Vanda-vanda unik dan langka, beraroma harum.

Vanda celebica ditemukan kembali di habitatnya setelah 60 tahun dianggap punah.

Vanda celebica ditemukan kembali di habitatnya setelah 60 tahun dianggap punah.

Nasib Vanda celebica pernah punah. Anggrek itu pernah diduga punah selama lebih dari 60 tahun, sejak 1910-an sampai akhirnya ditemukan kembali di Sulawesi Utara dan kepulauan sekitarnya. Betapa beruntungnya Alyadi Prasetyo, kolektor dan pembudidaya anggrek dari Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, dapat memiliki tanaman unik dan langka itu. Ia mendapatkannya dari sesama kolektor yang baru saja kembali dari kepulauan Sangihe Talaud.

“Dari 10 tanaman Vanda celebica yang saya beli itu, ternyata 3 di antaranya menghasilkan bunga berwarna kuning. Tanaman lainya berbunga seperti lazimnya spesies itu, yaitu kelopak putih dengan totol cokelat pada bagian tengahnya,” ujar Alyadi. Pantas anggrek endemik Sulawesi itu menjadi salah satu kesayangan. Habitat Vanda celebica di pohon-pohon hutan di ketinggian 500—600 m di atas permukaan laut di pulau Sulawesi.

Bunga wangi
Menurut ahli anggrek dari Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Destario Metusala, M.Sc, karakter spesifik Vanda celebica berdaun lebih tipis, jarak antardaun juga lebih lebar jika dibandingkan dengan daun spesies-spesies vanda lain pada umumnya. Karakter khas lain, bunga beraroma kuat, wangi bunga yang baru mekar seperti bunga lili, sedangkan bunga tua (yang sudah lama mekar) berbau seperti mentimun.

Chalied Swastika memelihara anggrek spesies tidak sesulit yang dibayangkan, asal memahami karakteristik tanaman.

Chalied Swastika memelihara anggrek spesies tidak sesulit yang dibayangkan, asal memahami karakteristik tanaman.

Destario mengatakan, bunga Vanda celebica mengeluarkan aroma terkuat pada malam hari sekitar pukul 21.00—23.00. Perbungaan anggrek itu lebih dari satu kuntum, mencapai 8 kuntum. Lebar bunga 3—4 cm. Koleksi lain anggrek unik Alyadi adalah Vanda helvola forma yellow. Penemuan anggrek itu pada 2004 ketika Alyadi bertualang di alam dan bepergian ke berbagai daerah antara lain Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Ia menemukan Vanda helvola forma yellow di sebuah tanaman yang roboh akibat kebakaran hutan. “Seakan menunggu untuk ditemukan dan dirawat dengan baik, kondisi tanamannya saat itu masih baik. Daunnya segar dan masih tersisa sejumlah bunga berwarna kuning di tangkainya,” ujarnya. Ia mengatakan, pada awalnya hanya ingin menyelamatkan anggrek di antara sisa batang tanaman yang sebagian sudah berwarna hitam itu.

Baca juga:  Lezatnya Keripik Sehat

Ketika tiba di rumah, baru Alyadi menyadari bahwa anggrek itu istimewa. Jenis Vanda helvola tetapi warnanya sama sekali berbeda dengan ciri-ciri jenis yang biasanya kelopak berwarna merah tua sampai cokelat atau ungu. Kelopak Vanda helvola benar-benar berwarna kuning solid dan putih di bagian tengahnya. Menurut Destario spesies itu tersebar antara lain dari Kepulauan Bismarck di Samudera Pasifik, Kalimantan, dan Papua Nugini.

Tempat hidupnya di pohon-pohon hutan dataran rendah yang lembap di sepanjang tepi sungai hingga ketinggian 1.600 m di atas permukaan laut. “Batangnya monopodial atau batang utamanya tumbuh terus-menerus ke atas tanpa batas hingga mencapai lebih dari 1 m panjangnya,” ujar Destario. Tipe perbungaan Vanda helvola sederhana dan tak terbatas jumlahnya atau disebut racemosa.

Berubah warna

Vanda devoogtii mutasi, mengalami perubahan warna yang drastis dari jenis biasa menjadi warna cerah dan mencolok.

Vanda devoogtii mutasi, mengalami perubahan warna yang drastis dari jenis biasa menjadi warna cerah dan mencolok.

Destario mengatakan, istilah racemosa merujuk pada bentuk dasarnya berupa tandan (raceme). Panjang tangkai 10 cm, bunga yang beraroma wangi muncul dari ketiak ruas tangkai sebanyak 3—5 buah, dan berdiameter 5 cm. Pencinta anggrek lain yang mengoleksi vanda unik adalah Chalied Swastika, asal Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Ia mempunyai anggrek Vanda devoogtii mutasi.

Menurut lelaki 51 tahun itu, anggrek Vanda devoogtii itu dianggap punah pada 1930-an dan baru ditemukan di Sulawesi Utara pada akhir 1990-an. Chalied memboyong Vanda devoogtii dari seorang kolektor pada 2007. Keistimewaan anggrek itu pada warna bunga yang “menyimpang” dari warna yang biasa. Vanda devoogtii lazimnya berkelopak cokelat dan bagian tepi kuning cerah.

Warna pada Vanda devoogtii mutasi benar-benar ngejreng. Warna kuning dan corak totol mendominasi kelopak. Sementara itu bagian tengah bunga tampil mencolok berwarna putih. Lidah bunga berwarna merah muda dengan corak garis-garis putih. Chalied baru dapat memastikan bahwa bunga miliknya itu produk mutasi setelah 5 kali masa berbunga. Proses yang panjang itu untuk menguji kestabilan corak dan warna bunga yang dihasilkan.

Kelopak Vanda helvola forma yellow berwarna kuning solid.

Kelopak Vanda helvola forma yellow berwarna kuning solid.

“Pada masa berbunga ke-3, saya sudah yakin bahwa anggrek itu mutasi, karena tampilannya sudah konsisten. Namun, saya uji sampai 5 kali baru berani mengklaim bahwa itu mutasi,” ujarnya. Ia belum dapat menjelaskan asal usul mutasi itu apakah dari genetik atau perubahan lingkungan. Koleksi Chalied yang tergolong unik karena langka di habitatnya adalah Vanda punctata.

Konservasi
Chalied mendatangkan Vanda punctata dari Tual, Maluku Tenggara. Menurut Chalied Vanda punctata berdaun langsing sebagai penyesuaian terhadap intensitas sinar matahari yang tinggi. Akar besar-besar, panjang, dan kekar seperti Vanda limbata sebagai bentuk adaptasi terhadap iklim yang kering. ”Biasanya Vanda punctata tumbuh di dataran rendah dan dekat dengan pantai yang lingkungannya panas dan kering,” ujar Chalied.

Vanda punctata masih minim data-data imliah karena belum banyak diteliti.

Vanda punctata masih minim data-data imliah karena belum banyak diteliti.

Destario mengatakan bahwa kedua jenis anggrek spesies yang terakhir itu sampai kini masih terbatas informasi yang tersedia dalam literatur. Penelitian yang fokus pada vanda spesies di tanah air juga terbatas, sehingga banyak data-data yang belum terverifikasi secara ilmiah. Namun, bagi pencinta anggrek seperti Alyadi dan Chalied, lebih menyukai menguji secara empiris dengan tanaman-tanaman koleksinya.

Baca juga:  Nimba Atasi Grayak

Alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu pernah menguji anakan Vanda punctata yang biasa tumbuh di dataran rendah dengan menitipkan kepada teman di dataran tinggi Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Tanaman enggan berbunga, nutrisi terpakai untuk pertumbuhan vegetatif yaitu batang yang semakin memanjang tanpa bunga. Padahal, tanaman induk yang berada di dataran rendah tidak putus berbunga sepanjang tahun.

Anggrek-anggrek spesies yang semakin jarang memang harus dilindungi dan diperbanyak kembali untuk menghindarkan dari kepunahan. Itulah pikiran Alyadi selama ini. Oleh karena itu ia selalu berusaha memiliki anggrek spesies termasuk vanda untuk dipelihara supaya tetap hidup dan lestari. “Memelihara anggrek spesies cukup mudah kalau mengetahui tentang sifat-sifat tanaman dan lingkungan yang diperlukan untuk tumbuh secara optimal,” kata Chalied. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d