Mangga berkulit seronok menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Mangga berkulit seronok menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Rambu-rambu berkebun mangga merah.

Abdul Gani semula bahagia saat menyaksikan pohon mangga garifta merah berumur 6 tahun miliknya semarak bunga. Namun, hujan yang terus mengguyur menyebabkan bunga rontok. Alhasil, pekebun mangga di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu hanya memanen 25 kg mangga per pohon. “Jika bunga bisa diselamatkan, hasil panen mungkin bisa dua kali lipat,” katanya.

Kisah duka juga dialami Hartono. Sebanyak 6 dari 10 pohon garifta merah di kebunnya malas berbuah. Pekebun mangga garifta di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu mengakui kurang serius merawat garifta. Ia lebih fokus merawat puluhan pohon mangga gadung klon 21 yang ia tanam lebih dulu. Hartono baru menyadari mangga berkulit seronok itu rupanya disukai pasar. Padahal, jika seluruh garifta berbuah, ia bisa menuai hingga 500 kg mangga. Pada musim mangga kali ini Hartono hanya panen 200 kg buah dari 4 pohon yang berbuah. “Hasil panen sedikit juga akibat banyak bunga rontok karena masa berbunga bertepatan dengan musim hujan,” katanya.

Perawatan
Menurut Nurhayati, S.Pt., penyuluh pertanian di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, anomali iklim setahun belakangan ini menjadi pemicu hasil panen mangga rendah. Pada 2017 hujan lebat terjadi pada November. Akibatnya, malai bunga yang baru muncul rontok diguyur hujan. “Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan pekebun untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang merugikan itu,” kata Nurhayati. Cara termudah dan termurah, pekebun dapat menggunakan pupuk NPK majemuk yang mampu merangsang pembentukan buah dan bunga.

Nurhayati, S.Pt., penyuluh pertanian di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menuturkan perawatan mangga merah nyaris serupa dengan mangga jenis lain.

Nurhayati, S.Pt., penyuluh pertanian di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menuturkan perawatan mangga merah nyaris serupa dengan mangga jenis lain.

Semprotkan pupuk sesuai dosis anjuran. Frekuensi penyemprotan cukup 2 pekan sekali atau menyesuaikan kondisi curah hujan. Hindari penyemprotan langsung pada bunga supaya kerontokan tidak semakin parah. “Lakukan penyemprotan dari arah belakang bunga,” kata Nurhayati. Perlakuan itu dapat menyelamatkan bunga rontok dan buah yang muncul lebih prima. Selain itu pekebun juga harus memperhatikan kebutuhan nutrisi tanaman dengan pemupukan berkala sesuai umur tanaman.

Baca juga:  Mangga Anyar Asal Formosa

Untuk mangga garifta Nurhayati menganjurkan pemupukan 1 kg NPK dan 0,5 kg ZA pada tanaman umur 0—5 tahun. Berikan pula pupuk kandang bokashi sebanyak 10 kg per pohon. Frekuensi pemupukan dua kali setahun. Jika tanaman berumur 5—10 tahun, tingkatkan dosis pupuk menjadi 2 kg NPK dan 1 kg ZA. Adapun jumlah pupuk kandang menjadi 20—40 kg per pohon. Frekuensi pemupukan sama. Taburkan pupuk di sekitar area perakaran dengan radius sejajar tajuk tanaman.

Agroklimat
Nurhayati mewanti-wanti para pekebun agar berhati-hati terhadap serangan lalat buah, seperti yang dialami para pekebun mangga di Kecamatan Rembang. Serangga mungil itu semula hanya meninggalkan noktah hitam kecil di kulit buah. Tiga hari berselang buah mulai kusam dan membusuk. Hama itu meletakkan telur saat buah muda, lalu telur menetas di dalam buah dan akhirnya membusuk. “Hingga saat ini serangan lalat buah memang belum menyerang secara massal, tapi pekebun perlu waspada,” katanya. Karena itu Nurhayati mewajibkan pekebun melakukan pembungkusan sejak buah seukuran bola bekel menggunakan plastik transparan.

Hartono, pekebun mangga garifta di Pasuruan, Jawa Timur.

Hartono, pekebun mangga garifta di Pasuruan, Jawa Timur.

Ahut F. Hendarul, pehobi mangga di Malang, Jawa Timur, menuturkan pemilihan lokasi yang tepat juga faktor lain yang harus diperhatikan pekebun. “Pilih lokasi yang memiliki agroklimat cocok untuk berkebun mangga,” kata pria yang akrab disapa Arul itu. Di Indonesia penanaman anggota famili Anacardiaceae itu sebagian besar di daerah kering dan mendapat sinar matahari penuh. Contohnya kota-kota di jalur pantai utara Pulau Jawa, seperti Indramayu, Situbondo, dan Pasuruan.

Menurut Nurhayati daerah pegunungan dan dataran tinggi kurang cocok untuk berkebun mangga. “Tanaman bisa berbuah, tetapi produktivitasnya rendah,” katanya. Budidaya mangga berkulit merah di dataran menengah hingga tinggi membuat warna kulit buah redup dan cenderung dominan hijau. Pasalnya, kulit mangga merah dibentuk oleh antosianin. Senyawa antioksidan itu muncul bila kulit buah terpapar sinar matahari cukup. Karena itu buah yang terlindungi cabang atau dedaunan warna kulitnya kurang tegas.

Baca juga:  Tantangan Dunia Pertanian

Pemangkasan
Nurhayati menuturkan pemangkasan menjadi perkara wajib bila ingin kulit mangga merah berwarna cerah. Lakukan pemangkasan bentuk tajuk pada tanaman berumur 1 tahun. Selanjutnya, lakukan pula pemangkasan untuk persiapan produksi, yakni saat tanaman berumur 3 tahun. Caranya dengan memangkas dahan-dahan, cabang kering, dan tunas air. Dengan begitu setiap bagian tanaman terpapar sinar matahari cukup. Tanaman pun jadi lebih sehat karena terbebas dari risiko gangguan hama dan penyakit. “Kondisi tanaman yang terlalu rimbun justru memicu datangnya cendawan dan bakteri karena terlalu lembap,” kata Nurhayati.

578_ 25Arul menyarankan sebaiknya berkebun mangga di kawasan sentra agar lebih mudah memperoleh tenaga kerja. Menurut Arul mayoritas tenaga kerja di sentra mangga memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni seputar budidaya. Tenaga kerja terampil menjadi penopang bagi pekebun agar produksi buah optimal. “Namun, yang terpenting tentukan jenis mangga yang akan dikebunkan sesuai permintaan pasar,” tambahnya. Jangan sampai waktu berlalu menunggu mangga berbuah, tapi laba tak jua bertambah. (Andari Titisari/Peliput: Bondan Setyawan dan Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d