Permintaan kopi cenderung meningkat sehingga mendorong pekebun merawat kopi.

Permintaan kopi cenderung meningkat sehingga mendorong pekebun merawat kopi.

Para pelaku industri kopi se-Asia Tenggara bertemu di Yogyakarta untuk membuka jaringan dan pasar baru serta menambah ilmu.

Permintaan kopi di pasar lokal tanah air meningkat 20%. “Kini semakin banyak pembeli datang ke kebun,” kata pemimpin Koperasi Baitul Qirodh Baburrayyan, Rizwan Husin. Ketua koperasi pekebun kopi di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, itu menyatakan bahwa harga jual sekilogram biji kopi kering kupas nonsangrai (green bean) di tingkat petani berkisar US$5—US$6 setara Rp65.000—Rp78.000.

Harga tinggi dan bertambahnya pembeli memicu petani berlomba menghasilkan kopi berkualitas premium. Berbagai sertifikasi seperti organik atau praktik budidaya yang baik turut menaikkan harga. Fakta itu terungkap dalam perhelatan ASEAN Learning Series di auditorium Hotel Eastparc, Yogyakarta, pada 19—21 Juli 2017. Acara bertema Rantai Tataniaga Inklusif untuk Kopi itu mempertemukan 65 pegiat kopi se-Asia Tenggara.

Membuka pasar

Penyuluh lapang senior dari Suistainable Coffee Platform of Indonesia (SCOOPI), Jajang Slamet Somantri.

Penyuluh lapang senior dari Suistainable Coffee Platform of Indonesia (SCOOPI), Jajang Slamet Somantri.

Para pegiat kopi adalah petani kopi, pihak swasta, dan perwakilan pemerintah setiap negara Asia Tenggara. Koordinator acara ASEAN Foundation, Yacinta Esti, menyatakan bahwa acara itu menjembatani pemerintah dengan pihak swasta dan petani kopi. “Kebanyakan petani dan pihak swasta kurang memahami kebijakan pemerintah di negara masing-masing,” kata Yacinta. Asean Foundation bertujuan menyelaraskan kebijakan pemerintah dengan petani dan pihak swasta.

Tugas Asean Foundation menjembatani pembuat kebijakan dan pelaksana di lapangan. Kopi merupakan komoditas pertukaran dunia terbesar kedua setelah minyak. Di kasawan Asia Tenggara, setidaknya 8 negara menjadi produsen kopi.

Menurut General Manager Lao Farmer Network, Laos, Phoutashinh Phimmachan, acara ASEAN Learning Series itu sangat bermanfaat. “Tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga mengungkap peluang pasar baru,” kata Phoutashinh. Pria yang 3 kali mengunjungi Indonesia itu mengatakan, luas total lahan milik anggota koperasinya mencapai 10.000 hektare. Komposisinya 70% jenis arabika dan 30% robusta. Hasil panen rata-rata mencapai 70.000 ton per tahun mereka jual dalam bentuk green beans.

Baca juga:  Usir Penggerek Kakao

“Hampir semua hasil panen kami ekspor ke Eropa, Amerika, dan Jepang,” kata Phoutashinh. Tidak seperti di Indonesia, serapan lokal kopi di Laos tidak sampai 1% kapasitas produksi. Pekebun fokus menjual ke luar negeri. Harga bergantung pasar dunia. Menurut Phoutashinh para petani di Laos menerapkan sistem budidaya organik. Itulah sebabnya, harga jual kopi asal Laos di atas rata-rata harga dunia kini sekitar US$3,9. Kisaran harga jual green beans di sana US$4—US$5 per kg.

Peserta Asean Learning Series mengamati pengolahan pascapanen kopi merapi.

Peserta Asean Learning Series mengamati pengolahan pascapanen kopi merapi.

Pengelola Harui Kopi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Fajar Ginting, mengatakan bahwa, melalui acara itu ia memperoleh jaringan baru, edukasi mengenai cara bertani yang baik, dan cupping. Cupping merupakan seni menilai secangkir kopi dengan menghirup aroma, menyeruput, dan meneguk minuman kopi.  Harui Kopi mengelola 154 hektare lahan kopi di lereng Gunung Sinabung. Menurut Ginting, petani kopi di Karo masih pemula.

Mereka menjual kopi dalam bentuk ceri (buah utuh pascapetik) seharga Rp24.000 per kg. Pria yang juga mengelola lahan kopi seluas 3 ha itu memperoleh banyak informasi dan ilmu baru yang bisa diterapkan di kebun. Demikian pula Rizwan Husin yang memperoleh peluang ekspor ke negara serumpun yang tampaknya cukup baik. “Tidak melulu mengandalkan pasar Eropa dan Amerika,” katanya. Menurut direktur CV Aridalta Mandiri itu potensi kopi tanah air bagus dan bisa bersaing dengan negara tetangga.

Menurut Rizwan petani kopi harus memperhatikan penguatan koperasi yang menampung panenan para pekebun. “Kadang perintis koperasi harus rela mengeluarkan dana untuk modal awal,” kata Rizwan. Musababnya, pekebun terkendala iuran bulanan. Pengalamannya, memerlukan waktu hingga 10 tahun sampai koperasi mampu membantu ekonomi pekebun. Saldo awal dana simpanan anggota dipotong dari keuntungan penjualan.

Peserta Asean Learning Series perwakilan dari berbagai negara di ASEAN.

Peserta Asean Learning Series perwakilan dari berbagai negara di ASEAN.

“Sedikit demi sedikit sehingga tidak terasa jumlahnya sudah ideal sebagai simpanan anggota,” katanya. Koperasi memberi kenyamanan konsumen bertransaksi karena berbadan hukum. Apalagi untuk kebutuhan ekspor. “Pembeli atau eksportir lebih memercayai koperasi atau asosiasi,” katanya. Para peserta ASEAN Learning Series juga mengunjungi kebun kopi robusta seluas 50 hektare di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Di kebun itu mereka belajar cara mengebunkan kopi yang baik.

Baca juga:  Kelinci Pendatang Baru

Menurut penyuluh lapangan senior dari Suistainable Coffee Platform of Indonesia (SCOOPI), Jajang Slamet Somantri, peserta belajar analisis tanah, agronomi, tanaman penaung, organisme pengganggu tanaman, dan pengelolaan musuh alami tanaman kopi. Dari kunjungan itu, kebanyakan pekebun di negara-negara ASEAN memahami kaidah budidaya kopi yang baik. Penyuluh pertanian di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu mengatakan, peserta mampu menganalisis kekurangan budidaya yang diterapkan pekebun kopi merapi dan memberi saran mengenai teknis budidaya.

Kopi robusta di kebun kopi merapi,  Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kopi robusta di kebun kopi merapi, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Pada akhir acara, sekretaris jenderal Asosiasi Petani Asia (Asian Farmer Association, AFA), Estrella Penunia, memaparkan kesimpulan dan rekomendasi acara. Menurut Penunia perlu pengorganisasian dan konsolidasi pasar oleh pekebun dan swasta di setiap negara. Kesimpulan lain, penguatan koperasi, peningkatan praktik pemrosesan dan kapasitas produksi kopi, dan pembuatan jejaring daring (online) untuk pertukaran informasi antarpekebun kopi se-Asia Tenggara.

Hal yang akan segera dilakukan adalah pertukaran petani muda, kerja sama perusahaan antarnegara, edukasi konsumen, serta advokasi untuk petani kopi profesional. Pemerintah setiap negara, melalui ASEAN, mengagendakan rangkaian penyuluhan untuk memfasilitasi pekebun dan swasta, dan pertukaran petani kopi pada Agustus—September 2017 di Malaysia. Seminar cupping dan cara pengolahan kopi di Chiangmai, Thailand pada September 2017, dan seminar 4 besar produsen kopi ASEAN di Filipina pada Oktober 2017. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d