Prospek cerah sayuran hidroponik membuat Andro Tunggul Namureta serius menekuni dunia agribisnis

Andro Tunggul Namureta (depan kanan), membuktikan budidaya sayuran secara hidroponik peluangnya ekonominya tinggi dan relatif mudah untuk dilakukan.

Andro Tunggul Namureta (depan kanan), membuktikan budidaya sayuran secara hidroponik peluangnya ekonominya tinggi dan relatif mudah untuk dilakukan.

“Alhamdulillah, akhirnya tercapai kesepakatan dengan perusahaan mitra untuk mengambil produk sayuran hidroponik kami. Permintaan mereka 100 pak per hari,” ujar Andro Tunggul Namureta yang membudidayakan beragam sayuran dengan teknologi hidroponik. Dengan bobot per pak 250 g, maka petani di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu harus mengirim 25 kg sayuran setiap hari.

Andro mengembangkan sayuran hidroponik sejak pertengahan 2015. Menurut pria 25 tahun itu mitra membeli pakcoy dan selada Rp6.000—Rp7.000 per pak. Omzet Andro minimal Rp6-juta per hari. Menurut Andro ongkos produksi berupa perawatan instalasi hidroponik, kebutuhan benih dan nutrisi, mencapai 20%. Oleh karena itu Andro mengutip laba bersih hingga Rp4,8-juta sehari.

Lebih cepat
Menurut Andro, “Jika diperhitungkan dengan modal awal total Rp 110-juta dari mulai pembuatan instalasi sampai greenhouse, maka dalam sebulan saja tercapai break even poin atau sudah impas.” Pria kelahiran Bangka 19 November 1990 itu tinggal menjaga kualitas sayuran dan memperluas skala produksi. Menurut Andro mempertahankan kualitas itu penting. Sebab, perusahaan mitra mematok standar produk hidroponik yang cukup tinggi.

Kualitas sayuran hidroponik produksi Andro dan kawan-kawan langsung memikat perusahaan mitra untuk menjadikannya sebagai salah satu pemasok.

Kualitas sayuran hidroponik produksi Andro dan kawan-kawan langsung memikat perusahaan mitra untuk menjadikannya sebagai salah satu pemasok.

Sayuran harus mulus, tidak boleh ada yang rusak atau daun berlubang karena serangan hama atau kesalahan saat proses panen. Hasil membanggakan itu berkat kerja keras Andro dan rekan-rekannya. Ia mengembangkan bisnisnya bersama 5 teman kuliahnya, yakni Winda Ika Susanti, Ibrahim Ajie, Herdian Satrya Eka Putra, Rudini Sentosa, dan Solihin Arief. Mereka almuni Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

Baca juga:  Dua Windu Demi Cupang

Mereka dari 4 disiplin ilmu yang berlainan. Itulah keunikan sekaligus kekuatan kelompok kecil itu. Setiap personil dapat fokus mengurusi usaha budidaya sesuai ilmu yang dikuasai. Winda fokus pada kimia kesuburan dan nutrisi. Aji, Herdian, dan Rudi pada hama dan penyakit tanaman. Solihin mengurusi bidang sosial ekonomi yang meliputi hubungan dengan mitra dan pasar. “Saya sendiri memiliki tugas yang berhubungan dengan budidaya tanaman,” kata Andro.

Dalam kelompok itu, Andro memang berperan sebagai inisiator yang memiliki gagasan usaha agribisnis. Pria berkacamata itu tertarik untuk berbisnis di bidang pertanian sejak masih kuliah. “Semua berawal dari obrolan dan mimpi saat berkumpul bareng teman-teman dalam organisasi kemahasiswaan. Saat itu, kami sudah memikirkan dan berencana membuat bisnis berbasis pertanian, tetapi belum jelas akan fokus pada budidaya apa,” ujar Andro.

Konstruksi greenhouse dengan dinding insect net yang dijahit antarsambungan salah satu rahasia untuk menangkal serangan hama.

Konstruksi greenhouse dengan dinding insect net yang dijahit antarsambungan salah satu rahasia untuk menangkal serangan hama.

Andro dan rekan memilih hidroponik setelah membandingkan dengan berbagai sistem budidaya lain. “Saya melihat hidroponik proses budidayanya relatif sederhana, lahan yang dibutuhkan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dan waktu untuk memperoleh produknya juga cepat,” ujarnya. Andro memanfaatkan lahan orang tuanya seluas 3.000 m² yang belum tergarap di Ciapus, Bogor.

Konsultasi hidroponik
Selain pengetahuan tentang wirausaha, Andro dan kawan-kawan juga mengikuti kursus hidroponik kepada para pakar di Jakarta dan Bandung. Akhirnya pada Mei 2015 kelompok anak muda itu membangun greenhouse berangka bambu dan beratap plastik ultraviolet. Dindingnya berupa insect net untuk mengurangi ancaman serangan hama penggerek daun. Dalam rumah tanam seluas 250 m² itu terdapat 24 meja hidroponik.

Andro Tunggul Namureta

Andro Tunggul Namureta

Setiap meja berisi 6 talang berukuran 4 meter terdiri atas 19 lubang tanam. “Sementara ini jenis sayuran yang ditanam baru pakcoy dan selada, karena untuk tujuan memenuhi kebutuhan perusahaan mitra. Namun, kami selalu ingin mencoba menanam jenis sayuran lain pada waktu mendatang,” ujar Andro. Keberhasilan Andro adalah buah dari perjalanan panjang dan proses yang tidak selalu menyenangkan.

Baca juga:  Buah Surga Buah Bibir Kini

Masih jelas dalam ingatan Andro, ia dan kawan-kawan terkejut saat menjumpai daun sayuran berlubang-lubang akibat serangan ngengat dan belalang. Penyebabnya mereka belum menutup bagian atas greenhouse dengan insect net. Setelah menutup pun serangan belum juga teratasi. Ternyata organisme pengganggu tanaman itu dapat masuk melalui sela-sela sambungan jaring. Setelah menjahit sambungan itu barulah serangan jauh berkurang.

Sayuran hidroponik dapat diolah sebagai paket salad dan jus untuk menambah nilai ekonomis produk.

Sayuran hidroponik dapat diolah sebagai paket salad dan jus untuk menambah nilai ekonomis produk.

Jika dinilai dengan uang, nilai kerugiannya mencapai jutaan rupiah. Walau demikian, mereka pantang menyerah untuk berusaha memecahkan segala permasalahan dalam budidaya sayuran hidroponik. Dengan beragam upaya itu Andro dan kawan-kawan menuai sayuran berkualitas unggul. Buktinya perusahaan mitra langsung menerima pasokan sayuran. Kenyataan itu membuat mereka semakin percaya diri untuk melangkah lebih jauh.

Saat ini Andro berancang-ancang untuk mengembangkan sayap bisnisnya ke arah jasa konsultasi dan pembuatan instalasi hidroponik. Permintaan mulai berdatangan dari kalangan alumni Universitas Padjadjaran. Tidak tanggung-tanggung, seorang alumnus bahkan meminta Andro untuk merancang hidroponik skala kebun untuk tujuan komersial. Ia juga berencana membuat hasil olahan sayuran hidroponik berbentuk paket salad dan jus untuk menambah nilai ekonomis produk kebunnya. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments