Aroma Kopi Maut 1

Aroma kopi jebakan maut bagi penggerek buah kakao.

580-H140-1Aroma kopi, meski bukan kopi vietnam, itu benar-benar menjemput maut Conopomorpha cramerella. Serangga jantan dewasa itu datang ke sumber kopi arabika di sebuah botol. Setelah mendapatkan kopi ia terjebak dan meregang nyawa. Conopomorpha cramerella merupakan hama utama kakao yang menyebab kerusakan hingga 80%. Pekebun sulit mengendalikan serangga hama anggota famili Gracillariidae itu karena aktif pada malam hari.

Riset Amanda Firmansyah dan rekan dari Pascasarjana Sistem-sistem Pertanian Universitas Hasanuddin, Makasar, Sulawesi Selatan, membuktikan kopi robusta efektif mengundang ngengat penggerek batang kakao Conopomorpha cramerella ke dalam jebakan. Amanda menumbuk 500 gram biji kopi robusta menjadi serbuk lalu merendam dalam seliter metanol teknis selama 3 hari. Ia menyaring rendaman lalu mengambil ekstrak larutan metanol itu menggunakan rotavapor.

Terbukti efektif

Amanda menambahkan air pada ekstrak berbentuk serbuk halus sehingga menjadi larutan. Peneliti itu membuat larutan ekstrak kopi dengan 3 konsentrasi berbeda, yaitu 3%, 5%, dan 7%. Sebanyak 0,5 ml larutan itu ia teteskan ke kapas berukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm. Ia menempatkan kapas itu dalam stoples plastik transparan sebagai penjebak. Stoples itu tergantung di pohon kakao setinggi 0,5 m dari permukaan tanah. Jarak antarpenjebak 100 m.

Aroma kopi dalam kapas itulah yang mengundang seranggan jantan Conopomorpha cramerella. Serangga yang masuk jebakan melekat ke lem atau tercebur ke air dan gagal keluar. Tanpa pejantan, telur ngengat betina tidak bisa menetas sehingga serangan penggerek kakao terhenti. Periset itu mengambil perangkap setelah semalam tergantung untuk melihat efektivitas pengendalian hama. Ternyata penjebak dengan kapas mengandung 7% ekstrak kopi paling efektif, menjebak hingga 86,5% ngengat PBK dewasa.

Menurut Amanda penerapan penjebak aroma kopi tidak kalah dibandingkan dengan penjebak komersial di pasaran. Kandungan asam klorogenat dalam kopi robusta 10—12%, lebih tinggi ketimbang arabika yang hanya 5—7%. Senyawa aktif itu yang menarik kedatangan hama kakao. Kelebihannya, ekstraksi kopi bisa dilakukan sendiri oleh pekebun. Jika Amanda menggunakan rotavapor untuk memisahkan metanol dari ekstrak, pekebun cukup mengangin-anginkan rendaman kopi setelah menyaring. Metanol akan menguap dan menyisakan serbuk ekstrak.

Buah terserang penggerek buah kakao tidak menghasilkan biji kakao berkualitas.

Buah terserang penggerek buah kakao tidak menghasilkan biji kakao berkualitas.

Para pekebun kakao cukup bermodal biji kopi segar dan metanol kualitas teknis untuk membuat sendiri penjebak PBK yang efektivitasnya setara produk komersial. Bagi pekebun kakao yang dekat sentra kopi robusta, hal itu bisa menjadi solusi praktis terhadap serangan PBK. Jebakan aroma meniru aroma hormon seks ngengat betina yang siap kawin. Aroma itu mengundang serangga jantan datang lalu masuk ke dalam jebakan. Di dalam jebakan terdapat perangkap air atau lem.

Baca juga:  Terbaik di Kota Pahlawan

Jebakan beraroma kopi relatif mudah dan murah. Di pasaran memang tersedia penjebak aroma dan cahaya menggunakan lampu. Ngengat yang tertarik cahaya masuk ke dalam jebakan dan mati di dalam. Kedua jenis jebakan itu tersedia secara komersial di pasar. Namun, bagi sentra kakao di daerah dengan akses terbatas, membeli jebakan itu tidak mudah. Kalaupun ada, harganya lebih mahal lantaran tingginya ongkos kirim. Padahal aroma penjebak itu sejatinya bisa dibuat sendiri.

Sanitasi lahan

Menurut ahli hama dan penyakit tanaman di Klinik Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Dr. Widodo, efektivitas jebakan mesti didukung dengan pengendalian mekanik. “Bersihkan lahan dari sisa-sisa kakao busuk,” ujar Widodo. Pohon kakao sejatinya berbuah sepanjang tahun, tapi pekebun hanya memanen buah saat kemarau. Pada musim hujan, buah banyak yang membusuk dan gagal mencapai kematangan. Pekebun cenderung membiarkan buah-buah itu rontok lantaran kalau dipanen, hasilnya tidak sepadan dengan biayanya.

Untuk mengurangi kerepotan mengangkut kakao busuk dari lahan, Widodo menyarankan buah-buah rusak itu dimasukkan ke dalam parit atau rorak di sekitar tajuk. Rorak merupakan lubang-lubang buntu dengan ukuran tertentu yang dibuat pada bidang olah dan sejajar dengan garis kontur. Fungsi rorak untuk menjebak dan meresapkan air ke dalam tanah serta menampung buah kakao busuk. Rorakan tidak perlu terlalu dalam, cukup sejengkal (15—20 cm).

Rorak itu lantas ditutup tanah atau serasah sehingga suhunya sesuai untuk perkembangan cendawan. Telur, larva, atau pupa PBK dalam buah busuk akan digerogoti cendawan sehingga gagal menjadi ngengat dewasa. Kombinasi jebakan dan sanitasi lahan itu efektif menyingkirkan hama penggerek buah kakao yang acap kali merugikan petani.
Periset kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember, Jawa Timur, Dr. Agung Wahyu Susilo, SP, MP, menyatakan kerusakan akibat serangan PBK berkisar 60—80%. Biji dalam buah terserang penggerek berwarna kecokelatan di tepinya sebagaimana ditunjukkan oleh Junaidi. Petani kakao di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, itu menunjukkan lubang-lubang di permukaan kulit buah. “Itu bekas tusukan hama penggerek buah,” kata Junaidi.

Pekebun perlu memperhatikan sanitasi kebun kakao. Jebakan cahaya salah satu cara mengendalikan penggerek buah kakao.

Pekebun perlu memperhatikan sanitasi kebun kakao.
Jebakan cahaya salah satu cara mengendalikan penggerek buah kakao.

Warna kecokelatan pada biji itu muncul lantaran bagian itu membusuk akibat gigitan larva. Bagian yang tidak rusak warnanya tetap putih. Buah terserang menghasilkan biji berkualitas rendah atau rusak sama sekali sehingga tidak laku dijual. Pemicunya adalah larva serangga Conopomorpha cramerella. Setelah kawin serangga betina menusukkan alat peletak telur ke kulit buah kakao Theobroma cacao lalu memasukkan telur ke dalam buah. Seiring tumbuhnya buah, telur menetas menjadi larva sambil dengan tenang memakan buah dari dalam.

Baca juga:  Maitake Akhiri Kanker Payudara

Tanpa penanganan, serangan PBK sangat merugikan pekebun. Pengendalian dengan menyemprotkan insektisida pun kurang efektif lantaran larva berada jauh di dalam buah kakao. Cara paling mungkin adalah dengan memberantas hama dewasa sebelum mereka kawin atau bertelur. Masalahnya, ngengat PBK aktif pada malam hari. Puncak aktivitas biasanya setelah hari benar-benar gelap hingga 2—3 jam sesudahnya atau sekitar 18.30—21.00.580-H141-3

Saat itulah waktu paling efektif untuk menyemprotkan insektisida kontak. Pilihan lain, menggunakan insektisida sistemik yang meracuni serangga begitu mereka hinggap di permukaan buah. Kendalanya, kadang ada serangga yang telanjur menyuntikkan telur sebelum mati keracunan sehingga aplikasi insektisida sia-sia. Sudah begitu, harga insektisida sistemik kebanyakan lebih mahal daripada insektisida kontak. Masalah-masalah itu mendasari ide penjebakan, termasuk penggunaan aroma kopi. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *