Atap Sedum Sedap Dilihat

Atap Sedum Sedap Dilihat 1

Sukulen hijaukan atap bangunan.

Tikar sedum melapisi atap rumah keluarga Altena di Rijssen, Belanda.

Tikar sedum melapisi atap rumah keluarga Altena di Rijssen, Belanda.

Rumah Altena di Rijssen, Belanda, itu sungguh unik. Atap bangunan berwarna dominan merah muda dan sedikit hijau. Kedua kelir itu bukan berasal dari genting, tapi dari tumbuhan penutup puncak rumah. Lazimnya rumah di Belanda dan negara Eropa lainnya menggunakan bahan terbuat dari kayu, batu, logam, atau plastik sebagai atap rumah. Namun, atap tempat tinggal keluarga Altena berbeda dari lainnya.

565_-74-3

Sedum lydium salah satu tanaman yang digunakan untuk atap.

“Pemilik menambahkan tikar sedum atau sedum mat di atap rumah,” kata Direktur Dutch Green Roof, Rolph Markvoort. Sedum merupakan genus tanaman berbunga dan mayoritas hidup di antara bebatuan (stone crop). Ada yang tumbuh merambat di atas tanah atau berbentuk semak. Dutch Green Roof memanfaatkan tanaman sedum untuk penutup atap. Produsen itu menumbuhkan tanaman di atas lembaran sabut kelapa sehingga mirip tikar.

Warna-warni
Rolph mengatakan tikar sedum berupa lembaran berbentuk persegi panjang yang dicampur dengan serbuk sabut kelapa atau cocopeat dan pupuk organik. Serabut kelapa berasal dari India dan Srilanka. Semua bahan itu menjadi media tumbuh sedum. Tanaman anggota famili Crassulaceae itu termasuk sukulen yang berdaun “gemuk”. Harap mafhum daunnya sebagai tempat untuk menyimpan air.

Sedum dapat ditemukan di daerah pengunungan. Genus anggota famili Crassulaceae itu terdiri atas sekitar 600 spesies. Rolph memanfaatkan sekitar 8 spesies sedum pada produknya. Spesies sedum yang ia gunakan antara lain Sedum reflexum, S. kamschaticum, S. album “Coral Carpet’, S. lydium, S. cauticolium, dan S. spurium ‘Purpertepich’.

Rolph Markvoort (paling kanan) mengembangkan tikar sedum sejak Maret 2015.

Rolph Markvoort (paling kanan) mengembangkan tikar sedum sejak Maret 2015.

Alasannya agar “tikar” tersusun dari aneka sedum beragam warna sehingga tampil menawan. Sedum reflexum berdaun biru-kelabu dan berbunga kuning saat musim panas.

Baca juga:  Taman Percepat Pasien Sembuh

Sementara S. kamschaticum tampil elok karena daun berkelir hijau dan berubah merah muda saat musim gugur. Pembuatan tikar sedum relatif sederhana, tapi menggunakan teknologi mutakhir. Mula-mula Rolph menyiapkan lahan dan membersihkannya dari tanaman pengganggu. Lalu meletakkan serabut kelapa berbentuk persegi panjang.

Selanjutnya Rolph menggunakan teknik hydroseeding untuk menyemai biji sedum. Ia mencampur biji sedum, serbuk sabut, pupuk organik, dan air dalam satu wadah. Kemudian campuran bahan itu disemprotkan melalui selang ke atas hamparan serabut kelapa. Ia menggunakan teknik hydroseeding karena efisiensi waktu dan biaya. “Tikar sedum dapat digunakan setelah setahun di lahan,” kata Rolph.

Serabut kelapa pada tikar sedum berasal dari India dan Srilanka.

Serabut kelapa pada tikar sedum berasal dari India dan Srilanka.

Cara panen produk itu mudah karena pekerja cukup menggulung tikar sedum. Perusahaan di Holten, Belanda, itu, menyediakan tikar sedum berukuran 2 m x 1,2 m dan 1 m x 1,2 m. Sayang, Rolph menolak menyebut harga jual tikar sedum. Pada Maret 2016 itu Rolph memerlukan 600 m² tikar sedum ketika melapisi atap kediaman keluarga Altena. Pekerjaan itu selesai dalam 6 hari.

Produk inovatif

Menurut pria asli Belanda itu keuntungan sedum dalam bentuk tikar itu mudah dan cepat diterapkan. Ada beberapa syarat agar sedum terpasang sempurna pada atap seperti atap harus antiair dan tidak dapat ditembus akar. Jika material atap tidak memenuhi ketentuan itu, pemilik bisa menggunakan filter antiakar tanaman. Dengan bahan itu dijamin akar tidak menembus atap. Struktur atap juga mesti memiliki drainase yang baik sehingga tidak muncul genangan air.

Atap pun wajib mampu menahan beban minimal 100 kg per m². Selain sebagai penutup atap, tikar sedum pun bisa digunakan pada dinding bangunan. Pakar lanskap dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin MS, mengatakan tikar sedum produk yang inovatif.

Dutch Green Roof menyediakan tikar sedum berukuran 2 m x 1,2 m dan 1 m x 1,2 m.

Dutch Green Roof menyediakan tikar sedum berukuran 2 m x 1,2 m dan 1 m x 1,2 m.

Menurut Hadi fungsi atap hijau antara lain penyerap polutan, menurunkan suhu udara, dan meningkatkan keindahan rumah. Menurut Rolph tikar sedum memperpanjang masa pakai atap dan sebagai penyerap suara. Ia memproduksi tikar sedum sejak Maret 2015. Trubus menjumpai Rolph saat mengunjungi pameran tanaman taman, GrootGroenPlus, di Zundert, Belanda, pada 5—7 Oktober 2016.

Baca juga:  Seri Walet 213: Minimalis untuk Liur Emas

Selain tikar sedum Dutch Green Roof menampilkan aneka produk seperti benih sedum, tikar drainase, dan alas pelapis atap hijau di ajang internasional itu. Ia membudidayakan sedum di lahan 3 hektare. Sampai saat ini Rolph telah menjual 60.000 m² setara 6 hektare tikar sedum. Selain Belanda, konsumen berasal dari berbagai negara di Eropa seperti Jerman, Belgia, dan Slovakia.

Konsumen berupa individu seperti Altena dan institusi seperti sebuah rumahsakit di Deventer, Belanda. “Kebanyakan konsumen ingin membawa suasana alam ke rumah sehingga mereka memilih atap hijau,” kata pria yang juga pelatih ice skating itu. Harap mafhum kehadiran ruang terbuka hijau khususnya di perkotaan mengundang burung dan kupu-kupu ke kawasan urban. Dengan begitu tercipta impian hidup selaras alam bisa terwujud. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x