580-H022-1

Lovebird jenis roseicollis opaline koleksi Johan Nasution.

Salah pilih induk, penyakit, dan anakan mati, aral menangkarkan lovebird.

Anjas Asmara bagai dimabuk asmara. Saking cintanya pada burung cinta, pehobi lovebird di Makassar, Sulawesi Selatan, itu  mengeluarkan uang Rp70 juta untuk membeli 6 indukan betina. Rinciannya 4 ekor biola green serta masing-masing seekor parblue ewuing dan green split biola. Ia berhasrat mencetak lovebird biola mutasi. Celaka tiga belas, Anjas baru tahu setelah membeli induk itu bahwa untuk melahirkan lovebird biola tidak bisa dari indukan betina.

Saat itu pada 2014 Anjas baru saja menangkarkan lovebird. Keruan saja Anjas rugi besar lantaran belum memahami genetika burung cinta itu. Menurut pehobi lovebird di Tangerang, Banten, Benny Rustam, untuk mencetak biola kedua indukannya harus berdarah biola. Cara lainnya kawinkan induk jantan pembawa gen biola dengan induk betina biola, (lihat Trubus edisi Oktober 2017 halaman 138). Ketua Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) itu menyarankan para pehobi dan penangkar terus belajar mengenai genetika lovebird.

580-H022-2

Anakan lovebird berumur 1 bulan masih perlu perawatan intensif.

Penyakit snot

Beny mengatakan, “Bisa belajar dari buku, majalah, atau daring. Mengeluarkan biaya untuk belajar relatif murah daripada sudah kejadian salah pilih indukan.” Menurut Anjas mencetak lovebird ibarat memasak. Penangkar harus paham mengenai jenis atau varian lovebird dan jenis mutasi. “Ibarat membuat kue yang enak harus memilih bahan yang berkualitas. Begitu pun lovebird, mencetak mutasi tertentu dibutuhkan indukan yang berkualitas pula,” paparnya.

Menurut pehobi lovebird di Bekasi, Jawa Barat, Johan Nasution, penangkar lovebird dituntut terus belajar seperti menentukan jenis kelamin secara sederhana dan teori dasar genetika burung. Johan mengatakan, sebelum menangkarkan lovebird mahal tidak ada salahnya para pemula mencoba menangkarkan jenis biasa yang harganya relatif murah terlebih dahulu. Dengan demikian menekan kerugian.

580-H023-1

Kandang ala Johan Nasution, prakis dan mudah dibersihkan.

Nun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Dion Mardiono, pun mengalami masalah lain. Mata lovebird klangenannya merah dan berair. Menurut Dion gejala itu dikenal dengan penyakit snot. Menurut mahasiswa program studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanudin, Makassar, Nursyamsi Asheri, snot atau coryza merupakan penyakit akibat bakteri Avibacterium paragallinarum, yang dapat menginfeksi saluran pernapasan pada unggas.

Baca juga:  Kelir Anyar Hibiskus

Menurut Dion kendala itu datang menjelang musim hujan. “Kadang ketika kita beli indukan dari luar terkena gejala snot,” katanya. Menurut pehobi sejak 2009 itu, jika lovebird yang terkena snot tidak tertangani dengan benar akan menular ke burung lain dan menyebabkan kematian. Dion mengisolasi burung yang terkena snot dan memberikan obat. Menurut Dion obat snot sudah banyak di pasaran.

Aplikasinya beragam, yakni tetes mulut atau tetes mata. “Semua sudah saya coba tapi yang paling bagus dan yang saya terapkan saat ini obat antibiotik injeksi dari dokter hewan. Sejak menggunakan injeksi, snot teratasi,” paparnya. Menurut Johan mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan yang kerap dilakukan Johan di antaranya rutin memberikan vaksin pada seluruh burung menjelang pergantian musim.

580-H023-3

Daun moringa kaya multivitamin, air perasan daunnya meningkatkan sistem kekebalan burung.

Konsumsi herbal

Sebagai pencegahan penyakit snot, Dion yang menangkarkan 75 pasang lovebird itu rutin menjaga kebersihan kandang dan melakukan 1-2 kali vaksinasi saban bulan. Johan memberikan disinfektan pada kandang dan tempat makan menjelang pancaroba. Menurut Johan saat cuaca panas lalu tiba-tiba hujan bibit penyakit seperti tetelo dan snot mudah berkembang biak. Cara lainnya rutin aplikasi herbal untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Johan biasa mencampur daun petai cina pada pakan. Tujuannya sebagai herbal anti cacingan. Selain itu ia juga mencampurkan perasan daun moringa atau kelor dan rimpang temulawak pada air minum. Khasiat moringa sebagai suplemen kaya multivitamin. Menurut Johan pemberian herbal untuk lovebird akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Aral lain memelihara lovebird anakan mati dan kualitas telur jelek sebagaimana pengalaman Toni Kusnadi. Pada 2013 Toni mendapati  seekor anakan lovebird berumur 5 pekan mati. Menurut pehobi di Kota Bandung, Jawa Barat itu, penyebab anakan mati karena kelembapan kurang sesuai. Ketika musim hujan kelembapan di Bandung mencapai 90%. Sementara lovebird menghendaki kelembapan sekitar 70%. Solusinya, Toni memasang alat pengatur kelembapan agar burung cinta itu merasa nyaman.

580-H023-2

Mesin penjaga kelembapan yang dipakai pehobi lovebird di Bandung, Jawa Barat, Toni Kusnadi.

Menurut Toni anakan lovebird masih rentan hingga berumur rata-rata 2 bulan. Terkadang ada indukan lovebird yang enggan mengurus anakan. Solusinya Toni intensif meloloh anakan lovebird itu secara manual. “Setiap hari 1—2 kali harus diloloh,” kata peternak lovebird sejak 2013 itu. Dengan perawatan intensif itulah Toni bisa meningkatkan kualitas lovebird tangkarannya. Kualitas burung baik jaminan dicari pehobi lain.

Baca juga:  Super Bejo (Murai Batu) yang Beruntung

Menurut Johan faktor lain penyebab anakan mati dan kualitas telur kurang baik karena suhu terlalu tinggi. Pengalaman peternak lovebird sejak 2011 itu ketika suhu ruang terlalu tinggi telur gagal menetas. Suhu ideal yang dihendaki lovebird di kisaran 38—39oC.  Johan menambahkan, faktor lain penyebab kualitas telur jelek yakni adalah induk terlalu muda, berumur kurang dari 8 bulan. Organ reproduksi burung muda belum optimal, imbasnya telur menjadi jelek.

Faktor lain yang berpengaruh adalah pakan. Menurut Johan kualitas telur amat dipengaruh kandungan mineral dalam pakan. Oleh karena itu, para penangkar harus meningkatkan kualitas pakan burung yang hendak berjodoh. Pilihan asupan pakan kaya mineral seperti milet putih, biji bunga matahari, dan jagung mendukung kualitas telur lebih optimal.  (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d