Asap Cair: Sekali Suling Kelas Dua 1
Dari kiri: Asap cair kelas 1 (kuning), kelas 2 (cokelat), dan kelas 3 (hitam)

Dari kiri: Asap cair kelas 1 (kuning), kelas 2 (cokelat), dan kelas 3 (hitam)

Andrieyono sukses memproduksi asap cair tinggi fenol hanya dengan sekali suling.

Lazimnya penyulingan pertama menghasilkan asap cair kelas tiga. Aroma asap masih menyengat dan warna kehitaman lantaran kandungan tar relatif tinggi. Untuk menghasilkan asap cair kelas dua berwarna kemerahan, produsen menyuling ulang. Artinya untuk memperoleh asap cair kelas dua, produsen perlu dua kali mendestilasi. Namun, Andrieyono mampu menghasilkan asap cair kelas dua hanya dengan sekali penyulingan. “Rahasianya di pipa,” kata produsen di Desa Jenggawah, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, itu.

Biasanya produsen asap cair memasang pipa penangkap asap secara miring. Namun, Andrie memasang 4 pipa secara vertikal dari drum pembakaran. Panjang setiap pipa 1 meter sehingga satu jalur keluar asap harus melewati 4 meter lorong pipa. Tak hanya membuat satu jalur keluar asap, penyuling sejak 2011 itu membuat 80 jalur keluar asap. Artinya, dari satu drum pembakaran ada 320 pipa. Kunci lain teknologinya terletak pada bahan pipa berupa polivinil klorida (PVC) lantaran tidak menyimpan panas.

Dari satu tabung ada 80 jalur keluar asap cair

Dari satu tabung ada 80 jalur keluar asap cair

Tempurung pasar

Pada umumnya produsen lain menggunakan pipa berbahan logam yang bersifat penyimpan panas. Efeknya kualitas produksi asap cair tidak stabil. Pada awal pembakaran, ketika pipa masih dingin, asap cair yang dihasilkan bagus. Namun, ketika pipa memanas, komposisi asap yang mencair berubah. Kandungan fenol pada asap cair konvensional berkisar 4,13—5,5%. Bandingkan dengan asap cair produksi Andrie yang kandungan fenolnya mencapai 29,77%.

Menurut Prof Dr Purnama Darmadji, periset di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, fenol berguna sebagai antimikrob dan antioksidan yang membuat makanan lebih awet dan tidak tengik. Fenol mampu merusak sel-sel mikrob sehingga tidak dapat bertahan hidup dan gagal merusak makanan. Makanan pun lebih awet dan tahan lama.

Baca juga:  Hermetia Hebat

Selain pipa, pemilihan tempurung kelapa yang tepat juga mempengaruhi produksi asap cair. Untuk bahan baku, Andrie menggunakan tempurung kelapa limbah pasar lantaran sudah terpecah-pecah dan daging buah yang masih menempel tipis. Bandingkan dengan tempurung kopra yang berdaging tebal dan berbentuk setengah lingkaran. “Efisiensi pembakaran tempurung kelapa berukuran besar rendah karena terlalu makan tempat,” ujar Andrie.

Menurut Prof Dr Bambang Setiaji MSc, guru besar Jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada, pembuatan asap cair harus menggunakan tempurung kelapa tua. Kadar air tempurung kelapa muda terlalu tinggi sementara kandungan asam asetat dan fenol—penyusun utama asap cair—justru minim. Efeknya, asap cair dari tempurung kelapa muda berkualitas rendah.

Permintaan

Andrie menghasilkan 320 liter asap cair per hari atau 8.960 liter per bulan dengan 28 hari kerja. Ia hanya libur pada hari besar atau hari-hari tertentu. Rendemen asap cair mencapai 50%. Artinya pembakaran 2 kg tempurung kelapa menghasilkan seliter asap cair kelas 2. Jika ia mendestilasi ulang, maka seliter asap cair kelas 2 menghasilkan 900 ml asap cair kelas 1, alias susut 10%. “Penyusutan itu untuk menjaga agar tetap ada asap cair di drum perebusan, sehingga drum lebih awet dan tidak mudah rusak,” ujar Andrie.

534_ 141Dengan bendera CV Prima Rosandries, Andrie menjual asap cair kelas 1 dengan beragam harga. Produk antiseptik untuk penyakit kulit seharga Rp10.000 per 100 ml, obat sakit gigi Rp4.000 per 100 ml, dan antibiotik peternakan Rp20.000—Rp100.000 per liter. Asap cair kelas 2 ia jual Rp35.000 per liter. Produknya beredar di seluruh Indonesia dan luar negeri seperti Brunei Darussalam.

Penyuling di Bogor, Jawa Barat, Darma Indra Rais, menjual dengan harga Rp25.000 per liter untuk asap cair kelas 3, Rp29.000 untuk asap cair kelas 2, dan Rp33.000 untuk asap cair kelas 1. Perbedaan harga itu lantaran perbedaan dalam proses pembuatan. Darma memperoleh 30 liter asap cair kelas 2 dari 40 liter asap cair kelas 3. Ia lantas menyuling ulang asap cair kelas 2 sehingga menghasilkan asap cair kualitas wahid dengan rendemen 80%. Artinya, dari seliter asap cair kelas 2, Darma mendapat 800 ml asap cair kelas 1.

Baca juga:  Aral Berbisnis Tanaman

Asap cair kelas 1 digunakan untuk pengawet makanan siap saji seperti mi, bakso, dan tahu. Menurut Drs Tri Kasihanto MSi, manajer produksi PT Tropica Nucifera Industry, kandungan tar asap cair kelas 3 lebih dari 1%; kelas 2 (0,5—1%), dan kelas 1 kurang dari 0,5%. Rendahnya kandungan tar membuat asap cair kelas 1 banyak diaplikasikan di bidang kesehatan.

Menurut Bambang, potensi pasar asap cair sangat besar. Sebagai gambaran, pabrik karet di Indonesia saja memerlukan 1.000 ton asap cair per bulan. Dalam industri mebel, asap cair mencegah serangan rayap. Asap cair juga bisa menggantikan bahan desinfektan dan vaksin di peternakan unggas. Begitu banyak manfaat asap yang berubah wujud itu: pengawet makanan, antibiotik, penghilang bau, koagulan, hingga insektisida. (Kartika Restu Susilo/Peliput: Lutfi Kurniawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *