Buah jatoba Hymenaea courbaril dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar

Buah jatoba Hymenaea courbaril dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar

Buah jatoba sebetulnya lezat. Masyarakat menjadikannya sebagai bahan bakar.

Sarkah memunguti buah jatoba yang bergeletakan di tanah. Buah cokelat gelap sepanjang 12 cm itu berjatuhan ketika matang dari ketinggian 10—15 m di atas permukaan tanah. Kulit buah bertekstur keras mirip tempurung kelapa sehingga sulit untuk memecahkan. Jika sudah terbelah, daging buahnya yang putih sebetulnya lezat dan kaya gizi. Menurut James A Duke dalam Handbook of Energy Crops per 100 g pulp buah mengandung 309 kalori, 14,6 g air, 5,9 g protein, 2,2 g lemak, 75, 3 g karbohidrat, 13,4 g serat, 2 g abu, 28 mg kalsium, 143 mg fosfor, 3,2 mg besi, 0,23  mg tiamin, 0,14 mg riboflavin, 4,1 mg niasin, dan 11 mg asam askorbat

Jika kita mengonsumsinya, daging buah lengket di lidah dan sulit hilang. Sayangnya buah itu bangar atau beraroma seperti busuk. Meski demikian di mancanegara, daging buahnya bahan baku minuman atole. Jatoba alias guapinol memang masih asing. Masyarakat mancanegara menyebutnya ceri brasil. Padahal, jatoba bukanlah anggota keluarga ceri. Pohon Hymenaea courbaril itu anggota famili Fabaceae.

Usup Supriatna mantri hutan penelitian Cikampek, Kabupaten Karawang

Usup Supriatna mantri hutan penelitian Cikampek, Kabupaten Karawang

Kayu bakar
Sarkah memunguti buah-buah kering itu di hutan milik Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produksi di di Desa Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Di hutan itu tumbuh 100 pohon jatoba setinggi 10 –15 m. Diameter pohon sekitar 20 m. Di negara asalnya, Meksiko atau Brasil, tinggi pohon mencapai 50 meter dan berdiameter hingga 2 m. Menurut Usup Supriatna, petugas di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produksi Hutan, umur pohon mencapai 10 tahun. Pohon berbuah perdana pada umur 7 tahun.

Pohon jatoba di hutan lindung

Pohon jatoba di hutan lindung

Selama ini buah jatuh tak termanfaatkan. Sarkah memunguti buah itu bukan untuk mencecap lezatnya tetapi sebagai bahan kayu bakar. Entahlah siapa yang berinisitif memanfaatkan buah jatoba sebagai bahan bakar. Ia cekatan memasukkan buah anggota famili Fabaceae itu ke dalam karung. Dalam sehari, Sarkah memperoleh sekarung buah kering buah jatoba berbobot 35 kg. Sesampai di rumah, warga Desa Kamojing, Kecamatan Cikampek, itu tak lantas membakarnya. Ayah 5 anak itu memecahkan buah terlebih dahulu agar udara bisa masuk. “Kalau tidak ada rongga, buah bisa meledak saat dibakar,” kata Sarkah.

Baca juga:  Selamat Tinggal Radang Tulang

Sarkah meletakkan buah yang sudah pecah itu di tungku lalu menyulut api untuk merebus jagung. Penjual jagung manis rebus itu sanggup menjajakan sekuintal jagung per pekan. Bagi penjual jagung sejak 10 tahun silam itu, buah jatoba sangat bermanfaat. Ia tak perlu lagi membeli kayu bakar seharga Rp20.000/ikat untuk merebus jagung manis selama 3 jam. “Saya hanya perlu membawa karung dan mengambilnya di hutan,” katanya.

Masyarakat desa Cikampek banyak yang memanfaatkan buah jatoba sebagai subtitusi kayu bakar. Menurut Usup, setiap hari ada 10—15 orang memunguti buahnya untuk bahan kayu bakar. “Rata-rata mereka memperoleh setengah karung seberat sekitar 15 kg,” kata pria kelahiran Bogor 1974 itu. Junaedi warga Desa Cikampek, Kecamatan Cikampek, sudah setahun menggunakan buah jatoba sebagai kayu bakar. Sekarung jatoba dapat memenuhi kebutuhan kayu bakar selama 2 hari.

“Kalau membeli kayu bakar seharga Rp25.000 per ikat bisa digunakan selama 2 hari,” ujar Junaedi. Guru besar Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Prof Dr Ir Wasrin Syafii, M Ag,r menuturkan, syarat sebuah bahan biomassa bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar adalah memiliki nilai kalori tinggi. “Rata-rata kayu bakar memiliki nilai kalori 4.000 kalori/gram,” tuturnya. Usup selaku petugas Litbang Pusprohut tak pernah sedikit pun menarik bayaran atas buah jatoba yang dimanfaatkan masyarakat. “Kami senang buahnya bisa bermanfaat untuk masyarakat meski hanya sekadar menyumbang kayu bakar,” kata Usup.

Kayu bakar masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan

Kayu bakar masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan

Meksiko selatan
Menurut, Prof Dr Ir Wasrin pada dasarnya seluruh bagian tanaman jatoba bisa dijadikan sumber energi. “Setiap bagian tanaman merupakan biomassa yang bisa dijadikan produk energi untuk bahan pembakaran,” ujar alumnus Universitas Tokyo, Jepang, itu. Menurut Wasrin bahan kayu sejatinya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan yang sulit memperoleh gas dan minyak tanah.

Baca juga:  Produk Bermutu dan Terjangkau

Dengan pemakaian buah jatoba menjadi bahan bakar, dapat meningkatkan efisiensi biomasa yang biasanya terbuang sia-sia menjadi bermanfaat. Selain itu, juga berdampak positif karena mengurangi penggunaan energi fosil yang semakin menipis. “Penggunaan biomasa tanaman untuk bahan bakar turut mengurangi krisis energi fosil,” kata Prof Wasrin.

Jatoba sejatinya tanaman pohon dengan karakter batang bulat dan sebagian lurus. Timber Research Development Association pada 1980 menyebutkan korbaril mulai berbuah pada umur 7 tahun dengan musim berbunga pada Maret—April dan Oktober—Desember. Buah mulai matang pada Juni—September serta Mei—Juni. Korbaril merupakan pohon eksotis. Secara alami tanaman itu tumbuh di Meksiko selatan sampai bagian utara Brasil, Bolivia, dan Peru.

Menurut Setyawan Agung Danarto, Unit Pelaksana Teknis, Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, LIPI, Pasuruan, Jawa Timur, bagian-bagian tanaman jatoba yang dapat dimanfaatkan di antaranya getah, kayu, dan buah. Tanaman itu penghasil resin, sementara kayunya sebagai bahan bangunan. Getah dapat digunakan sebagai minyak pernis, kayunya untuk perabot rumah tangga dan papan, serta daging buah dapat dimakan. Rasanya manis agak sepat dan kaya nutrisi.

K Heyne dalam “Tumbuhan Berguna Indonesia” menyebutkan tumbuhan jatoba menghasilkan kayu yang baik sekali karena tidak pernah terserang cacing dan tidak terbakar. Kayu mudah diserut, dibubut dan dipolis sehingga cocok digunakan sebagai perkakas rumah tangga dan papan kayu. Oleh karena itu, menurut Prof Wasrin, nilai kalori buah jatoba perlu diteliti. (Bondan Setyawan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d