Varietas tomat baru menjadi pilihan bagi para pekebun

Varietas tomat baru menjadi pilihan bagi para pekebun

Tahan serangan penyakit, produksi tinggi, dan kualitas top. Itulah tomat unggulan anyar.

Virus kuning acap kali “mencuri” laba pekebun tomat seperti Ecep Dedi Dimyati, pekebun di Desa Tenjolaya, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Produksi anjlok akibat serangannya. Penyakit itu lazim menyerang tomat di dataran tinggi di atas 700 meter di atas permukaan laut. Penyakit menyebar berkat jasa kutu kebul Bemisia tabaci yang menularkan virus secara persisten. Artinya tanaman yang terinfeksi maka seumur hidup menjadi perantara virus.

Dedi membudidayakan tomat di lahan 2.100 m2 terdiri atas 3.500 tanaman. Pada Januari 2014 ia rugi Rp7-juta karena serangan virus kuning. Meski demikian ia tak jera menanam sayuran anggota famili Solanaceae itu. Ecep mengganti varietas dan memilih tomat servo yang toleran terhadap serangan virus kuning. Apalagi kualitas dan kuantitas buah servo tak kalah dengan tomat hibrida unggulan lain.

Ecep Dedi Dimyati mengebunkan 3.500 tomat servo di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Ecep Dedi Dimyati mengebunkan 3.500 tomat servo di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Minim fungisida
Ukuran buah servo seragam, berbobot rata-rata 72—83 gram per buah. Artinya 1 kg bisa berisi 12—14 buah. Produktivitasnya mencapai 4 kg per tanaman per masa tanam. Saat muda, kulit buah berwarna hijau dan merah kekuningan saat matang. Kulit tebal sehingga tidak mudah retak dan tahan simpan. “Servo tahan simpan hingga lebih dari seminggu pascapetik,” kata ayah tiga anak itu.

Menurut Ir Budi Jaya, pemulia tomat di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, kulit tebal menjadikan tomat tahan simpan di luar lemari pendingin hingga sepekan. Keunggulan lain servo yaitu tekstur daging buah padat dan berkadar air rendah.

Servo adalah tomat anyar hasil rakitan PT East West Seed Indonesia (EWSI) di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Petani yang membudidayakan servo memanen perdana 5—6 buah per tanaman saat berumur 75 hari. Seiring penambahan umur tanaman, maka produksi pun meningkat. Pada panen ke-4, misalnya, produksinya mencapai 740 gram per tanamana atau 2,6 ton dari 3.500 tanaman. “Pada panen ke-5 dan seterusnya produksi turun 30—40%.

Baca juga:  Dari Thailand Tembus Pasar Eropa

Menurut Ecep Dedi Dimyati sejak menanam servo, penyemprotan fungisida berkurang. Ia menyemprotkan fungisida hanya 5 hari sekali saat musim hujan. Padahal, sebelum menanam varietas servo penyemprotan fungisida 3 hari sekali. Satu kali penyemprotan biayanya mencapai Rp500.000. Artinya, Ecep menghemat Rp6-juta per masa tanam.

Tomat servo tahan virus kuning, produksi tinggi, dan tahan lama

Tomat servo tahan virus kuning, produksi tinggi, dan tahan lama

Produksi tinggi
Ecep mengatakan, selama satu musim tanam biaya produksi hanya Rp2.000 per tanaman. “Selisih biaya produksinya lebih dari Rp1.000 dibandingkan varietas sebelumnya,” kata Ecep. Sementara untuk mengendalikan serangan virus kuning, ia melakukan sanitasi lahan lebih ketat. Menurut ahli penyakit tanaman dari Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Widodo, sanitasi penting untuk membebaskan lahan dari tanaman inang bagi virus seperti gulma babandotan Ageratum conyzoides.

Ecep menabur 400 kg kapur pertanian sehari sebelum penanaman dan rutin memberi 6 kg pupuk NPK pada hari ke-15, 25, dan 35 hari setelah tanam. Ecep juga melakukan pembersihan gulma setiap 25 hari sekali. Dengan beragam cara itu serangan virus kuning pun tercegah. Selain servo, PT EWSI juga mengembangkan betavila, varietas unggul anyar yang dirilis pada pengujung 2013.

PT Clause Indonesia di Magelang, Jawa Tengah, juga meluncurkan tomat unggul lain, yakni kani pada Desember 2014. Menurut pemulia di PT Clause, Eko Hadi Afandi SP, beberapa pekebun tomat seperti di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kota Malang, Jawa Timur, dan Sumatera Barat, sudah menanam kani. Ahmad Fauzi, pekebun di Kecamatan Kedungkandang, Malang, membuktikan keampuhan tomat kani yang digadang-gadang tahan virus dan bakteri itu.

Sejak Agustus 2014 Fauzi menanam kani setelah varietas lama yang ditanamnya terserang layu bakteri Pseudomonas solanacearum. “Lebih dari 3.000 tanaman yang terserang. Akibatnya produksi turun drastis,” ujar petani tomat sejak 2005 itu. Ia menanam 6.000 bibit di lahan 2.500 m2 berketinggian 600 m di atas permukaan laut. Menurut Fauzi hingga kini belum ada satu tanaman kani pun yang terserang bakteri maupun virus.

Baca juga:  Pioner Efervesen Temulawak

“Penyakit layu bakteri menjadi momok pekebun hampir di setiap sentra tomat,” ujar Dr Widodo. Menurut Widodo layu bakteri banyak menyerang tomat pada musim hujan. Gejala serangan layu bakteri terlihat dari pucuk daun membusuk, lalu menjalar ke seluruh tubuh tanaman. “Serangan itu pasti berimbas pada penurunan produksi,” katanya. Selain itu kani pun cocok ditanam di dataran tinggi maupun rendah.

Sanitasi lahan sebelum penanaman penting untuk membasmi tanaman inang bagi virus

Sanitasi lahan sebelum penanaman penting untuk membasmi tanaman inang bagi virus

Tinggi produksi
Produktivitas kani juga cukup baik. Fauzi memanen kani hingga 7 ton pada petikan ketujuh. Padahal, varietas yang ditanam Fauzi sebelumnya hanya bisa menghasilkan hingga 5 ton. Apalagi harga tomat saat itu November 2014, mencapai Rp6.000 per kg. Omzet pekebun tomat sejak 2005 itu pun relatif besar, yakni Rp42-juta. Menurut Fauzi produksi pada panen ke-2—6 hanya 600—700 gram per tanaman atau total jenderal 4—5 ton.

Fauzi mengatakan, ketahanan kani terhadap gempuran virus dan bakteri dapat mereduksi penggunaan fungisida. Sebab, Fauzi cukup menyemprot fungisida sistemik sekali setiap pekan. Biayanya hanya Rp300.000 per penyemprotan. Bandingkan dengan varietas sebelumnya yang harus disemprot fungisida sistemik maupun kontak. Setidaknya ia harus merogoh Rp1,5-juta setiap pekan. Itu pun belum semua tanaman tomatnya terselamatkan.

Kani bersifat genjah, panen pada hari ke—75 sejak tanam. Menurut Fauzi, “Panen cepat membuat perputaran uang lebih lancar,” katanya. Sosok buahnya pun menawan berwarna merah jingga dan berbentuk bulat telur. Buah tomat kani berdaging buah yang keras sehingga tidak mudah retak dan tahan lama. Menurut Eko Hadi Afandi, tomat seperti itu banyak dicari konsumen yang akan mengirimkan ke luar pulau.

“Seminggu pascapanen kulit buahnya masih mulus dan tidak lembek,” ujar Eko. Dengan kehadiran aneka varietas baru apel cinta—julukan untuk tomat, pekebun tidak perlu lagi cemas terhadap serangan virus maupun bakteri. Servo atau kani menjadi pilihan bagi para pekebun tomat. (Rizky Fadhilah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d