Oh nooo, You use Adblocker!
Your Adblocker is active! It is preventing us to show you our content.

Aral Kembangkan Kurma

Aral Kembangkan Kurma 1

Periset kurma di Chiangmai, Thailand, Sak Lamjuan PhD memperbanyak kurma dengan cangkok anakan. Dari 16 bibit dari Oman dan Yordania, populasi kurma di kebun Sak pun kian bertambah. Seiring bertambahnya populasi, masalah muncul. Suatu hari, ia melihat bercak ciri serangan cendawan di ujung daun. “Padahal pohon subur dan tidak pernah menampakkan gejala penyakit apa pun sebelumnya,” kata Sak.

Jika dibiarkan, ia khawatir pertumbuhan tanaman terhambat lantaran cendawan mengurangi luas permukaan daun yang berfotosintesis. Ia pun membuka kembali literatur yang ia kumpulkan. Sayang, tidak ada jawaban yang bisa menjelaskan masalah cendawan di ujung daun itu. Pria pendiam itu lantas kembali memutar otak. Ia lantas teringat bahwa habitat asli kurma adalah di iklim gurun, yang memiliki kelembapan harian sangat rendah.

Kumbang badak
Ia memutuskan memangkas pelepah untuk mengurangi kelembapan tajuk sehingga cendawan tidak bisa berkembang biak. Upayanya berhasil, terbukti setelah itu daun kurma di kebun miliknya bebas dari bercak cokelat kehitaman. Selanjutnya ia rutin memangkas pelepah yang ternaungi setelah pelepah baru membuka sempurna. “Pemangkasan juga menjadi salah satu cara merangsang kurma berbuah,” ujar Sak.

Maklum, di tempat asalnya, pembuahan dipicu oleh iklim gurun yang menciptakan kondisi stres air. Itu sebabnya pohon kurma kebanyakan tumbuh di sekitar oase, yang memenuhi kebutuhan air setidaknya 7—8 bulan setahun. Sementara di Thailand hal itu tidak mungkin terjadi. Pasalnya, “Perakaran kurma sangat dalam, bisa 2 kali tinggi tumbuhan,” kata Sak Lamjuan.

Di Chiangmai, tanaman tidak mungkin mengalami stres air lantaran kedalaman air tanah paling banter hanya 40 m. Dengan pemangkasan, pohon pun teratur berbuah. Masalah berikutnya yang ia hadapi adalah kumbang badak Oryctes sp. Di Indonesia, kumbang badak yang lebih dikenal dengan nama kwangwung itu menyerang perkebunan kelapa sawit dan kelapa.

Negeri Siam itu juga menghadapi masalah kumbang badak di perkebunan kelapa kopyor dan pandanwangi. Kumbang itu oportunis dan menyerang hampir semua jenis tanaman palma. Kurma yang menjadi pendatang baru di Thailand pun tidak luput dari serangan kumbang bercula bongsor itu. Lagi-lagi, masalah itu tidak ada di habitat aslinya. “Larva kumbang badak memerlukan tanah lunak dan lembap sebelum menjadi kumbang dewasa,” kata Sak.

Keruan saja tanah kebun di Chiangmai menjadi surga bagi larva kumbang badak. Untung, ia punya solusi jitu dan murah. Selain dengan membersihkan rumput dan gulma di sekitar tajuk, Sak Lamjuan pun menggunakan pasir. Sayang, ia mengelak menceritakan pemanfaatan pasir itu secara detail. “Datang saja ke kebun, nanti saya tunjukkan,” tuturnya sambil tersenyum. Yang jelas, ia sukses menghalau serangan kumbang badak di kurma miliknya. Dua hambatan besar ketika mengembangkan kurma akhirnya terlampaui. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x