Asa Hidup di Luar Rumah 1
Rafflesia patma berkembang di luar habitat

Rafflesia patma berkembang di luar habitat

Beragam pohon seperti randu, pasang, dan tampoi menjulang di lahan Holidin. Semak belukar juga leluasa tumbuh. Sepintas lahan di Desa Tebatmonok, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, itu tak terawat. Namun, Holidin memang sengaja membiarkan kebun warisan orang tua seperti hutan. Pria 46 tahun itu berupaya menciptakan suasana dan iklim di kebunnya mirip di hutan agar mampu menumbuhkan Tetastigma sp,  tanaman inang Rafflesia arnoldii.

Periset rafflesia dari Kebun Raya Bogor, Dra Sofi Mursidawati MSc, mengatakan, “Rafflesia arnoldii termasuk keystone spesies. Artinya spesies yang sangat tergantung dengan habitatnya.” Holidin lantas membuat setek Tetrastigma sp dengan memotong batang liana itu sepanjang 30 cm. Tanaman anggota famili anggur-angguran itu banyak tumbuh di habitat Rafflesia arnoldii di Provinsi Bengkulu. Jarak hutan dan kebun Holidin kurang dari 5 km.

Hutan di Bukit Barisan rumah besar beragam rafflesia

Hutan di Bukit Barisan rumah besar beragam rafflesia

Untuk sementara ia menanam setek Tetrastigma itu di polibag dengan media campuran tanah dan serasah. Holidin meletakkan bibit itu di dalam hutan selama 2—3 pekan hingga tumbuh tunas baru dan siap tanam di kebun.  Holidin menanam puluhan bibit Tetrastigma sp di kebun sejak 1998. Tanaman inang anggota famili Vitaceae itu tumbuh dan merambati randu.  Ayah 4 anak itu mengatakan, pada 2011 muncul 2 bonggol atau bakal bunga Rafflesia arnoldii di kebunnya. Sebuah bonggol berdiameter 15 cm, bonggol lain seukuran telur ayam.

Sayangnya, menurut Holidin babi hutan menginjak kedua bonggol  itu hingga gagal mekar. Hingga kini belum pernah muncul bakal bunga lagi. Sebagai parasit, Rafflesia sp hanya bisa hidup menumpang pada Tetrastigma sp. Holidin, ketua Lembaga Peduli Puspa Langka dan Lingkungan, prihatin karena Rafflesia sp terancam kelestariannya. Oleh karena itu ia berupaya mengembangkan sekedei alias rafflesia di luar habitat.

Bunga bangkai Amorphopallus sp mirip Rafflesia sp mengeluarkan aroma busuk untuk menarik serangga penyerbuk

Bunga bangkai Amorphopallus sp mirip Rafflesia sp mengeluarkan aroma busuk untuk menarik serangga penyerbuk

Menurut Sofi  cara yang ditempuh Holidin untuk mengembangkan Raffesia sp masih memungkinkan. Sebab, lokasi kebun Holidin relatif dekat dengan habitat Rafflesia arnoldii di hutan. Namun cara itu juga bisa gagal “menumbuhkan” bunga. Sebab, menurut Sofi pembahasan terkait habitat Rafflesia arnoldii  masih sangat kompleks. Sebagai contoh, Sofi mendapati sebuah area di Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, yang berjarak hanya 2 meter dari habitat Rafflesia patma sama sekali tidak pernah menghasilkan bunga

Baca juga:  Lingkungan: Olah Plastik Jadi Minyak

Sofi mengatakan belum ada faktor utama yang bisa menentukan munculnya bunga tanpa daun dan batang itu di suatu tempat di luar habitat. “Faktor-faktornya masih sangat kompleks, sehingga masih sulit diketahui,” katanya. Menurut ahli sekedei dari Universitas Bengkulu, Ir Agus Susatya MSc, PhD, setek batang Tetrastigma sp tanpa bakal kuncup Rafflesia sangat sulit untuk muncul bonggol atau bakal bunga.  “Yang bisa dilakukan adalah setek yang punya bakal kuncup dan ditanam di tempat lain.  Ini pernah berhasil pada zaman Belanda di Kebun Raya Bogor sekitar 1830-an. Pola serupa mirip dengan langkah periset di Kebun Raya Bogor untuk menumbuhkan R. patma,” kata Agus..

Mengembangkan Rafflesia sp memang bukan perkara mudah. Sebab, beragam misteri menyelimuti sekedei (baca “Sekedei: Raksasa Penuh Misteri” halaman 84—89). Bunga berumah dua itu menyebabkan jantan dan betina terpisah. “Persentase jantan dan betina belum bisa diketahui karena sangat banyak faktor yang menentukan. Di Pangandaran,  misalnya, bunga jantan mendominasi sekitar 70%,” kata Sofi.  Agus Susatya mengatakan, “Hampir 95% jenis bunga yang mekar adalah jantan. Sepanjang saya berinteraksi dengan rafflesia, saya baru menjumpai dua jenis betina.”

Holidin menjaga habitat bunga sekedei

Holidin menjaga habitat bunga sekedei

Akibat berumah dua, maka tingkat keberhasilan penyerbukan pun rendah jika antara bunga jantan dan betina tidak mekar serempak. Apalagi bunga raksasa itu hanya mampu bertahan 7 hari sejak perigon atau kelopak pertama mekar. Berapa jarak maksimal antara bunga jantan dan betina? “Proses penyerbukan sangat tergantung lalat, sehingga untuk menentukan berapa jarak maksimum bunga jantan dan betina tergantung daya jelajah lalat,” kata alumnus University of Western, Australia, itu.

Namun, menurut Agus Susatya tak tertutup kemungkinan Rafflesia sp berkembang biak tanpa perkawinan. Begitu banyak misteri sekedei yang belum terungkap. Itulah sebabnya, menjaga habitat sebuah keharusan jika hendak menjaga kelestarian bunga terbesar di dunia itu.

Baca juga:  Taman Sains dan Teknologi

Itu pula yang dilakukan Holidin dan rekan-rekan anggota Lembaga Peduli Puspa Langka dan Lingkungan. Acap kali mereka bergantian menunggu bunga mekar hingga 24 jam. Tujuannya agar Raffesia sp tetap bertahan. “Ini karena kecintaan saya dan tanggung jawab moral,” ujar Holidin yang beberapa kali menjumpai  cacahan bunga sekedei di lantai hutan.  Ada pula orang yang dengan mudah mengayunkan golok hingga merusak tanaman inang Tetrastigma sp karena mungkin ketidaktahuannya. (Sardi Duryatmo/Peliput: Bondan Setyawan).

cover 1234.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *