Apel Cinta Baru

Apel Cinta Baru 1
Sutysna mampu menghasilkan 5 kg buah per pohon selama satu musim tanam

Sutysna mampu menghasilkan 5 kg buah per
pohon selama satu musim tanam

Tahan penyakit, produksi tinggi.

Panen anjlok akibat serangan virus kuning hal biasa bagi pekebun tomat di Wonosobo, Jawa Tengah. Di kebun Ali Muqdor tingkat serangan mencapai 80%. Virus kuning menyebar melalui perantara kutu kebul Bemisia tabaci yang menularkan virus secara persisten. Artinya sekali menyerang tanaman yang terinfeksi virus maka seumur hidup ia menjadi perantara virus seumur hidup.

Itulah sebabnya sejak Agustus 2013, ia meninggalkan varietas lawas. Pria berusia 48 tahun itu memilih sutysna yang toleran terhadap serangan virus kuning. Apalagi kualitas dan kuantitas buah sutysna tak kalah dengan tomat hibrida unggulan lain. Sutysna berbobot rata-rata 75 gram per buah. Ukuran seragam, bentuk buah bulat dan berkulit tebal sehingga tidak mudah retak dan tahan simpan. Tekstur daging buah padat dengan kadar air rendah. Saat muda, buah berwarna hijau dan merah saat matang. “Sutysna tahan simpan seminggu pascapetik,” kata Ali. Dengan kriteria itu, sutysna pas untuk dikonsumsi segar atau olahan.

“Umur panen super hawai lebih lama 2 pekan sebab ukuran buah besar,” kata Zawawi

“Umur panen super hawai lebih lama 2 pekan sebab ukuran buah besar,” kata Zawawi

Hemat biaya

Tomat anyar yang belum genap setahun dirilis itu hasil rakitan PT Matahari Seed di Malang, Jawa Timur. Menurut Guntur Sasono, anggota pemasaran PT Matahari Seed, sutysna dapat dibudidayakan di dataran rendah hingga menengah. Panen perdana saat tanaman berumur 10 pekan dan berlangsung hingga 20 kali petikan. Potensi hasil 5 kg buah setiap tanaman. Ali menanam 2.000 batang sutysna di lahan seluas 1.000 m².

Menurut Ali sejak menanam sutysna, aplikasi fungisida menurun. Untuk merawat tanaman, ia hanya membutuhkan 1 kg fungisida. Padahal, saat menanam varietas lawas kebutuhan fungisida mencapai 100 kg. Sementara untuk mengendalikan serangan virus kuning, Ali melakukan sanitasi lahan lebih ketat. Menurut ahli penyakit tanaman dari Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor, Dr Widodo, sanitasi penting untuk membebaskan lahan dari tanaman inang bagi virus seperti gulma babandotan Ageratum conyzoides. “Bila ada tanaman yang terinfeksi segera musnahkan agar tidak menular,” kata Widodo.

Baca juga:  Liukan Naga Bambu

Selama satu musim tanam, total jenderal Ali hanya mengeluarkan biaya produksi Rp2.000 per tanaman. “Enam ratus rupiah lebih hemat dibanding biaya produksi untuk varietas lawas,” katanya. Sementara itu, ia mampu panen hingga 10 ton per musim tanam.“Saat menanam varietas lawas paling banter 5 ton,” katanya.

Selain sutysna, PT Matahari Seed juga mengembangkan super hawai, varietas unggul anyar yang dirilis pada 2013. Bentuk buah lonjong dengan bobot 150 gram per buah. Pekebun dapat memanen super hawai saat tanaman berumur 12 pekan setelah tanam.“Buah bertipe besar memang memiliki umur panen lebih lama,” kata Guntur Sasono.

Pekebun di Mojotengah, Wonosobo, Zawawi sukses memanen super hawai hingga 5 ton pada petikan ketujuh dari 2.000 tanaman. Dengan harga tomat yang anjlok saat ini, super hawai masih dihargai tinggi yakni Rp1.400/kg. “Lebih mahal dibanding varietas lain sebab ukuran buah besar,” kata Zawawi. Ayah 9 anak itu memperoleh omzet Rp7-juta. Padahal, jika harga tomat tinggi, jenis tomat besar laku hingga Rp14.000/kg. Pendapatan Zawawi bisa mencapai Rp70-juta pada petikan ketujuh.

Pendatang lain

Tomat unggul lain juga diluncurkan oleh PT Clause Indonesia di Magelang, Jawa Tengah. Ada 3 varietas baru dengan keunggulan masing-masing yang sudah rilis yakni MP1, Melinda, dan Tomindet. Ketiganya mampu beradaptasi dengan baik di dataran tinggi hingga ketinggian 1.100—1.350 m di atas permukaan laut (m dpl). MP1 rilis lebih awal pada 2010 dan tergolong tipe tomat indeterminate yakni mampu tumbuh sampai menua. Produktivitas 3,5—5 kg setiap tanaman dengan bobot buah 87—123 gram. Buah siap panen saat berumur 10 pekan, berwarna merah menyala, manis, dan berbentuk menyerupai hati. Potensi hasil MP1 per hektar mencapai 63—76 ton dengan populasi 17.000 tanaman.

Baca juga:  Tanpa Bunga Tetap Elok

Sementara melinda dan tomindet merupakan tomat unggulan baru yang dirilis pada 2013. Menurut Eko Hadi Afandi SP, pemulia dari PT Clause Indonesia, melinda toleran terhadap serangan cendawan Phytophthora infestans sehingga cocok di tanam di dataran tinggi. Bentuk buah melinda seperti telur terbalik dengan bobot 76—86 gram per buah. Tomat yang memiliki tipe pertumbuhan pendek dan terbatas alias determinate itu mampu menghasilkan buah 3—5 kg per tanaman. Pekebun memanen melinda saat berumur 10 pekan setelah tanam. Kerabat terung itu tahan simpan hingga 15 hari setelah petik pada suhu 25—27C. Potensi hasil melinda mencapai 55—79 ton per hektar berpopulasi 17.000 tanaman.

Produktivitas tomindet juga cukup baik. Dengan populasi 18.000 tanaman per hektar, potensi hasil tomat indeterminate itu mencapai 90 ton per hektar. “Tomindet memiliki bentuk buah yang khas yakni meruncing di bagian ujung,” kata Eko Hadi Afandi. Bobot per buah 79—134 gram, berwarna merah, dan memiliki rasa manis agak asam. PT Clause Indonesia juga tengah menyiapkan 2 varietas anyar lain yang akan diperkenalkan pada 2014 yakni kani dan vitro. (Andari Titisari/Peliput: Pressi Hapsari Fadlillah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x