Antraknosa Verboden

Antraknosa Verboden 1
Hindari serangan patek dengan penyemprotan pestisida secara rutin

Hindari serangan patek dengan penyemprotan pestisida secara rutin

Menanam cabai pada musim hujan tetap berproduksi tinggi.

“Ganjaran” bagi Rianto yang menanam cabai pada musim hujan adalah gagal panen. “Kegagalan panen bisa mencapai 75%,” kenang pekebun cabai di Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur itu. Penyebab gagal panen itu serangan cendawan Colletotrichum capsici yang menimbulkan penyakit patek alias antraknosa. Namun, sejak musim tanam 2012 hingga kini, ia optimis menanam cabai pada musim hujan. Kuncinya membentengi tanaman dari serangan patek sejak dini.

Patek berkembang pesat di lingkungan berkelembapan tinggi. Rianto mengantisipasinya dengan membuat selokan lebih lebar yakni  80 cm di lahan. Umumnya petani lain membuat selokan antarguludan selebar 50 cm. Selokan lebar menyebabkan air saat musim hujan cepat terbuang. Jarak tanam 60 cm x 60 cm terbukti tidak membuat cendawan bersarang. Satu hal penting lainnya, ia menyemprotkan fungisida secara berkala.

 

Ahmad (tengah) sukses memanen cabai keriting pada musim hujan

Ahmad (tengah) sukses memanen cabai keriting pada musim hujan

Rutin

Rianto menyemprotkan pestisida beberapa kali. Penyemprotan pertama, ketika tanaman anggota famili Solanaceae itu berumur 10 hari setelah tanam. Saat itu ia menyemprotkan fungisida pyraclostrobin dan metiram (CabrioTop) berdosis 1-1,5 kg per ha mulai umur 10 hari hingga 40 hari per 3 hari sekali. Untuk mencegah resistensi, fungisida diselang-seling dengan bahan aktif difenokonazol. Pada usia tanaman 40 hari ke atas, ia menyemprotkan Cabrio EC yang mengandung pyraclostrobin dengan dosis 400 ml per ha. Sesekali, ia mengaplikasikan CabrioTop untuk menunjang pertumbuhan tunas baru.

Bahan aktif metiram mengandung unsur seng yang berperan dalam pembentukan klorofil. ”Seng membuat pertumbuhan vegetatif tanaman lebih baik,” ungkap Muhammad Badri Wijaya, agronomis PT BASF Indonesia wilayah Malang, Pasuruan, dan Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.

Dengan cara itu, Rianto panen 1—1,3 kg cabai besar per tanaman pada musim hujan. Sebanyak 12.000 tanaman cabai di lahan 1 ha yang ditumpangsarikan dengan apel manalagi itu selamat dari patek. Yang menggembirakan harga jual cabai pada musim hujan cenderung tinggi daripada harga saat kemarau. Harap mahum, pasokan cabai saat musim hujan memang lebih rendah.

Baca juga:  Sarana Berkebun di Rumah

 

Pupuk intensif

Pekebun di Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahmad, meraih keberhasilan serupa. Ia menanam 5.000 tanaman di lahan 2.000 m2 yang menghasilkan 308 kg cabai keriting pada panen ke-10. Panen sebelumnya, ia berhasil memperoleh 227 kg. Dari 10 kali panen, Ahmad mendulang 1.052 kg atau satu ton lebih Capsicum annuum var longum. Dengan harga Rp 20.000—Rp23.000 per kg, Ahmad pantas bersorak. Sebab modal penanaman hanya Rp5.000 per tanaman.

Kunci keberhasilan Ahmad adalah pemupukan intensif (lihat infografis: Pintu Tertutup Bagi Patek). Pada pertengahan Desember 2013, hujan mulai turun. Namun, berkat ketahanan tanaman terjaga, tanaman aman dari serangan patek. Padahal, “Serangan patek bisa mencapai 100% di musim hujan,” ujar Dr Ir Suryo Wiyono MSc, peneliti di Pusat Kajian Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Menurut peneliti yang juga merangkap sebagai staf Klinik Tanaman itu, pemupukan intensif bisa mencegah patek karena menguatkan daya tahan tanaman.

Pemupukan intensif menguatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patek

Pemupukan intensif menguatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patek

Namun, ia mengingatkan penggunaan nitrogen dalam campuran pupuk NPK (nitrogen-fosfor-kalium) sebaiknya hanya 30% agar tanaman vigor  atau kuat. Kalium dan kalsium tinggi saat pembuahan juga berperan dalam ketahanan tanaman selain menggunakan varietas tahan patek. Suryo menyarankan petani sebaiknya menambahkan mikrob perangsang pertumbuhan (PGPR, plant growth promoting rhizobacteria) untuk meningkatkan ketahanan tanaman dalam air penyiraman.

“Biasanya petani malas melakukan pemupukan atau pemberian pestisida teratur,” kata Ahmad. Ahmad mengikuti saran Hudaya dan Muhidin sebagai konsultan penanaman untuk memupuk sesuai fase pertumbuhan tanaman: NPK berimbang pada masa vegetatif dan NPK dengan K tinggi pada masa generatif atau pembuahan. Meski menanam di lahan marginal pada musim hujan, Ahmad pun optimis meraih target tanam 0,5—1 kg/tanaman hingga akhir panen pada Februari 2014. Jadi menanam cabai pada musim hujan bukan lagi kendala besar. (Kiki Rizkika)

 

Pintu Tertutup Bagi Patek

Pembibitan

Baca juga:  Festival Pangan Sagu Nusantara

531_Hal_78_3

  1. Rendam benih dalam air hangat sekitar 500C selama 30 menit kemudian tiriskan.
  2. Campurkan pupuk kandang matang dan tanah berbanding 2:1. Tambahkan 10 g fungisida mankozeb 80% dan 2 g insektisida karbofuran 3% per 25 kg media tanam. Aduk rata.
  3. Isi polibag 10 cm x 12 cm dengan 200 g media tanam. Tanam satu benih cabai per polibag.
  4. Susun polibag dalam sungkup persemaian. Campurkan 0,5 ml insektisida mengandung profenofos 500 g/l dan 0,5 g fungisida mengandung mankozeb 80% per liter air. Campuran larutan 500 ml cukup untuk sekali menyemprot 10.000 polibag bibit. Semprotkan setiap 6 hari sekali. Umur 25 hari, bibit siap pindah tanam.

Persiapan Lahan dan Penanaman

531_Hal_79-2

  1. Buat guludan selebar 1,2 m, tinggi 25 cm, jarak antarguludan 50 cm.  Tebarkan pupuk kandang, aduk rata dengan tanah di guludan sebanyak 2 kg per tanaman. Seminggu kemudian, perbaiki guludan, pasang mulsa plastik hitam perak (MPHP), lalu buat lubang tanam diameter 10 cm. Jarak tanam 60 cm x 70 cm sebanyak 2 baris per mulsa.
  2. Campurkan pupuk Urea, KCl, dan SP-36 dengan perbandingan 1:2:2. Benamkan 30 g pupuk per lubang tanam. Tutup dengan lapisan tipis tanah. Diamkan 2—3 hari.
  3. Hari ke-4 tanam bibit beserta media lamanya. Siram tanaman setiap hari kecuali ketika hujan.
  4. Dua minggu setelah tanam, campurkan insektisida profenofos 500 g/l (selang-seling dengan deltametrin 25g/l) sebanyak 0,5 ml per liter air, fungisida mankozeb 80% sebanyak 0,5 g/liter air, dan pupuk daun lengkap 0,5 g/liter air. Larutan 14 liter dipakai untuk 500 tanaman.
  5. Sebulan setelah tanam, berikan pupuk NPK 15:15:15 sebanyak 5 kg per 250 liter air. Kocorkan 250 ml per tanaman di sekeliling batang 2 minggu sekali. Pada umur ini, dosis pestisida dinaikkan menjadi 0,75 g atau 0,75 ml per liter. Umur 2 bulan, 1 g atau 1 ml per liter. Umur 3 bulan sampai 7 bulan, 1,5 g atau 1,5 ml per liter.
  6. Saat tanaman berumur 2,5 bulan, berikan NPK 15:15:18 dosis 5 kg per 250 liter air. Kocorkan 250 ml per tanaman di sekeliling batang 2 minggu sekali. Total 4 kali. Saat umur tanaman 3 bulan, tambahkan fungisida propineb 70% sebanyak 1 g/liter pada larutan pestisida atau disemprot tunggal seminggu 2 kali.***

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x