Atasi Luka Api Tebu 1
Penanaman intensif tebu secara monokultur memicu kemunculan berbagai penyakit.

Penanaman intensif tebu secara monokultur memicu kemunculan berbagai penyakit.

Cendawan bertarung dengan cendawan, selamat tebu di tengah.

Ribuan tebu di lahan Wahyu Arifin seluas 3.000 m2 nyaris punah. Mula-mula di titik tumbuh muncul noktah kehitaman, bentuknya melengkung menyerupai cambuk. Tanaman menjadi kerdil, batang tidak membesar, dan pelepah daun terkulai.

Beberapa bulan kemudian, batang-batang Saccharum officinarum itu pun rebah. Akibatnya alih-alih mendulang rupiah, petani di Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu malah gigit jari. Tanaman berumur 7 bulan itu tak terselamatkan. Kerugian itu semakin menyesakkan karena Wahyu menyewa lahan khusus untuk menanam tebu.

Merusak jaringan
Penyakit yang menggasak tanaman tebu milik Wahyu adalah luka api. Ada pula yang menyebutnya jelaga tebu atau cambuk jelaga. Menurut ahli penyakit tanaman dari Universitas Gadjah Mada, Prof Bambang Hadisutrisno, luka api disebabkan cendawan Sporisorium scitamineum atau Ustilago scitaminea.

Cendawan itu memperbanyak diri secara vegetatif dalam jaringan meristem tebu lalu membentuk tiang untuk menyangga kotak spora. Tiang itulah yang secara kasat mata berbentuk mirip cambuk gosong sehingga menjadi muasal julukan cambuk jelaga. “Spora menyebabkan infeksi baik hinggap di tanah maupun tanaman sehat,” kata Bambang.

Saat mendarat di tanah yang lembap, spora tumbuh menjadi organ kelamin jantan dan betina. Keduanya melebur dan menghasilkan hifa alias sulur yang mendekati dan menembus tanaman tebu terdekat lalu memperbanyak diri. Sementara spora yang hinggap di tanaman sehat segera menembus jaringan meristem lalu memperbanyak diri seperti proses pertama.

“Saat muncul cambuk, sebenarnya jaringan dalam tebu sudah berantakan. Tanaman menjadi mesin perbanyakan cendawan dan tidak bisa diselamatkan,” kata Prof Bambang. Celakanya, kebiasaan petani menjadikan tanaman sebelumnya sebagai sumber bibit setekan membuat siklus penyakit luka api terus bersambung.

Leunca efektif menghambat penyebaran luka api.

Leunca efektif menghambat penyebaran luka api.

Cara atasi
Penyakit itu juga akan muncul kembali ketika tebu ditumbuhkan dari tunas sisa panen sebelumnya alias ratun. Itu sebabnya penyakit luka api ibarat lonceng kematian bagi tebu.

Baca juga:  Kurangi Kopi Saat Hamil

Menurut Bambang bibit setekan harus mendapat perlakuan seed dressing alias penyelubungan dengan zat pelindung dan seed treatment atau perlakuan untuk mematikan benih penyakit. Cara penyelubungan dengan merendam bibit dalam larutan fungisida berbahan aktif campuran difenokonazol dan triadimefon dengan dosis sesuai kemasan selama 2 jam.

“Perendaman meresapkan bahan aktif ke dalam jaringan sehingga spora tidak bertahan hidup,” kata Bambang. Sementara cara seed treatment adalah dengan merendam bahan setekan dalam air hangat bersuhu 500C selama 30 menit. Menurut alumnus program doktorat Universitas Montpellier Prancis itu, air hangat merusak kemampuan spora untuk menumbuhkan sulur sehingga kehilangan daya tumbuhnya.

Cara yang lebih efektif adalah dengan membungkus bibit dengan cendawan “baik” seperti mikoriza atau trichoderma. Bibit yang terbungkus oleh cendawan baik akan terlindungi dari cendawan lain yang ingin merusak. Menurut Dra Harmastini Sukiman MAgrSc, periset di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Bogor, mikoriza menembus jaringan tanaman lalu hifanya menyelubungi akar sehingga tidak tertembus oleh hifa cendawan lain.

“Mikoriza membantu tanaman memperoleh air dan mineral, sebagai gantinya ia mendapat karbohidrat hasil fotosintesis,” kata Harmastini. Hal serupa juga dilakukan oleh cendawan trichoderma, baik jenis T. viride maupun T. harzianum. Bedanya trichoderma tidak membantu penyerapan air dan mineral. Bahan yang tidak kalah ampuh melawan cendawan luka api adalah daun leunca Solanum nigrum.

COVER 1.pdf

Periset dari Balai Penelitian Tebu India, Dr Ram Ji Lal dan rekan-rekan, membuktikan pengaruh cendawan trichoderma dan ekstrak air daun leunca terhadap serangan luka api tebu. Mereka menggunakan biakan murni trichoderma dengan populasi 1-juta spora per ml larutan. Ram menumbuk daun leunca hingga halus lalu melarutkan dalam air bersih dengan perbandingan 1:1.

Baca juga:  Rangkaian Hari Kasih Sayang

Ia menambahkan 9 bagian air pada larutan itu sehingga konsentrasi tumbukan daun leunca tinggal 10%. Ram merendam masing-masing 3 batang setekan dengan larutan trichoderma dan daun leunca lalu menanam di lahan. Sebagai pembanding, ia juga menanam 3 setekan tanpa perlakuan. Ia menanam masing-masing setekan itu dalam plot percobaan seluas 27 m2.

Hasilnya, setekan yang mendapat perlakuan trichoderma atau daun leunca lebih sedikit terserang luka api dan menghasilkan lebih banyak panen ketimbang setekan tanpa perlakuan (lihat Para Penyelamat Tebu). Sayang, Ram tidak meneliti mekanisme penghambatan cendawan ataupun zat utama dalam daun leunca. Itu membawa harapan bagi pekebun tebu. Apalagi cendawan trichoderma cair kini semakin mudah diperoleh di toko-toko pertanian.

Leunca juga banyak tumbuh di pekarangan warga, khususnya di Jawa Barat. Kalau tidak ada, kerabat terung itu juga mudah ditanam dan cepat tumbuh. Wahyu Arifin dan para petani tebu lain kini dapat memafaatkan daun tanaman anggota famili Solanaceae itu untuk mengatasi serangan luka api. (Argohartono Arie Raharjo)

COVER 1.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *