Edamame

Edamame

Berkebun edamame tak selamanya berbuah manis. Itu dialami Bakin, pekebun edamame di Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pada Februari 2015 ia hanya memanen 100 kg edamame dari lahan 700 m2, seharusnya 350 kg. Dengan harga jual Rp10.000 per kg, omzetnya Rp1-juta. Sementara biaya produksi mencapai Rp2-juta. Artinya, ia rugi Rp1-juta.

Penyebab kerugian itu serangan kutu putih. Daun yang terserang menjadi keriput dan polongnya kosong. Kutu putih biasanya menyerang saat tanaman berumur 3 pekan setelah tanam. Padahal, ia sudah mengatasinya dengan menyemprotkan insektisida setiap 4 hari. “Tapi hasilnya tidak memuaskan,” ujar Bakin.

Menurut Adeng Permana penyebab mewabahnya serangan hama akibat pekebun tidak merotasi tanaman di lahan yang sama. “Sebaiknya penanaman edamame di lahan sama maksimal 4 musim tanam,” katanya. Sementara Bakin sudah 2 tahun menanam kedelai jepang terus-menerus.

Ketersediaan benih unggul juga menjadi kendala pekebun. Saat ini benih yang digunakan pekebun adalah hasil dari tanaman yang ditanam periode sebelumnya. Kalau pun membeli dari pekebun lain, itu bukan generasi pertama atau F1 yang berkarakter unggul. “Benih F1 harganya sangat mahal dan harus impor langsung dari Jepang atau Taiwan,” ujar M Arief Marzuki, pekebun edamame di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Oleh sebab itu produktivitas benih edamame lokal paling top hanya 4—5 ton per ha. Jumlah itu separuh dari potensi hasil benih F1 yang bisa mencapai 10 ton. Sebenarnya upaya memproduksi benih unggul edamame sudah ditempuh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Namun, menurut Dr Iteu M Hidayat MSc, penelitian itu terhenti karena terbatasnya anggaran penelitian. “Pemerintah masih fokus pengembangan benih kedelai untuk bahan baku tempe,” katanya.

Baca juga:  Stop Diare Kelinci

Namun, agar hasil panen tidak anjlok, Iteu menyarankan agar pekebun memproduksi benih dari tanaman hasil seleksi. “Pilih tanaman yang buahnya sebagian besar berbiji 3, pertumbuhan tanamannya bagus dan terlihat vigor,” ujarnya. Dengan begitu diharapkan generasi berikutnya sebagus tanaman induk yang berkualitas. (Imam Wiguna/Peliput: Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d