Aral Sejak Hulu Hingga Hilir 1
Benih sidat sampai ukuran 100 g dilarang diekspor.

Benih sidat sampai ukuran 100 g dilarang diekspor.

Beragam hambatan dalam budidaya sidat, sejak mencari benih hingga memasarkan.

Laba di depan mata Sukirno Budhianto akhirnya lenyap. Ia baru saja menampung total 150 kg benih sidat ukuran elver—berbobot 3—5 gram per ekor. Biasanya pengepul sidat di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, itu menampung benih sidat itu selama 1—2 hari sebelum menjual kepada para peternak. Namun, keesokan hari puluhan sidat itu mengambang di permukaan air kolam.

Hampir tiap hari kejadian itu berulang, puluhan sidat meregang nyawa. “Dari 150 kg, yang tersisa hanya 100 kg, 50 kg mati,” ujar Budhianto. Dengan harga benih elver Rp350.000 per kg, Budhi merugi Rp17,5-juta. Menurut ayah 1 anak yang 4 tahun menjadi pengepul itu biasanya tingkat kematian benih sidat maksimal 5%. Namun, pada Desember 2014 itu tingkat kematian benih sidat mencapai 33%.

Dr Agung Budiharjo MSi peneliti sidat dari Universitas Sebelas Maret.

Dr Agung Budiharjo MSi peneliti sidat dari Universitas Sebelas Maret.

Tangkapan tradisional
Menurut Budhianto tingginya angka kematian benih karena, “Perahu yang digunakan penangkap untuk mencari benih masih baru sehingga bau catnya sangat tajam. Namun, mereka langsung menggunakan sebelum menetralisir baunya. Akibatnya benih sidat keracunan dan mati,” kata Budhianto. Para nelayan sidat itu menangkap benih sidat dan meletakkannya di bak penampungan berbahan kayu yang baru saja dicat sehingga banyak kematian.

Budhianto benar-benar kecolongan saat itu. Ia hanya menerima benih sidat tangkapan yang menggunakan bubu dan menolak benih hasil tangkapan dengan potasium sianida atau setrum. “Ciri-ciri hasil tangkapan dengan potasium sianida atau setrum, tubuh sidat lemas, geraknya lamban. Jika kita diamkan beberapa saat saja sidat akan mati,” kata Budhianto. Karena persyaratan itu maka Yatu Supriawan menangkap benih sidat dengan bubu.

Baca juga:  Puasa Tujuh Hari

Selama ini para peternak memang masih mengandalkan bibit hasil tangkapan alam. Harap mafhum, sidat memiliki siklus hidup yang unik. Mereka tergolong hewan katadromous, yaitu ikan yang bermigrasi dari laut ke hulu sungai, dan kembali ke laut untuk memijah. Menurut Dr Agung Budiharjo SSi MSi, peneliti sidat dari Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), dari jutaan larva yang ditetaskan di laut, nantinya hanya 5—10 ekor sidat dewasa yang kembali ke laut untuk berkembang biak.

Penangkapan sidat menggunakan bubu menjaga kelestarian sidat di alam.

Penangkapan sidat menggunakan bubu menjaga kelestarian sidat di alam.

Siklus hidup itulah yang membuat sidat sulit ditangkarkan. Jika di alam terus-menerus ditangkap, maka dalam waktu tertentu persediaannya akan habis. Ketersediaan bibit di alam saat ini memang masih berlimpah. Namun, Agung mengingatkan tidak mustahil pada masa mendatang stok bibit di alam akan habis seperti yang terjadi di Jepang. Oleh sebab itu Agung menyarankan upaya pelestarian sidat di alam tetap dilakukan.

Pakan
Agung Budiharjo mengatakan, sejatinya sidat di Indonesia masih melimpah. “Dibanding di Eropa dan Jepang, sidat di Indonesia masih jauh lebih banyak,” ujarnya. Hal itu karena perburuan sidat di Indonesia baru intensif beberapa puluh tahun terakhir, sementara di Eropa dan Jepang sudah ratusan tahun lalu. “Namun, hal itu tak boleh melenakan kita,” kata Agung.

Penangkapan sidat dengan setrum mengurangi pasokan secara drastis.

Penangkapan sidat dengan setrum mengurangi pasokan secara drastis.

Menurut alumnus Biologi, Universitas Gadjah Mada itu, jika perburuan sidat di Indonesia tidak dibatasi dan diawasi, populasi sidat di Indonesia akan menurun drastis. Sayangnya ia tak memiliki data akurat mengenai hal itu. Namun, “Jika kondisi alam tak diperbaiki, penangkapan yang tak terkontrol terus berjalan, dan upaya konservasi termasuk restocking tidak berjalan, saya perkirakan dalam kurun waktu 25—30 tahun benih sidat akan menurun drastis,” ujar peneliti sidat sejak 15 tahun silam itu.

Baca juga:  Cara Tepat Besarkan Sidat

Penyebab penurunan populasi sidat di antaranya perubahan iklim, penangkapan berlebihan atau over fishing, dan polusi air. “Untuk perubahan iklim kita serahkan semuanya kepada alam, tetapi untuk overfishing dan polusi air, kita bisa bertindak,” kata peneliti kelahiran Surakarta, 23 Agusutus 1968 itu.

Selain pelaksanaan peraturan pemerintah soal larangan ekspor benih sidat, cara lain adalah pengembalian sidat ke alam atau restocking. “Saya menyarankan setiap pembeli sidat dalam jumlah tertentu, 10%-nya bisa dikembalikan ke alam agar populasi sidat tetap terjaga,” ujar Agung. Dengan menangkap dan budidaya sidat secara bijaksana yang diawasi, sidat Indonesia akan tetap lestari serta memberi keuntungan kepada masyarakat Indonesia.

Hambatan lain yang tak kalah penting yakni memasarkan sidat. Sudiarso, misalnya, sejak pertengahan 2014, tak bisa lagi memasok sidat ukuran konsumsi ke Jepang dan Korea. “Mereka meminta sidat yang sudah diolah disertai dengan sertifikat kesehatan,” kata peternak sidat di Yogyakarta itu. Padahal sejak 2011, ia selalu berhasil memasok 5 pembeli yang masing-masing meminta pasokan 2 ton per bulan. “Saya sedang berusaha mengurus sertifikatnya,” kata Sudiarso. (Bondan Setyawan/Peliput: Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *