hari siap kopulasi. Lama hidup tikus sekitar 8 bulan.

Baca juga:  Mereka Sahabat Dalam Senyap

Perkembangbiakan tikus sangat dipengaruhi oleh habitat, pakan, dan iklim mikro. Makanan mengandung unsur thiamine sangat penting dalam perkembangbiakan tikus.

Bila waktu tanam padi bersamaan dalam areal yang luas, maka peramalan dan pengendalian hama tikus lebih mudah. Sebaliknya, bila pola tanam padi tidak teratur, maka pola perkembangan tikus juga menjadi tidak teratur. Selama ini kehilangan produksi akibat serangan tikus setiap tahun paling banyak dibandingkan hama-hama lain.

Serangan tikus ladang terjadi setelah pembukaan lahan tebu baru. Hama tikus mempunyai mobilitas tinggi, mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Oleh karena itu usaha untuk memberantas tikus harus secara dinamis, berkesinambungan, dan secara terus-menerus. Upaya pengendalian tikus efektif bila secara terpadu.

Kepala Bidang Usaha Tani, Dishutbun Jombang, Totok Taryuono (kiri) serahkan umpan tikus

Kepala Bidang Usaha Tani, Dishutbun Jombang, Totok Taryuono (kiri) serahkan umpan tikus

Pengendalian itu disusun dalam strategi yang cocok untuk ekosistem pertanian tertentu dan serasi dengan sosial budaya petani setempat. Karena perkembangbiakan hama yang cepat dan mobilitas tinggi, maka perlu pengendalian hama tikus terpadu (PHTT). Strategi PHTT berdasarkan pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu.

Contoh jika hendak memberikan rodentisida, maka sebaiknya warnanya kuning terang. Satwa itu cenderung tertarik pada warna kuning dan hijau karena ditangkapnya sebagai warna abu-abu terang. Oleh karena itu, umpan beracun dengan warna kuning terang atau hijau sangat efektif sebagai pengendali hama tikus. Tikus tidak peka terhadap warna merah, sehingga warna merah tidak berpengaruh terhadap perilaku dan aktivitasnya.

Anjing pelacak
Teknik-teknik pengendalian hama tikus secara terpadu antara lain tanam serempak, sanitasi lingkungan, serta pengendalian secara mekanis, biologis, dan kimiawi (pengumpan beracun, pengasapan beracun). Pengendalian sebaiknya sebelum tanam (pengenalian dini), untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat. Pengendalian oleh petani sebaiknya secara bersama-sama atau “gropyokan” dan terkoordinasi dalam cakupan skala luas (hamparan).

Baca juga:  Eloknya Vanda Baru

Para pekebun tebu di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, dan Desa Sukoiber, Kecamatan Gudo, keduanya di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, melakukan gropyokan pada 19 Nopember 2014. Para petani tebu mengendalikan hama di lahan 25 ha. Selain itu kepala desa, aparat Kecamatan Kesamben, dan staf teknis dan penyuluh Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Jombang turut serta.

Anjing pelacak mengendus keberadaan tikus

Anjing pelacak mengendus keberadaan tikus

Dengan berkurangnya hama tikus berarti mengurangi kerugian para petani tebu.Para pemburu tikus memanfaatkan anjing pelacak untuk mengendus keberadaan tikus. Anjing pelacak dapat membedakan antara liang aktif dan liang nonaktif, sehingga upaya pembongkaran liang menjadi efektif dan tidak sia-sia.

Selain itu anjing sekaligus mengejar tikus yang lari. Anjing-anjing terlatih itu menunggu di dekat sarang tikus ketika para petani membongkar sarang. Begitu tikus keluar dari sarang, anjing-anjing itu sigap menangkapnya dan menyerahkan kepada pawang. Seekor anjing menangkap hingga ratusan tikus per hari.

Gerakan “gropyokan” yang tepat pada saat tidak ada tanaman berharga di lapangan, yakni segera setelah panen padi. Itu kerena pertimbangan bahwa agar tanaman termasuk tebu tidak rusak terinjak oleh para pemburu tikus. Selain itu populasi tikus saat tersebut sangat tinggi sehingga pelaksanaan “gropyokan” sangat efektif mengurangi populasi. Apalagi stadia tikus yang dominan berupa tikus muda sehingga lebih mudah membunuhnya. (Ir Achmad Sarjana MSi, kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *